Wednesday, March 20, 2013

mari menonton!

tahun dua ribu tiga belas sudah jalan seperempatnya. dan saya baru nge-blog lagi! is it a 'yeay'? no. karena rencananya dulu itu mulai ganti tahun dua ribu tiga belas mau menulis lagi. tapi..tapi..tapi..., 'kenapa baru sekarang nge-blog lagi' tidak ada gunanya juga saya bilang-bilang dan bahas di sini. akhirnya nge-blog lagi gara-gara bulan film (yang "harusnya" dirayakan melebihi kita merayakan jiffest).

awal pekan ini saya ke kineforum, mau nonton filmnya pak misbach. 'di balik tjahaya gemerlapan'. karena kebetulan (kebetulan yang menyenangkan!), saya baru selesai membaca memoarnya februari lalu.  saya ingin nonton karena judul ini saya ingat disebut di buku memoar itu. (pengen nulis tentang memoarnya juga sih, nanti ya) film yang ternyata bertabur bintang. banyak bintang terkenal yang terlibat, beberapa penyanyi terkenal tahun 60an berakting dan menyanyi juga di film itu. senang sekali rasanya melihat ketampanan dicky zulkarnain muda. juga cantik dan menariknya titiek puspa. dan kejutan munculnya lagu 'abu nawas' dari yanti bersaudara.

kemarin itu, 'di balik cahaya gemerlapan' ditayangkan di teater 1 xxi tim. sayang, kapasitas 130 kursi hanya ditontong 8 orang saja. dan di akhir film tinggal bertiga orang aja yang nonton sampai ada tulisan 'sekian'.
ah baik sekali kineforum yang sudah mengadakan acara ini. dan tetap memutar  film sesuai jadwal, berapa pun jumlah penontonnya. tapi, hei, kemana aja orang-orang? minimal mahasiswa yang kuliah di kompleks tim pada kemana? tapi yaa.. sudahlah. toh di beberapa kesempatan, tayangan program kineforum ini penuh sesak kok.

bulan film ini saya hanya "menargetkan" nonton film-film pak misbach saja. sejauh ini baru nonton 'bintang ketjil' dan 'di balik tjahaya gemerlapan'. dua-duanya punya cerita yang kuat. kalau saya ceritain, pasti pada tertarik nonton deh. ;p di film-film itu pak misbach menulis ceritanya, di yang kedua beliau bahkan menyutradarai sendiri. ada film lain yang saya  ingin tonton , seperti 'duo kribo' tapi belum tahu kesampaian atau nggak. dan sampai sekarang baru nonton tiga film. dan ketiganya benar-benar belum pernah nonton sebelumnya, baik di vcd, di tvri atau pun di tpi.

dari yang sudah saya tonton, film 'anak perawan di sarang penyamun' sih yang paling memuaskan. karena gambarnya jelas, suaranya juga. cuma ada beberapa kali film terhenti dan ada suara "anak perawan lima", "anak perawan enam". yang seperti itu nggak mengganggu lah. :) tadinya saya pikir saya nggak bakal suka film penyamun-penyamun, ternyata malah sebaliknya. termasuk film wajib tonton pokoknya!

bersyukur ada kineforum dengan program-programnya sepanjang tahun. siapa pun yang melihat program putar film mereka pasti pengen nonton semua. hanya kewajiban-kewajiban kita lah yang membatasi. kalau ada film yang pengen banget tapi belum bisa nonton, doakan saja akan tayang lagi di kesempatan berikutnya.
mari menonton!

Monday, July 02, 2012

Apotik K


Wednesday, June 06, 2012

Tentang lagu, atau apa pun itu yang tidak selesai.

Sepanjang perjalanan di kereta tadi pagi, saya memutar hanya dua lagu. Nggak ada alasan khusus kenapa cuma dua lagu, alasannya murni karena nggak sempat bikin playlist. Jadi asal comot saja sebelum kereta benar-benar jalan—dan saya perlu berpegangan pada tiang atau apapun. Lagu itu Love Me Two Times dan People Are Strange. Segera saja saya inget kamu, ma bro. Ingat beberapa tahun lalu waktu saya bawa keping bajakan semacam best of The Doors dan memberikannya ke kamu karena kamu ingin mencari sebuah lagu, yang kamu bilang dulu sering diputar seorang teman dan kamu nggak tahu judulnya, lupa liriknya, tapi lagunya masih nempel. Dan ternyata lagu itu adalah People Are Strange ya? Oh, oh, temanmu itu juga yang bikin band dengan nama The Windows? Seingat saya, cerita temanmu itu berakhir sedih.
Dua lagu itu baru beberapa hari lalu saya download, setelah sebelumnya saya kosongkan folder musik di HP—music player sudah raib dan nggak berniat beli lagi lah kecuali gen teledor bisa dihapus dari darah saya. Dan kenapa folder musik perlu dikosongkan, karena saya mau download video-video. Nonton live performance di layar 3,5 inchi itu lumayan juga lho, banyak orang berbaik hati upload video dengan resolusi bagus, jadi saya pengen nyimpen dan kalo sound-nya bagus suka saya convert juga ke MP3. Jadi ceritanya punya versi live dari beberapa lagu kesayangan, hehe.
Beberapa orang mungkin nggak suka denger lagu versi live karena tepuk tangannya mengganggu, tapi sebaliknya, saya malah suka. Apalagi kalo ada celetuk-celetuk yang manis dari si musisi atau penonton. “How many of you have got drunk tonight?”/ *suara gaduh*/ “Oh, how soooon..” Haha. Eh tapi ada yang ‘nggak banget’ juga sih, cenderung nyebelin, seperti di album KLAkustik, di lagu apa gitu, pas Katon bilang ke penonton “…untuk yang pegal-pegal badannya...” Oh man, mau pijat refleksi?
Hari-hari belakangan ini saya rajin download video live beberapa kolektif musisi. Seperti, video gig yang intim, mirip-mirip karaoke massal karena penontonnya nyanyi sepanjang lagu seperti gig The Sigit @Nanonine. Atau live performance White Shoes and the Couples Company di Jaya Pub yang ramai dengan celetuk penonton dan canda yang terlontar dari "panggung" di depan sana. Juga serunya ngikutin WSATCC jalan-jalan bareng kamera Vincent Moon, masuk gang-gang sambil bawain lagu-lagu mereka, berhenti di depan anak-anak kecil yang cakep-cakep abis mandi (“siap boy?”), terus lewat di depan barber shop, diliatin sama orang-orang yang kebingungan di depan rumah mereka dan ada juga yang manggut-manggut ngikutin beat lagu, dan oh, lagu Matahari live at warteg! Lengkap dengan adukan teh manis di awal dan ting-tang-ting sendok, garpu, mangkok, dan gelas sebagai bunyi perkusi dari John Navid. Gokil! Saya menontonnya di kereta, senyum-senyum sendiri, kadang terperangah kagum, dan tau-tau sudah waktunya turun. Sudah sampai. Perjalanan pulang terasa singkat dan menyenangkan. Ya ya ya, mungkin benar, bahagia itu sederhana.
Semalam sesampai di rumah, saya setel radio. Lagi seneng juga sama radio ini beberapa hari terakhir. Karena topik siarannya sering kali mengejutkan. Semalam doi nyiarin re-run bincang-bincang bersama salah satu penulis kesukaan, Eka Kurniawan. Eka cerita tentang awal karir kepenulisan, tentang novel Cantik Itu Luka, nostalgia gitu lah. Nggak terlalu istimewa, karena sebagian udah pernah dengar atau baca di manaa gitu. Setelah re-run bincang-bincang selesai berkumandanglah sebuah lagu yang akrab. Bukan karena sering dengar, sudah lama nggak dengar malah. Beberapa detik intro lagu mengalun, saya langsung ingat ini lagu apa. Nurlela. Entah siapa yang mendendangkan. Saya juga nggak ingat tau lagu ini pertama kali dari mana. Yang jelas lagu ini mengalun juga di rumah Gie, dalam film garapan Riri Riza.

Sunday, April 01, 2012

Setelah Urung Nonton Layar Tancep



Di sela-sela waktu menunggu nonton Si Mamad di kompleks TIM, saya melihat apa yang saya potret di atas. Semacam diskografi Teater Koma sejak berdiri sampai sekarang—saat mereka kembali mementaskan Sie Jin Kwie. Terpampang sebagai wall of fame pementasan lakon Sie Jin Kwie. Tertulis drama Karina di sana! Segera saya sadar bahwa memori kita ‘memilih’ sendiri mana yang tetap tinggal, mana yang hilang, terlupa. Waktu Karina ditayangkan di TVRI, saya masih di SD—berarti ia bagian yang tetap tinggal dalam memori otak. Dan kalau lihat tanggalnya, hmm..mungkin sepulang sekolah, siang itu di gerbang sekolah saya dengan malu-malu ( akhirnya menerima juga) ucapan selamat ultah dari seorang anak SD lain. Katakanlah, seorang teman favorit. Hehe.

Menonton drama Karina di TVRI termasuk salah satu dari beberapa cuplikan-cuplikan fragmen masa kecil yang masih saya ingat. Jika masing-masing kita ditugaskan membuat dokumenter tentang hidup keseharian kita sejak kecil hingga kini, kenangan ini ibarat footage yang terpilih untuk masuk dalam film dokumenter saya. Bapak saya sering bilang, “Nenek Papa dulu juga seneng cerita-cerita, sandiwara radio, juga siaran berita..” Menurut beliau, kebiasaan Nenek itu agak berbeda dengan nenek-nenek atau ibu-ibu yang lain di keluarga kami dalam satu rumah besar. Karena itulah bapak saya sering mengacu ke sana jika dia mendapati saya menyukai suatu drama atau film dan suka pula menceritakannya kembali dengan antusias di waktu lain jika kami sedang mengobrol-ngobrol. Mungkin dipikirnya ‘kesukaan’ itu diturunkan dari Nenek.

Kembali ke drama Karina . Hari dan tanggal tayangnya tentu saya tak ingat. Yang saya ingat,  drama itu ditayangkan malam hari, mungkin jam 9 atau jam 9.30 malam. Waktu itu di RW sebelah ada layar tancep. Dan selepas Isya, saya bersama teman-teman ada di sana mau nonton layar tancep. Oh, mungkin saya cuma berdua saja dengan Yayi (mungkin ya, karena saya nggak punya banyak teman akrab).  Filmnya apa, saya sudah tidak ingat. Zaman saya kecil, layar tancep masih sering ada. Biasanya layar tancep digelar sebagai bagian dari acara kawinan, mungkin juga sunatan. Layarnya dipasang di lapangan dan penonton berdatangan juga dari RW sebelah. Ramainya mirip pasar malam kecil, karena di sana hadir juga tukang-tukang dagang.

Saya sudah duduk di lapangan itu, beralas koran, dan filmnya baru mulai sewaktu bapak saya menepuk bahu saya dan menyuruh saya pulang. “Hei udah malam, anak perempuan masih keliaran, ayo pulang yok!”, kira-kira seperti itulah. Tapi saya menolak, kenapa juga saya menolak, saya tak ingat lagi. Mungkin juga karena senang sama film di layar tancep itu, atau lagi seneng bertemu kawan sambil nonton dan makan kacang rebus? Entahlah (dasar anak SD!). Yang jelas akhirnya saya mau pulang karena bapak saya bilang di TV sebentar lagi akan ada film drama bagus. Uhm, dulu itu sepertinya istilah ‘sinetron’ yang populer, sampai-sampai kalau TVRI ulang tahun di bulan Agustus, ada acara spesial yang namanya Sepekan Sinetron TVRI. Yang berarti dalam seminggu kita akan disuguhi sinema elektronik (kalau sekarang mungkin FTV) produksi seniman-seniman mumpuni semisal Asrul Sani bersama Sanggar Pelakon, Nano Riantiarno bersama Teater Koma, Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan lain-lain.

Sampai di rumah, setelah cuci-kaki-cuci-muka saya duduk manis di depan televisi. Mulailah drama Karina. Saya menonton sampai selesai, benar-benar menyimak, dan sangat terkesan. Kalau ditanya ceritanya bagaimana, saya nggak ingat persisnya. Yang jelas bukan cerita anak-anak, tapi toh waktu itu saya betah juga mengikuti ceritanya. Tentang rumah tangga. Tentang  seorang perempuan yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, teman-teman. Mengacuhkan keberadaan suaminya, menelantarkan keluarganya. Dilihat dari garis besar cerita, Karina  tidak terlalu istimewa. Hanya saja, dialog-dialognya saya yakin sangat menarik, meski saya tak mengingatnya secara utuh. Ada percakapan menarik antara tokoh Karina dengan pembantu rumah tangganya sebagai gambaran kecemburuan. Ada adegan lari-lari-di-hujan-lebat segala di akhir cerita, yang ternyata di kemudian hari adegan semacam ini menjadi klise. Tapi saya sangat yakin bahwa tidak ada adegan bicara-dalam-hati-yang-rasanya-lama-betul, tidak ada adegan mata-melotot-dengan-backsound-menggelegar. O ya, sebagian besar setting-nya di studio, tak ada mobil mewah, rumah mewah dengan kolam renang di dalamnya. Kekuatannya tentu pada cerita dan dialog.

Toko utama Karina diperankan oleh Ratna Riantiarno, primadona Teater Koma. Saya mengagumi akting beliau, kecantikannya dalam kesederhanaan, juga vokalnya. Sangat khas dia. Bermain di layar lebar atau layar kaca belakangan ini pun masih sangat baik. Saya dan bapak saya memang nge-fans sama Ibu Ratna. Kami nggak akan melewatkan sepekan sinetron TVRI, apalagi produksi Teater Koma. Mungkin sejak Karina, mungkin juga sebelum itu. J

Kadang-kadang suka mikir, dulu itu pas saya ngefans Ibu Ratna, teman-teman SD saya ngefans siapa ya?