Wednesday, November 05, 2008

Persepolis: One Can Forgive but One Should Never Forget


"down the shah...down the shah..!!"


Excited banget waktu Sabtu kemarin nggak sengaja nemu DVD Persepolis di Ambasador. Excited karena pertama, dulu gagal nonton film ini di Jiffest 2007. Kedua, sudah baca graphic novelnya yang bagus banget (buku keduanya belum selesai, tapi saya yakin sahabat saya yang memberikan e-book bukunya Jeng Satrapi ini juga belum tamat bacanya hehe…) jadi pengen banget nonton filmnya. Hasil download film ini yang diusahakan Maya tidak layak tonton, katanya. Gambarnya goyang dan resolusinya rendah, maka saya pun urung mendapat copy-nya. Sampai di rumah setelah setengah hari berjalan keliling dan dua kali duduk-ngobrol membuat saya tertidur waktu mencoba menontonnya malam itu juga. Tapi, hari Minggu-nya saya berhasil nonton sampai habis. Dan tentu saja melewatkan The Oprah Show yg katanya lagi bagus (wah lupa nanya lagi, bagusnya gimana).

Oke, terlalu banyak prolog nggak penting, mulai saja. Persepolis [2007] adalah sebuah film animasi dominan hitam putih, kalau tidak bisa dibilang hitam putih semua. Film ini dibuat berdasarkan graphic novel yang juga hitam putih, yang merupakan otobiografi. Di film, animasi hitam putih menggambarkan flash back cerita si narator, yakni, Marjane Satrapi (Marji), seorang perempuan Iran yang menceritakan kisah hidupnya dari masa kecil sampai dewasa, dengan latar belakang perpolitikan negerinya, dan bagaimana ia terpaksa menjadi orang asing di negeri orang.

Marji kecil anak yang cerdas. Berasal dari keluarga kelas menengah atas di Iran. Tidak digambarkan dia berlatar belakang agama apa. Tidak ada petunjuk juga bahwa keluarganya adalah muslim, Syiah, sebagaimana mayoritas orang Iran. Ayah-ibunya berasal dari kalangan intelektual tinggi, yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir, berpendapat. Dan Marji dididik dalam atmosfir ini.

Marji kecil bercita-cita menjadi Nabi dan sangat mengidolakan Bruce Lee. Dia berkata pada neneknya, jika ia nanti menjadi nabi maka “orang tua tidak akan lagi menderita”. Sang nenek menanggapinya dengan simpati, “aku akan menjadi pengikut pertamamu”. Marji senang sekali merasa mendapat dukungan. Lalu sang Nenek kembali bertanya, “bagaimana caramu membuat orang tua tidak lagi menderita?”. Marji berpikir sebentar, lantas menemukan jawabannya, “dengan melarang mereka untuk menderita, tentu saja”. Haha…so simple, cerdas bukan?

Marji kecil hidup dalam masa-masa akhir monarki di Iran. Setting cerita berawal dari tahun 1978/1979. Raja terakhir, didemo untuk turun. Melihat berita-berita demonstrasi di tv, Marji kecil pun ikut bersorak-sorak, mondar-mandir keliling ruangan, meneriakkan “turunkan shah…turunkan shah…”. Tingkahnya ini tentu saja mengundang tawa kita. Teman saya bilang, sosoknya mengingatkan kita pada konyolnya Sinchan. Marji serius, dia ingin tahu apa yang dibicarakan orang-orang dewasa dan mengapa mereka meneriakkan “turunkan shah”. Maka Marji mendaulat Paman Annoush yang baru pulang untuk menceritakannya. Marji beruntung memiliki keluarga yang memahami keingintahuannya.

Kakek Marji tidak berpolitik. Ia bahkan tidak menyetujui kebencian anaknya Annoush dan adiknya sendiri kepada monarki. Mereka ketahuan terlibat dalam gerakan menentang Shah. Adiknya tertangkap dan ditembak mati, Annoush berhasil kabur dan bersekolah di Rusia untuk mempelajari komunis. Marji bangga punya Paman Annoush yang dimatanya adalah pahlawan. Dan dengan sok tau dia memobilisasi teman-temannya untuk memusuhi seorang temannya yg ayahnya bekerja pada pemerintahan Shah yang menurut Marji telah membunuh banyak orang. Tapi setelah dinasehati ibunya, bahwa apa yang dilakukan ayah temannya itu, kalaupun salah, tidak adil jika bebannya ditimpakan pada dia, maka Marji “memaafkan” anak itu keesokan harinya. Tapi apa jawaban temannya itu? “Ayahku hanya membunuh orang-orang komunis, karena orang-orang komunis itu kejam tau!!”. Wahh…terpukul sekali dia, Marji pasti ingat Paman Annoush, pahlawannya.

Cerita bergulir, monarki sudah runtuh. Revolusi Iran, Revolusi Islam. Saya tidak begitu mengerti latar belakang sejarah soal ini. Digambarkan setelah monarki runtuh, pemerintah mewajibkan semua perempuan memakai jilbab di luar rumah, di sekolah. Di sekolah, selain wajib memakai jilbab, ada pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan. Lalu dimana Imam Khomeini? Tidak disebut-sebut dalam cerita. Yang jelas digambarkan, sejumlah razia pada pesta-pesta, alkohol disita, pelarangan-pelarangan terhadap pengaruh budaya barat. Tapi tetap saja, dimana ada pelarangan-pelarangan, dimana ada pemerintahan yang represif, maka di sana ada orang-orang yang bergerilya. Marji masih bisa mendapatkan album Iron Maiden di pasar gelap di Teheran.. Dasar Marji, bibit-bibit rebel sudah ada dari kecil (atau ini genetik? entahlah), Marji remaja pun nekat memakai jaket bahan jeans yang belakangnya ditulisi dengan “Punk Is Not Dead” dan memakai pin bergambar Michael Jackson. Karena itulah ia nyaris ditangkap dua orang polwan berjilbab, tapi berhasil lolos setelah berbohong.

Film animasi seringkali identik dengan film untuk anak-anak. Persepolis bukan film anak-anak. Ini film biografi dengan setting kondisi politik di Iran, yang bisa jadi subyektif dari sudut pandang seorang Marjane Satrapi. Kita mungkin perlu membaca lebih banyak sumber untuk menilai benarkah Iran seburuk seperti yang digambarkan Marji. Marji mengungkapkan apa yang pernah dialaminya menghadapi kaum ekstrim negerinya. Benarkah Revolusi Iran hanya menyisakan sifat represif dan tidak memberi kemajuan apapun? Setiap pemerintahan pasti ada baik dan buruknya, disatu sisi dikecam, disisi lain dipuja.

Diperlihatkan di film, kepala sekolah berusaha menciptakan opini yang baik tentang rezim baru (saya lupa topik apa yg dibicarakan kepala sekolah dalam ceramahnya. Duh, penyakit lupa ini semakin serius nampaknya akhir-akhir ini. Kemarin lusa saya lupa membelikan Cappucino Ice Blended titipan teman dari kantin, padahal saya juga memesan kopi di sana. Parah betul.). Sebagai orang yang dididik dalam kebebasan berpendapat, dan memiliki pengetahuan lebih, Marji mendebat sang kepala sekolah secara frontal di depan kelas. Hal ini dianggap tindakan keterlaluan oleh pihak sekolah. Mama marah pada Marji. Bukan karena tidak suka, tapi lebih kepada ketakutan Mama jika Marji sampai dihukum mati karena dianggap melawan rezim, seperti Paman Annoush, Mama bilang,
“Undang-undang tidak mengizinkan mengeksekusi seorang gadis. Tapi kamu tahu, mereka bisa saja menyiapkan sukarelawan yang akan menikahimu dan mengambil perawanmu supaya mereka bisa mengeksekusimu. Mengerti?!”. Akhirnya Mama merelakan Marji untuk sekolah di luar negeri. Berangkatlah ia ke Vienna, Austria mengecap sebagian masa remajanya di sana.

Meski banyak adegan-adegan lucu, film ini tidaklah bermaksud untuk menjadi film komedi. Marji yang orang Iran sering mendapati orang takjub saat dia mengatakan asal negerinya. Juga saat mereka tahu bahwa Marji berasal dari negara yang saat itu sedang berperang (Perang Iran-Irak). “Kamu pernah melihat perang? Kamu melihat sendiri banyak orang-orang mati? Wow..Cool…” Di sinilah Marji mulai bergaul dengan anak-anak punk, mulai suka pesta, mulai kenal laki-laki dan mulai jatuh cinta dengan salah satu dari mereka, yang ternyata gay. Yeah, kecewa. Marji lalu jatuh cinta lagi dengan seorang penulis. Benar-benar jatuh cinta. Dan dikhianati. Patah hati. Benar-benar patah hati. Depresi. Pergi dari kos dan hidup menggelandang di jalan. Depresi. Kehilangan orientasi. Waktu itu musim dingin dan ia terserang bronchitis. Hampir mati, lalu terbangun di rumah sakit.

Pulang dengan mengajukan syarat tak ingin ditanya apa-apa, Marji diterima dengan baik oleh ayah, ibu, dan neneknya. Marji masih belum bisa melakukan apa pun. Ke psikiater ia menyembuhkan diri. Setelah sekian lama akhirnya memutuskan kuliah dan menikah dengan orang yang belum terlalu dikenalnya diumur 21, Marji pun bercerai. Pernikahan tidak membahagiakannya. Mama prihatin. Tak ada yang bisa ia lakukan jika tetap di Teheran. Keadaan politik pun tidak kondusif untuk sifatnya yang intolerant terhadap sesuatu yang tidak sesuai prinsipnya. Akhirnya Marji memutuskan untuk kembali keluar dari Iran mencari kemerdekaannya, kebahagiaannya, meski ia tahu semua ini HARUS dibayar mahal: Neneknya meninggal tak lama setelah ia tiba di rantau orang.

Nonton film dan atau membaca Persepolis membuat kita tertawa sepanjang cerita, tetapi juga menyisakan sebuah perenungan yang panjang. Bahwa masih saja ada tindakan-tindakan represif oleh rezim di berbagai belahan dunia saat ini. Dan bahkan ada yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki wewenang sekalipun dalam kekuasaan resmi. Marjane bilang dalam pengantar bukunya, bahwa ia tidak ingin mereka yang pernah dipenjara karena mempertahankan kemerdekaan atau mereka yang terpaksa pergi meninggalkan negerinya demi kebebasan menjadi begitu saja dilupakan. Orang boleh memaafkan, tetapi jangan pernah melupakan, karena itulah ia menuliskan kisahnya dalam Persepolis.

No comments: