Beberapa hari terakhir ini saya membaca lagi Soe Hok Gie. Bolak-balik antara bukunya John Maxwell dan catatan hariannya. Membaca John Maxwell tentang Soe Hok Gie membantu saya memahami apa yang telah saya baca di catatan harian beliau. Yang jelas perasaan saya diselubungi keharuan. Kesedihannya saat dia menyadari hari2 terakhirnya sebagai mahasiswa, saat dia merasa semakin terasing dari kawan2, kehampaan yang dia rasakan saat putus dengan gadis yang dia cintai. Semua kesedihan itu seolah datang pada saya juga.
Saya selalu begini setiap membaca suatu kisah sedih, biografi ataupun novel, real ataupun fiksi. Membaca ulang Hok Gie membuat saya berpikir, kenapa dulu saya begitu menyia-nyiakan masa kehidupan di kampus. Padahal kampus adalah tempat yang ideal untuk mengembangkan diri, mengasah kemampuan berbicara mengemukakan pendapat, menulis secara sistematis, mengamati politik (untuk yang terakhir ini saya agak lumayan siy…), berorganisasi, dan menemukan jodoh (hehe..termasuk ya?). Pesta, Buku, Cinta.
Berulang kali Hok Gie seperti putus asa dengan apa yang dia lakukan, mengkritik pemerintah dengan tulisan2nya tetapi perbaikan tak kunjung terlihat. Terkadang dia juga kecewa dengan orang2 yang pernah dikaguminya di masa lalu. Dia pernah kecewa dengan Mochtar Lubis soal sikapnya terhadap tahanan2 PKI, padahal waktu Mochtar dipenjara dia pernah dibela Pram, katanya. Tapi PK Oyong menasehatinya, bahwa “Mochtar pernah mengalami langsung kekejaman PKI sehingga sikapnya bisa dimengerti, lagipula tentu kau akan berpikiran sama dengannya jika umurmu telah lewat 50 tahun”. Tetapi dia sudah berjanji pada dirinya bahwa ia telah memilih menjadi idealis sejak lama dan ia berharap ia akan tetap idealis sampai batas yang seluas-luasnya. Dia akan terus meyakini satu sikap yang dia anggap benar. Lebih baik diasingkan daripada hidup dalam kemunafikan.
Di sekolah, Hok Gie adalah aktivis. Dia pernah menjabat ketua senat FSUI periode 1967-1968. Dia pendiri grup diskusi di UI. Dia dan sebagian besar teman2nya di sastra dan psikologi beraliran independen, dalam arti tidak berafiliasi pada ormas di luar kampus. Dia mempunyai kelompok yang sering disebutnya grup Alma Mater (inner group-nya Hok Gie). Selain itu di sastra ada juga grup yang mereka sebut grup kapal selam. Grup yang dimaksud ini adalah grup2 informal, semacam gank (tapi ini konotasinya tidak negatif). Saya jadi teringat kampus saya dulu. Ada genk café, musola, balsem,dll dimana genk2 ini mempunyai aspirasi politik yang berbeda. Ini bisa terlihat jelas saat ada peristiwa politik di kampus kami, semisal pemilihan ketua senat baru yang memunculkan kubu2.
Soe Hok Gie bercerita tentang ceramahnya di depan mahasiswa baru. Ia mengatakan, jangan bergabung dengan organisasi apapun di kampus sebelum kalian benar2 mengenalnya, tahu tujuannya. Waktu itu ada analisis bahwa pemerintah soeharto adalah pemerintahan koalisi ABRI-UI. Ini bisa dibilang rahmat sekaligus bumerang buat UI. Karna para oportunis akan berpikir, siapa yang berani berkoar sehingga punya nama di kampus akan mempunyai karier di pemerintahan masa yang akan datang. Oleh karena itu banyak ormas maupun partai yang ingin memanfaatkan UI sebagai tempat berkiprah. Saya jadi ingat para aktivis di kampus saya dulu yang pernah berbicara yang intinya kurang lebih sama saat masa orientasi kami sebagai mahasiswa baru. Si A bilang, “kalau kalian lihat FISIP, sama dengan kalian melihat Indonesia”. Indonesia punya bermacam suku bangsa, beragam agama, dan aliran2. Demikian juga di FISIP, ada banyak aliran2, baik aliran2 politik ataupun agama (belakangan saya juga tahu/ mengenal beberapa mahasiswa yang cenderung pada atheisme, bebas nilai). A juga bilang, adanya banyak aliran2 ini jangan membuat kalian takut, sehingga membuat kalian menjauh, tidak mau tahu, dan akhirnya jadi apatis. Amati dulu, kenali dulu, jika kalian sudah tahu silakan untuk bergabung dengan yang mana.
Si B lain lagi, dia menyoroti pada sikap kami mahasiswa baru, jangan menjadi sok tahu dan sombong, yang merupakan efek euforia setelah mendapat status baru sebagai Mahasiswa UI (kami juga dilarang memakai jaket kuning di luar lingkungan UI). Dia juga menekankan, jangan underestimate melihat orang lain. Jangan menilai orang dari fisiknya, gaya hidupnya, ataupun aliran politiknya, sehingga jadi apriori terhadap seseorang, tapi lihatlah otaknya, cara berpikirnya, prestasinya. Ini seperti menyindir saya. Saya memang pernah bertanya-tanya melihat beberapa senior2 saya panitia OPT, apakah mereka orang2 yang patut saya beri respek, saya belumlah mengenal mereka dalam keseharian, saya belum saatnya menilai.
Dan seorang senior dari jurusan yang sama dengan saya, mengetengahkan konsep “shock culture” dalam ceramahnya di OPT tersebut. Dia menjawab kegelisahan saya waktu itu (perasaan memasuki lingkungan yang salah). Dia bilang, setiap kita memasuki lingkungan baru, kita pasti merasa kehilangan sesuatu dan mengalami suatu hantaman oleh sesuatu. Dan sesuatu itu adalah culture. Culture adalah budaya yang selama ini kita anut, kebiasaan yang selama ini kita jalani, gaya hidup teman2 di lingkungan kita, dll yang tiba2 berubah. Kita butuh penyesuaian2. Jangan kita bertahan oleh budaya lama kita yang ternyata tidak cocok di terapkan di lingkungan baru. Kita tidak boleh underestimate pada diri sendiri ataupun orang lain, karna inilah faktor yang menghambat adaptasi kita pada lingkungan baru.
Yah… kata2 mereka meringankan kegelisahan saya waktu itu. Dan mereka adalah orang-orang pertama yang saya kagumi di awal kehidupan kampus. Kata-kata mereka menjadi bekal berharga buat saya sebagai mahasiswa baru dan juga sampai saat ini saat membaca dan memandang konflik sosial yang terjadi di sekeliling. Pada orang2 ini saya respek, walaupun mereka punya “pandangan politik” yang berbeda dengan saya. Saya membayangkan jika mereka hidup zaman angkatan ’66, mereka mungkin inner group Soe. Bung, terima kasih banyak, Anda semua pahlawan saya.
No comments:
Post a Comment