Aku sudah ngantuk tapi otak melayang nggak menentu
Aku bangun lagi dan bakar rokok...
[Mau (Beli) Tidur, Slank, 2006]
Kadang saya merasa aneh dengan Rasa Lelah. Ia bisa membuat kamu tertidur lelap begitu saja, kapan, dan dimana saja. Tapi ia bisa juga membuat kamu terjaga sampai malam begini. Ini pasti karena lelah yang bukan fisik. Seperti penggambaran lagu Slank di atas. Lelah, ingin tidur, tapi otak malah melayang kemana-mana. Tapi yang saya lakukan bukanlah beranjak dan bakar rokok, melainkan mandi. Dengan mandi saya berharap lelah pikiran terkikis bersama kucuran air dingin dari pancuran di kamar mandi. Pancuran? Ah ya, seperti di rumah Paman Doblang di desa. Itu pun yang ada dalam khayalan. Karena saya belum pernah ke sana.
Saya merasa lelah seharian ini, entah karena apa. Dan sekarang malah jadi susah tidur.
Aku tidak bisa tidur!
Orang ngomong, anjing ngonggong
Dunia jauh mengabur…*
Bukan karena kegaduhan di rumah, atau ada anjing menggonggong di jalan. Bukan karena itu, Om Chairil! Mungkin karena beban kerja yang terasa nggak adil. Mungkin hanya saya saja yang tidak taktis mengatur waktu. Atau mungkin saya yang tidak layak menyandang tugas. Sehingga ketika saya gagal melakukannya, rasanya pride saya sebagai manusia menjadi perlu dipertanyakan, oleh diri saya sendiri tentu saja. Sebab Bung Rendra pernah bilang,
Kita menyandang tugas,
karna tugas adalah tugas.
Bukan demi sorga atau neraka.
Tapi demi kehormatan seorang manusia.**
Timbul rasa ragu pada kemampuan saya. Otak ini terasa lamban sekali bekerja. Dan hal seperti ini pernah terjadi dulu sekali, saat saya masih di kampus, saat otak kanan tergiur untuk melakukan perjalanan ke ranah yang lebih menarik, asing namun memberi rasa betah, sebuah negeri indah singgasana kata-kata. Membuat saya menjauh dari segala yang berbau rasio dan menelantarkannya.
Tapi apakah itu yang menjadi pikiran saya. Nggak jelas juga saya sedang memikirkan apa. Dan apakah itu semua pantas menjadi suatu deret panjang yang melakukan long march di benak ini. Mondar-mandir tak tentu dan tak tahu ingin menuntut apa dariku. Dan apakah saya memang menyesali janji yang saya buat sehari sebelumnya. Atau menyesal terlalu banyak ngomongin orang. “Hanya melepaskan uneg-uneg” kata saya, berdalih. Dan saya jadi mudah kesal. Entah kenapa menjadi sebal melihat reaksi seseorang yang berlebihan atas sesuatu-yang-sebenarnya-biasa-biasa-saja. Oh, that’s overwhelmed, honey…, sungguh!
Saya belum tidur juga.
Teringat obrolan-obrolan di waktu-waktu lalu yang santai namun berharga, juga diskusi-diskusi serius di tempat makan, ataupun di telpon. Saya berharap akan selalu ada sesi-sesi berikutnya. Merasa nggak enak akan kebaikan seorang teman. You shouldn’t do this kind of thing to me. I’m not that good as a friend. Sempat harap-harap cemas semoga tidak tertinggal kereta jam 20.10. Berhasil duduk di salah satu gerbongnya, lalu mendengarkan lagi Norah Jones dan teringat lagi angan-angan tentang New York, dan tentu saja teringat pembicaraan-pembicaraan itu lagi. Kenapa New York? Ada sesuatu yang bisa dibagi?
Dan film-film itu lagi, Woody Allen’s Annie Hall, Melinda Melinda, dan Mad Dog and Glory, juga When Harry Met Sally, 25th Hour, Reign Over Me, dan Mr.Adam Sandler yang ternyata tidak se-cetek yang kamu kira. Rendra kenyang banget tuh di New York. Ya, saya tahu dia pernah sekolah di sana di tahun ’60-an, maka lahirlah Blues Untuk Bonnie , yang kamu pernah pinjam lagi dari saya karena “pengen baca lagi” dan “I just wanna try New York” kata Jesse di Before Sunset. Dan Ethan Hawke bilang “If someone wants to call me, they call New York City”—The Hottest State, what so called semi autobiography.
Ngomong-ngomong, Rangga masih di New York nggak ya? Dari tahun 2002 kan? Ohh…justru Dek Nico yang lagi di sana, dan beberapa waktu lalu mampir ke Jakarta untuk shooting video klipnya Maia. Sudah soal New York-nya?…apa? Ada satu lagi? Apa?, Englishman in New York. Oh, Mr. Sting! Just wait for me to explore you. Not now, I’m too tired. Tapi jangan khawatir, saya pasti akan menyediakan waktu untuk Anda. I don’t drink coffee, I take tea my dear… Tapi saya minum dua-duanya, Bos. Nggak papa kan?
Dan saya belum juga tertidur, mata belum mau menutup. Baiklah, baiklah, lanjutkan saja.
Ngapain aja ya seharian tadi? Well, saya nyuekin email sahabat “kapan nih mie aceh Pidie 2000?” Sungguh, saya ingin membalas. Tapi nggak sempat, dan saya belum bisa pastikan tanggalnya, nanti kamu marah lagi…
Dan kemarin keluar kantor langit sudah gelap. Menengok ke atas, waw…ada bulan sabit!! Lalu menyapa teman-teman, “hei …lihaaat…bulan sabitnya bagus deh…” Nggak penting. Dan sebagian diam saja. Ahh…biasa. Hei, ternyata ada yang terpancing lalu membuat puisi. Puisi kamu boleh juga, dan silakan dilanjutkan. Lalu inget reply itu lagi, “Terima kasih. Kamu liat saya lagi dadah-dadah? Kebetulan saya lagi di bulan”. Ah, old days…sudah basi. "This is funny", you said?
Malas mikirin soal itu, yang lain ajalah...
Ya, tadi sempat kaget, kenapa Mr.Sting tiba-tiba berhenti bernyanyi? Ohh…ternyata pause-button-nya kepencet waktu tadi berjibaku menembus serbuan orang-orang di pintu kereta waktu turun. Lalu duduk di angkot, dan mengetik sms-sms balasan. Sudah malam, mungkin mereka tidak membutuhkan sms balasanmu. Tapi tetap saja, message sent, message delivered. Selesai. Tapi ada lagi yang memancing emosi. Ibu-ibu di sebelah nyebelin deh. Sudahlah nggak usah tanya kenapa seperti iklan rokok itu. Saya ingin cepat sampai rumah. Mungkin bantal akan menetralkan apa yang berkecamuk di dalam sini. Dan akhirnya sampai di gang deket rumah, nengok ke atas lagi, apakah bulan sabit yang kemarin masih ada? Wah, udah jadi Bulan-separuh rupanya.
Dan Norah Jones lagi yang mengalun di kuping dalam langkah-langkah menyururi gang menuju rumah, itu berarti playlist I dream of New York sudah kembali ke awal. Kali ini malah teringat Ally McBeal, New York lagi… kesepian Ally yang itu-itu lagi, dan kadang become real, here, to me. Teringat lagi sms sahabat, pembicaraan soal Takdir yang aarrghh…seperti sebuah repetisi yang tak kunjung usai. Hei, bukankah kita pernah bicara soal ini di telpon, di email, di sms, di tempat makan, di taxi, di mana-mana. Dan saya, masih berpegang pada penjelasan Bang Imad, ya, kamu meyebutnya Guru Spiritual Kita.***
Ayo dong tidur, lalu tutup matamu! Eh, terbalik ya?
Sampai rumah denger Efek Rumah Kaca, sambil membaca lagi review seorang teman tentang album mereka. Hei, kamu kelihatannya lebih sibuk daripada kami sekarang. Dan masih saja malas me-reply sms. Teman-teman di kantor mulai ngeh dengan lagu-lagu ERK, tapi tetap belum bisa menikmati. Teman saya yang lain bilang, "...belum, belum bisa nikmatin, selera kita beda, beb.." Belum atau tidak mau? Nggak penting juga. Snap. Pilihan tontonan tv cuma Empat Mata di jam segini. Dan sebeell.. banget, produsernya masih saja mengundang orang-orang nggak ngetop dan nggak penting tapi mengaku-dan-berlagak sebaliknya. Malah jadi nggak lucu.
Program TV yang asik belakangan ini buat saya adalah Apa Kabar Indonesia Malam. Biasanya saya tonton kalau pulang agak malam. Begitu masuk rumah, acara ini baru saja dimulai. Walaupun suka nonton Nona itu membawakan acara, tapi saya masih saja risih pas beliau menyanyi (bukan main piano lho…, tapi menyanyi!!) Plis deh…jangan semua lahan mau kamu ambil, Saudari. Dan kenapa sih nama kamu nggak secerdas dan se-elegan gayamu? Kamu boleh pinjam namaku kalau mau, kedengerannya bakal lebih representatif. Uh…narsis. Maaf, sering berteman dengan orang-orang seperti ini, tidak heran jika saya turut terinfeksi.
Lebih baik kita sudahi saja.
Ya..ya..saya tidak ingin terus meracau. Kalau saya terus menulis mungkin pikiran ini akan terus kemana-mana, merambah ke pulau-pulau masa lalu. Kalau ia berdiam di fase yang indah-indah tentu saya akan gembira jika ia hadir dalam mimpi di tidur saya. Tapi kalau ia berdiam dan melayang-layang dalam zona yang pathetic, saya khawatir bakal nggak tidur sampai subuh nanti. Dan terus bertanya kenapa, kenapa, kenapa, dan berbisik “…if I could just go back…” seperti Tom Ripley, kamu bilang?
Saya mau tidur. Terserah, orang ngomong, anjing ngonggong, dan dunia jauh mengabur sekalipun, dan kamu masih bernyanyi….Ya, saya ingin Anda terus bernyanyi, Mr.Sting,
Like those who curse their luck in too many places
And those who fear are lost
…
I’m not a man of too many faces…
The mask I wear is one.
FADE OUT.
*Sajak Seorang Tua untuk Istrinya, Rendra.
**Kesabaran, Chairil Anwar, 1943.
***Dan beliau sudah almarhum awal Agustus lalu, waktu kamu mengabarinya, saya lagi dalam perjalanan ke Manggala. Dan kita jadi lupa membahasnya. Habis belakangan ini kamu jarang telpon.
Saya merasa lelah seharian ini, entah karena apa. Dan sekarang malah jadi susah tidur.
Aku tidak bisa tidur!
Orang ngomong, anjing ngonggong
Dunia jauh mengabur…*
Bukan karena kegaduhan di rumah, atau ada anjing menggonggong di jalan. Bukan karena itu, Om Chairil! Mungkin karena beban kerja yang terasa nggak adil. Mungkin hanya saya saja yang tidak taktis mengatur waktu. Atau mungkin saya yang tidak layak menyandang tugas. Sehingga ketika saya gagal melakukannya, rasanya pride saya sebagai manusia menjadi perlu dipertanyakan, oleh diri saya sendiri tentu saja. Sebab Bung Rendra pernah bilang,
Kita menyandang tugas,
karna tugas adalah tugas.
Bukan demi sorga atau neraka.
Tapi demi kehormatan seorang manusia.**
Timbul rasa ragu pada kemampuan saya. Otak ini terasa lamban sekali bekerja. Dan hal seperti ini pernah terjadi dulu sekali, saat saya masih di kampus, saat otak kanan tergiur untuk melakukan perjalanan ke ranah yang lebih menarik, asing namun memberi rasa betah, sebuah negeri indah singgasana kata-kata. Membuat saya menjauh dari segala yang berbau rasio dan menelantarkannya.
Tapi apakah itu yang menjadi pikiran saya. Nggak jelas juga saya sedang memikirkan apa. Dan apakah itu semua pantas menjadi suatu deret panjang yang melakukan long march di benak ini. Mondar-mandir tak tentu dan tak tahu ingin menuntut apa dariku. Dan apakah saya memang menyesali janji yang saya buat sehari sebelumnya. Atau menyesal terlalu banyak ngomongin orang. “Hanya melepaskan uneg-uneg” kata saya, berdalih. Dan saya jadi mudah kesal. Entah kenapa menjadi sebal melihat reaksi seseorang yang berlebihan atas sesuatu-yang-sebenarnya-biasa-biasa-saja. Oh, that’s overwhelmed, honey…, sungguh!
Saya belum tidur juga.
Teringat obrolan-obrolan di waktu-waktu lalu yang santai namun berharga, juga diskusi-diskusi serius di tempat makan, ataupun di telpon. Saya berharap akan selalu ada sesi-sesi berikutnya. Merasa nggak enak akan kebaikan seorang teman. You shouldn’t do this kind of thing to me. I’m not that good as a friend. Sempat harap-harap cemas semoga tidak tertinggal kereta jam 20.10. Berhasil duduk di salah satu gerbongnya, lalu mendengarkan lagi Norah Jones dan teringat lagi angan-angan tentang New York, dan tentu saja teringat pembicaraan-pembicaraan itu lagi. Kenapa New York? Ada sesuatu yang bisa dibagi?
Dan film-film itu lagi, Woody Allen’s Annie Hall, Melinda Melinda, dan Mad Dog and Glory, juga When Harry Met Sally, 25th Hour, Reign Over Me, dan Mr.Adam Sandler yang ternyata tidak se-cetek yang kamu kira. Rendra kenyang banget tuh di New York. Ya, saya tahu dia pernah sekolah di sana di tahun ’60-an, maka lahirlah Blues Untuk Bonnie , yang kamu pernah pinjam lagi dari saya karena “pengen baca lagi” dan “I just wanna try New York” kata Jesse di Before Sunset. Dan Ethan Hawke bilang “If someone wants to call me, they call New York City”—The Hottest State, what so called semi autobiography.
Ngomong-ngomong, Rangga masih di New York nggak ya? Dari tahun 2002 kan? Ohh…justru Dek Nico yang lagi di sana, dan beberapa waktu lalu mampir ke Jakarta untuk shooting video klipnya Maia. Sudah soal New York-nya?…apa? Ada satu lagi? Apa?, Englishman in New York. Oh, Mr. Sting! Just wait for me to explore you. Not now, I’m too tired. Tapi jangan khawatir, saya pasti akan menyediakan waktu untuk Anda. I don’t drink coffee, I take tea my dear… Tapi saya minum dua-duanya, Bos. Nggak papa kan?
Dan saya belum juga tertidur, mata belum mau menutup. Baiklah, baiklah, lanjutkan saja.
Ngapain aja ya seharian tadi? Well, saya nyuekin email sahabat “kapan nih mie aceh Pidie 2000?” Sungguh, saya ingin membalas. Tapi nggak sempat, dan saya belum bisa pastikan tanggalnya, nanti kamu marah lagi…
Dan kemarin keluar kantor langit sudah gelap. Menengok ke atas, waw…ada bulan sabit!! Lalu menyapa teman-teman, “hei …lihaaat…bulan sabitnya bagus deh…” Nggak penting. Dan sebagian diam saja. Ahh…biasa. Hei, ternyata ada yang terpancing lalu membuat puisi. Puisi kamu boleh juga, dan silakan dilanjutkan. Lalu inget reply itu lagi, “Terima kasih. Kamu liat saya lagi dadah-dadah? Kebetulan saya lagi di bulan”. Ah, old days…sudah basi. "This is funny", you said?
Malas mikirin soal itu, yang lain ajalah...
Ya, tadi sempat kaget, kenapa Mr.Sting tiba-tiba berhenti bernyanyi? Ohh…ternyata pause-button-nya kepencet waktu tadi berjibaku menembus serbuan orang-orang di pintu kereta waktu turun. Lalu duduk di angkot, dan mengetik sms-sms balasan. Sudah malam, mungkin mereka tidak membutuhkan sms balasanmu. Tapi tetap saja, message sent, message delivered. Selesai. Tapi ada lagi yang memancing emosi. Ibu-ibu di sebelah nyebelin deh. Sudahlah nggak usah tanya kenapa seperti iklan rokok itu. Saya ingin cepat sampai rumah. Mungkin bantal akan menetralkan apa yang berkecamuk di dalam sini. Dan akhirnya sampai di gang deket rumah, nengok ke atas lagi, apakah bulan sabit yang kemarin masih ada? Wah, udah jadi Bulan-separuh rupanya.
Dan Norah Jones lagi yang mengalun di kuping dalam langkah-langkah menyururi gang menuju rumah, itu berarti playlist I dream of New York sudah kembali ke awal. Kali ini malah teringat Ally McBeal, New York lagi… kesepian Ally yang itu-itu lagi, dan kadang become real, here, to me. Teringat lagi sms sahabat, pembicaraan soal Takdir yang aarrghh…seperti sebuah repetisi yang tak kunjung usai. Hei, bukankah kita pernah bicara soal ini di telpon, di email, di sms, di tempat makan, di taxi, di mana-mana. Dan saya, masih berpegang pada penjelasan Bang Imad, ya, kamu meyebutnya Guru Spiritual Kita.***
Ayo dong tidur, lalu tutup matamu! Eh, terbalik ya?
Sampai rumah denger Efek Rumah Kaca, sambil membaca lagi review seorang teman tentang album mereka. Hei, kamu kelihatannya lebih sibuk daripada kami sekarang. Dan masih saja malas me-reply sms. Teman-teman di kantor mulai ngeh dengan lagu-lagu ERK, tapi tetap belum bisa menikmati. Teman saya yang lain bilang, "...belum, belum bisa nikmatin, selera kita beda, beb.." Belum atau tidak mau? Nggak penting juga. Snap. Pilihan tontonan tv cuma Empat Mata di jam segini. Dan sebeell.. banget, produsernya masih saja mengundang orang-orang nggak ngetop dan nggak penting tapi mengaku-dan-berlagak sebaliknya. Malah jadi nggak lucu.
Program TV yang asik belakangan ini buat saya adalah Apa Kabar Indonesia Malam. Biasanya saya tonton kalau pulang agak malam. Begitu masuk rumah, acara ini baru saja dimulai. Walaupun suka nonton Nona itu membawakan acara, tapi saya masih saja risih pas beliau menyanyi (bukan main piano lho…, tapi menyanyi!!) Plis deh…jangan semua lahan mau kamu ambil, Saudari. Dan kenapa sih nama kamu nggak secerdas dan se-elegan gayamu? Kamu boleh pinjam namaku kalau mau, kedengerannya bakal lebih representatif. Uh…narsis. Maaf, sering berteman dengan orang-orang seperti ini, tidak heran jika saya turut terinfeksi.
Lebih baik kita sudahi saja.
Ya..ya..saya tidak ingin terus meracau. Kalau saya terus menulis mungkin pikiran ini akan terus kemana-mana, merambah ke pulau-pulau masa lalu. Kalau ia berdiam di fase yang indah-indah tentu saya akan gembira jika ia hadir dalam mimpi di tidur saya. Tapi kalau ia berdiam dan melayang-layang dalam zona yang pathetic, saya khawatir bakal nggak tidur sampai subuh nanti. Dan terus bertanya kenapa, kenapa, kenapa, dan berbisik “…if I could just go back…” seperti Tom Ripley, kamu bilang?
Saya mau tidur. Terserah, orang ngomong, anjing ngonggong, dan dunia jauh mengabur sekalipun, dan kamu masih bernyanyi….Ya, saya ingin Anda terus bernyanyi, Mr.Sting,
Like those who curse their luck in too many places
And those who fear are lost
…
I’m not a man of too many faces…
The mask I wear is one.
FADE OUT.
*Sajak Seorang Tua untuk Istrinya, Rendra.
**Kesabaran, Chairil Anwar, 1943.
***Dan beliau sudah almarhum awal Agustus lalu, waktu kamu mengabarinya, saya lagi dalam perjalanan ke Manggala. Dan kita jadi lupa membahasnya. Habis belakangan ini kamu jarang telpon.
NB. Racauan di suatu malam di bulan Juli, saat saya merasa gagal, dan jam menunjuk angka 23.34.
No comments:
Post a Comment