Friday, August 22, 2008

Kemarin Pagi Saya Terkesima Pada Sebuah Lagu

To those who told me to listen to Mr. Sting, I gratefully say: thank you very much.

Kemarin pagi* saya terkesima pada sebuah lagu. Tidak, lagu ini bukan untuk pertama kali saya dengar. Sudah sering, tapi sambil lalu saja. Tidak pernah benar-benar mendengarkan. Kemarin pagi itu saya mendengarnya lagi saat saya di angkot. Dan kali itu saya mendengarnya sambil menyimak liriknya. Print out lirik itu peninggalan teman-saya.

Damn! Bagus buangett liriknya…

He deals the cards as meditation
And those he plays never suspect
He doesn’t play for the money he wins
He doesn’t play for respects

He deals the cards to find the answer
The sacred geometry of chance
The hidden law of probable outcome
The number leads a dance



Deskripsi kesepian yang luar biasa. Seseorang yang dalam ‘sepi’-nya menemukan dirinya bermeditasi dengan mengocok kartu—sebuah aktivitas ‘permenungan’ untuk mencari jawaban. Dia bermain kartu tanpa tujuan—bukan untuk uang, bukan pula mengharap respek, tapi sekedar bermain-main dengan teori kemungkinan, misteri suatu kesempatan, wah…agak susah menerjemahkannya dalam bahasa kita. But, I do know what you want to say, Mr. Sting. I can feel it, dan mata ini tiba-tiba terasa menghangat, dan mulai berkaca-kaca. Tapi harus ditahan jangan sampai meluap dan menetes, ini di angkot!

I know that the spades are swords of soldier
I know that the clubs are weapons of war
I know that diamonds mean money for this art
But that’s not the shape of my heart



And if I told you that I loved you
You’d may be think there’s something wrong
I’m not a man of too many faces
The mask I wear is one


Si Aku mencintai seseorang. Ia yakin ide ini absurd buat orang itu. Ia akan dianggap aneh. You’d may be think there’s something wrong. Tapi, Ia nggak bisa berkata lain, he’s not a man of too many faces, ia cuma jujur dengan perasaannya kok…dan orang lain nggak ngerti apa-apa:

Those who speak know nothing
And find out to their cost
Like those who curse their luck in too many places
And those who fear are lost


Baginya, mereka yang takut untuk jujur soal perasaan akan tersesat.

Yah…kira-kira begitulah interpretasi kasar dari saya—yang nota bene baru mendengarkan “Shape of My Heart” dalam hitungan 10 jari bolak-balik, dan belum mengecek ulang satu kata pun di kamus. Perihal Sting-yang-menulis-lirik-sangat-puitis ini, saya baru mengerti sekarang kenapa teman saya sampe pernah bilang “kadang otak gue nggak nyampe untuk memahami maknanya”. Hmm…bener juga. Saya rasa Katon Bagaskara masih kalah. Dan saya tahu, teman-saya-yang-lain pasti akan dengan amat sangat cepat bilang “ya jelas lah!” sebelum saya menyelesaikan kalimat. Lalu akan ada bla-bla-bla panjang soal ‘bahasa musik’, apresiasi masyarakat d-u-n-i-a dan-sebagainya-dan-sebagainya. Hei, saya lagi ngomongin lirik kalee…
L-I-R-I-K!!. Saya percaya, jika bahasa kita dimengerti sebagaimana bahasa inggris dimengerti dunia, lirik-lirik Beatles akan terasa kalah jauh dibanding lirik-lirik Dewa19, misalnya, (ini di luar trend zaman—dalam penulisan lirik—sebagai komponen analisa, Beatles dan Dewa19 jelas beda zaman kan…). Dan saya tahu kamu pasti bakal nggak terima, dan obrolan kita bakal jadi debat kusir yang menjengkelkan.

Well, saya mendengarkan Sting ada story behind story nih. Terpaksa saya harus mengakui saya mulai mendengarkan Sting atas dasar promosi kalian. Ya kalian, kamu dan kamu, teman-teman saya. Entah siapa dari kalian yang lebih dulu meyampaikan ide. Teman-saya-yang-lain bilang di suatu obrolan, “…coba lo dengerin Sting deh. Sting lho, bukan The Police.” Teman-saya juga pernah bilang, “kapan-kapan lo harus coba dengerin solo-nya Sting, buat alternatif” Wah, dua orang menyampaikan ide yang sama, di waktu yang berdekatan. Saya jadi bertanya-tanya, se-keren apa sih Mr.Sting ini?

Waktu itu saya masih norak banget sama koleksi baru saya atas kebaikan Maya, Antology Nina Simone, lengkap! Saya lagi asik mendengar Nina, ada beberapa lagu yang saya kenal juga. Antara lain To love Somebody, Times We’re Changing, Feeling Good, Just in Time (yak, tentu saja karena Before Sunset). Dan mulai suka dengan beberapa lagunya, dan excited dengan The Other Woman (yang liriknya pernah kita bahas), dan lain-lain. Jadi saya belum ada waktu mendengarkan Sting, tapi saya janji waktu itu, setelah saya khatam dengan Nina saya akan mendengarkan Sting koleksi milik teman-saya dan sekaligus saya menjanjikan copy CD Sting koleksi kepada teman-saya-yang-lain karena koleksi kaset-kasetnya sudah pergi entah kemana.

Sting, saya cuma tahu Fragile, When We Dance, berapa tahun lalu itu ya? Lagu-lagu itu saya cuma tahu, bukan suka, masih inget karena memang pernah jadi hits. Saya bahkan masih inget kok, saya pernah mengecek kata fragile di kamus waktu lagu itu sering diputar di radio dan tv. Tapi tipe lagu itu dan sosok Sting sendiri bukan tipe yang saya suka, bukan tipe yang bikin saya curious. Terlalu ‘genit’ menurut saya. Soal istilah ‘genit’ ini teman-saya pernah menggugat. “Genit gimana? Menurut gue vokal Sting sangat mature.” Ya…ya…sulit menjelaskan istilah-yang-saya-buat-untuk-diri-saya-sendiri kepada orang lain. Apalagi kamu ngefans banget sama beliau…

Pertama kali saya buka folder lagu-lagu Sting milik teman-saya itu, saya cuma mendengar sambil lalu. Dan waktu saya bilang “susah jatuh cinta sama Sting”, dia menyarankan untuk dengerin Fragile dan Shape of My Heart (ya! Kamu bahkan menyebut Shape of My Heart waktu itu) dan saya bilang, “udah…tapi belum suka juga nih…” dan saya merasa lucu waktu kamu bilang, “mencintai sting itu sama dengan hidayah dalam memilih agama...kalo belum bisa jatuh cinta atau belum dapet hidayah, ya gak apa-apa.. banyak-banyak minta petunjuk Yang Maha Kuasa.. .” Haha! Sekarang saya sudah mendapatkan hidayah-Nya kalau begitu.

*'Kemarin pagi' itu ada di bulan Juli. Tulisan ini bukan suatu “tribute to” atau apalah untuk Mr.Sting. Karena saya tidak menuliskannya dengan serius (memangnya pernah?), tanpa riset secuil pun tentang Anda. Janji saya pada Anda yang pernah terucap, bahkan tertulis juga di blog ini belum sepenuhnya terlaksana. Karena banyak sekali godaan-godaan: berita-berita seputar issue korupsi pejabat negara, liputan khusus tentang M.Natsir dan Tan Malaka di majalah berita mingguan, artikel-artikel di majalah musik bulanan yang semuanya sangat menarik dan menyita perhatian saya, belum lagi gosip-gosip murahan yang perlu diberi tanggapan (halah), yang semuanya itu menyebabkan saya gagal untuk fokus. Saya masih harus terus belajar untuk fokus dan intens dalam mengerjakan sesuatu.

No comments: