Saturday, September 27, 2008

Sepotong Senja

Sebenarnya memang nggak enak pulang sendiri: buka puasa sendiri, berteduh di warung mie ayam sendiri (seperti saat hujan yang lalu), dan males ngeluarin payung. Tapi apa boleh buat, saya harus sendiri. Memang nggak ada teman pulang, dan tidak bertemu siapa-siapa. Sudah lama kita nggak pulang bareng ya, Ris? Kalau di jalan sendirian seperti ini saya jadi akrab banget sama handphone. Padahal sinyal GPRS lagi dudul beberapa hari ini. No chatting, no googling, no happy ending. Keretanya telat pula, sampai-sampai harus berbuka di stasiun dengan teh gula. Sebentar..., 'teh gula'? Iya, teh dikasih gula, teh manis maksudnya. Untung saya cepat berpikir waktu dulu nenek pernah bertanya, "Teh gulo, Nak?" Thank you, Nek, saya lebih suka teh tawar. Hehe.. Sendiri begini nikmat sekali melamun, sambil memandang ke luar jendela. Angin senja bertiup semilir menerpa wajah yang jadi dingin. Jadi inget Toto Chan, Gadis Cilik di Jendela. Tetsuko dengan jendela di ruang kelas, saya dengan jendela kereta ekonomi. :-P Melihat ke jendela, Tetsuko memperhatikan orang-orang dan menyeru pemusik jalanan, mengajak mereka mampir. Tetsuko yang unik, Tetsuko yang merepotkan Ibu Guru, Tetsuko yang cerdas, Tetsuko yang berbakat. Tetsuko--dan orang-orang berbakat di luar sana, mereka aneh, tapi mereka ada. It's not that silly being weird as long as you have a clear conscience to live your life. Hey, who said that? Er.., I forgot. Sorry, just ramblings ;-) Ya, berdiri di kereta, sambil bersandar pada tari warna pelangi, dan bertudung sutra senja (ehm...), saya menikmati malam. Simpang silang rel kereta sudah terlewati dan peron 11 3/4 (haha...) semakin jauh. Keretaku merayapi rel yg menanjak meninggalkan Kota. Lampu-lampu stasiun yang pendarnya datar berganti dengan lampu gedung-gedung bertingkat di kejauhan, juga lampu mobil-mobil di jalan yg padat merayap, dominan merah di lajur kiri dan putih di lajur kanan arah sebaliknya. Jakarta malam hari terlihat indah dari atas sini, bertabur nyala lampu kerlap-kerlip. I feel like Marno seeing a thousands fireflies in Manhattan. Tapi saya tidak sedang gundah seperti dia. "Hati-hati, Beb, kalo lo mulai ngerasa melankolis ngeliat lampu-lampu Jakarta", kata sahabat saya suatu hari. Kenapa? "Hok Gie ngerasa begitu di hari-hari terakhirnya. Hehe.." Soe Hok Gie? Ya..ya..."kita terlambat sepuluh tahun untuk membaca catatan hariannya", kamu bilang? Apa kamu pikir kita akan jadi orang yang berbeda jika kita tidak terlambat? Lalu bagaimana pendapatmu tentang "what if" di film Sliding Doors? Terlambat atau tidak, keduanya berakhir sama. Tentang melankolis, seandainya iya, Le Petit Prince lah penyebabnya. Dan sepertinya saya akan bikin postingan khusus untuk buku yang baru saya baca ulang setelah dua atau tiga tahun lalu itu. Tunggu saja. SelamatLebaran, SelamatBerlibur!!

No comments: