Monday, November 24, 2008

Niatnya sih mau bikin cerpen seperti idemu, tapi kok malah ngaco. Jadi jangan salahkan saya ya, jika saya justru menuliskan ceritamu..

Céline: So what are your problems?
Jesse: Right now? I don't have any. I don't, you know? Just damn happy to be here!
Céline: Me too.

[Before Sunset, 2004]


Perempuan bermata lelah itu masih disana. Di sudut ruangan yg berangsur-angsur sepi. Teman-temannya satu per satu pulang sementara dirinya enggan beranjak. Dia tak tahu akan menghabiskan senja hari ini dimana. Akankah masih di stasiun dekat kantornya karena kereta yang terlambat datang, atau di kereta yang tak terlalu penuh sehingga ia bisa menikmati jakarta dari atas kereta, atau di sebuah toko buku kafe dekat rumahnya—yang interiornya ia sukai. Dimana? Pesuruh di kantornya akan gelisah tak lama lagi. "Pulang jam berapa, Neng?", katanya. Dan ia terpaksa berkemas pulang jika sudah ditanya begitu.

Senja bukanlah suatu yang istimewa baginya. Tak ada pengalaman romantis yang khusus. Bukan pula lambang cinta pacarnya, bagai sekerat senja seukuran kartu pos yang dikirim Sukab untuk Alina. Ia memang sangat menyukai senja dalam cerpen-cerpen Seno Gumira. Tapi ia tidak emotionally involved dalam menikmati senja. Dia lebih menikmati melihat bulan. Walau pernah juga ia menitikkan air mata sewaktu membaca bahwa Riri Riza pernah menangis saat cerobong asap bekas pabrik kapur di depan rumahnya roboh di suatu senja. Ribuan kelelawar terbang bergerombol di langit yg semburat merah. "Sungguh momen yang sangat fotografis dan selalu saya ingat", begitu kira-kira kalimat Riri yang membuatnya terharu.

”Air mata tidak hanya soal kesedihan. Demikian pula kesedihan bukan hanya soal patah hati”, katanya dalam suatu obrolan santai denganku. “Aku tak pernah patah hati” katanya di lain hari. Tapi aku tahu ia berbohong. It’s denial. Tak pernah patah hati berarti tak pernah jatuh cinta, bukan? Dan aku tahu dia pernah jatuh cinta. Jadi, mungkin lebih tepat jika dibilang patah hati tak pernah membuatnya terpuruk—sedih yang berlebihan. Ia tak kan pernah membiarkannya dirinya demikian. Ia memandang hidupnya terlalu berharga untuk dibuat hancur oleh orang lain. Ia menyayangi dirinya lebih dari apapun, maka tak pernah ia menangis karena patah hati. Ia hanya menangis karena marah. Atau kecewa dirinya tak dimengerti. Atau dilecehkan secara intelektual.

Hidup yang lurus tanpa kejutan acap kali membuatnya sedih. Seolah Tuhan tak peduli padanya. Berkali-kali pikiran seperti itu muncul di benaknya tapi cepat-cepat digumamkannya istighfar. Kalimat "Kamu tidak bersyukur", berulang-ulang diumpatnya pada diri sendiri. "Go find some fun" adalah nasehat yang kelihatannya mudah. Maka dicobanyalah untuk bertemu dan kongkow dengan kawan-kawan lama. Dan kau tahu, banyak yang berubah. Segalanya tak kan sama lagi seperti dulu. Sudahlah, pikirnya. Bahkan acara keluarga besarnya yang paling nggak penting pun dengan ringan hati tetap dihadirinya. Ia tidak ingin mengecewakan papa-mamanya.

Di menit-menit awal terasa menyenangkan. Mendengar banyak kabar baik dan juga surprise-surprise, saling melempar pujian dan gumam kekaguman. Derai tawa dan segenap perhatian. Keakraban yang instan. Aku tahu, dia akan mulai jengah. Lalu pertanyaan itu lagi, "kamu masih di Matraman kan?". Astaga, keterlaluan betul, itu kan kantornya delapan tahun lalu. Terasa sekali kalau itu cuma basa-basi, karena mereka tidak selama itu tak bertemu. “Aku tahu betul kalau diriku pelupa, tapi aku nggak separah itu kan?! Kenapa sih mereka nggak tanya aja 'dimana sekarang?' untuk lebih safe kalo emang bener-bener lupa. Lagian apa nggak ada pertanyaan atau komentar lain?". Wah wah..sensitif sekali dia. Seandainya aku nggak kenal dia selama itu pasti sudah kutinggal pergi kalau dia mulai begitu.

Tenang saja, dia bukan sedang bete lalu akan melampiaskannya ke semua orang yg berada di radius tertentu. Dia cuma butuh didengar, syukur-syukur kalau didebat—diajak berdiskusi. Itu justru jadi penghiburan buat dia. Tapi please..., jangan ajak dia debat soal sepele, atau gosip murahan. Itu akan membosankan buat dia (Memangnya buat kamu nggak?) walau dia tetap akan menunjukkan sikap yang datar saja. Itulah sebentuk tepa selira pada orang yang mengajaknya bicara.

Ajaklah dia menonton film-film kesukaannya, lalu berdiskusi setelahnya, atau rekomendasikan padanya musik bagus, buku bagus, pasti dia mendengarkan. Karena dia memang senang melebarkan kupingnya. Cek saja playlist-nya bila kamu ingin tahu, berbagai genre musik ada di sana sekarang. Tapi idolanya masih dari genre musik yang itu kok..Dan lihat, sudah beberapa hari ini dia mencetak e-book yang di-email seorang teman kepadanya. Dia berjanji akan membacanya: Jonathan Livingstone Seagull. “Novel ini harus tamat dibaca!”, begitu temannya berpesan. Atau... ajak dia jalan-jalan ke Bromo. Walau dia selalu kangen rumah jika bepergian, tak ragu akan dia kemas beberapa potong pakaian, perlengkapan mandi, jaket tebal, music player, dan tentu saja kamera ke dalam ranselnya. “Berangkat!!”, katanya riang.

No comments: