
Saya skeptis mendengar kabar bahwa Nicholas Saputra akan "reuni" dengan Dian Sastro. Terutama karena kabar itu menyebutkan Dian akan memerankan penyanyi dangdut tingkat kampung, dan Nico memerankan seorang santri. Judulnya pun ada kata 'cinta'. Hmm..yang tergambar di benak adalah si Sholeh digoda si Jablai. Hueks..males bangett... Waduh, nonton nggak ya, pikir saya waktu itu. Tapi, ketika hal ini saya kabarkan ke sahabat saya, salah satunya justru berkomentar, "Wah lucu tuh" dengan nada seolah 'can't wait to see'.:-P
Yah…biar bagaimanapun saya tetap akan menonton—ingin melihat transformasi Nico menjadi Huda, si santri. Dulu saya takjub melihat Nico bisa benar-benar berbeda-beda: jadi Rangga yang dingin, lalu jadi Joni yang kenes. Lalu, masa sih Nico yang selalu bersinar dan Dian yang selektif, mau main di film sembarangan. Sampai akhirnya, niat saya bakal nonton film “reuni” ini menjadi bulat setelah membaca review-nya Mbak Karin di Tempo.
3 Doa 3 Cinta bercerita tentang cita-cita (setelah lulus) tiga orang santri sebuah pondok pesantren. Huda ingin mencari Ibu yang menurut kabar terakhir tinggal di Jakarta. Ryan ingin berbisnis 'video kawinan' dan studio foto meneruskan bisnis mendiang Ayah. Dan Syahid, sesuai namanya, ingin mati syahid lalu masuk surga. "Mati, lalu masuk surga? Enak bener...", kata kawannya menggoda.
Film diawali dengan adegan dua jenis pengajian yang diikuti oleh ketiga sahabat ini. Yang pertama dibawakan oleh pimpinan pesantren tempat mereka mondok yang bersuasana ‘adem’. Lalu adegan pengajian di luar pondok yang mereka ikuti diam-diam yang dibawakan seorang ustadz yang berapi-api dan provokatif. Setelah mengikuti yang terakhir, minat dua sahabat ini terbagi. Yang dua orang, Huda dan Ryan, memastikan tidak akan datang kesana lagi karena dianggap “nggak nggenah”(=nggak jelas) dan “beda dari ajaran Romo Kyai”. Sedangkan Syahid justru seperti mendapat pencerahan.
Kisah bergulir. Kita lalu tahu bahwa Huda dititipkan ibunya di Pondok sudah dari 6 tahun lalu, dan sampai sekarang tidak pernah dikunjungi. Hanya sepucuk surat lawas yang di amplopnya tertera alamat di Jakarta yang disimpan Huda amat hati-hati, karena itulah petunjuk satu-satunya jika kelak tiba waktunya ia mencari Ibu. Romo Kyai, pimpinan pondok pesantren, memproyeksikan Huda menjadi menantunya kelak dari putri tunggalnya Farokah dan ingin menjadikannya penerus pimpinan pesantren.
Lalu kita tahu Ayah Ryan pengusaha studio foto meninggal belum satu tahun lalu. Dulu beliau pernah menjanjikan Ryan sebuah handycam jika Ryan mau masuk pesantren. Dan janji ini dipenuhi oleh ibunya menjelang ulang tahun Ryan. Jadilah Ryan santri yang berhandycam. Ibu Ryan pun berkunjung untuk memberi tahu bahwa ia akan menikah lagi. Padahal, “bapak belum lagi setahun meninggal”, gugat Ryan pada Sang Ibu.
Syahid, murid pesantren yang tidak mondok, bersimpati pada kelompok Islam yang ‘gemar’ berlatih bela diri. Ayahnya sakit parah, dan sawahnya tergadai demi membiayai cuci darah dan rawat inap di rumah sakit. Sawah keluarga Syahid dibeli oleh seorang ‘bule’ dengan perantara makelar yang dari gelagatnya terkesan licik. Sawah itu dibeli murah. Tapi terpaksa harus tergadai. Keadaan membuat Syahid merasa kecewa, ter-zholimi, marah. Dia benci bule pembeli sawahnya yang diumpatnya dengan sebutan “Amerika kafir”. Keadaan susah ini semakin memupuk kebencian dan kemarahan Syahid dan yang pada akhirnya memantapkan dirinya dibaiat menjadi calon ‘syuhada’.
Walau visi-atas-hidup-selanjutnya dari masing-masing mereka berbeda, mereka tetap berkawan akrab. Mereka bertiga setia mengunjungi Ayah Syahid di rumah sakit. Dan tetap akrab dan setia kawan walau Syahid tidak ikut merayakan ulang tahun Ryan, pun tidak ikut ngumpet-ngumpet keluar pondok untuk nonton film di pasar malam. Sebentar…merayakan ulang tahun? Nonton film? Itu kegiatan anak pesantren? Ya, ternyata santri-santri di pesantren sama seperti orang-orang lainnya—setidaknya yang digambarkan di film ini. Mereka juga punya hobi, kesenangan, atau pun kebiasaan selain yang berhubungan dengan kegiatan agama—bukan melulu mengaji. Mereka merokok, nongkrong di warung, ngintipin cewek. Film maker-nya, Nurman Hakim (yang juga jebolan pesantren), pun tidak menafikan hal-hal yang mungkin sekali ada di suatu, katakanlah, ‘boarding school’ khusus laki-laki atau perempuan. Seperti: orientasi seksual sesama jenis yang dimiliki oleh seorang santri senior yang mengajar mereka berlatih rebana. Santri ini melakukan pelecehan seksual terhadap juniornya. Terhadap santri seperti ini sanksinya dikeluarkan dari pesantren, setelah sebelumnya dikeroyok seluruh santri di ruang makan.
Lalu apa peran Dian Sastro di film ini? Bagi yang datang ke bioskop untuk menyaksikan cerita semacam ‘nostalgia’ Ada Apa Dengan Cinta? (2002) tentu akan kecewa. Karena Dian hadir di film ini bukan sebagai pasangan romansa Huda. Dian yang menjelma sebagai penyanyi dangdut keliling bernama Dona Satelit , menyanyi di pasar-malam pasar-malam. Dona kelak dipercaya Huda membantu menemukan alamat ibunya—Ibu Rohimah, di Jakarta. Menemukan ibu Rohimah menjadi semacam resolusi tahunan Huda yang di tulis di sebuah tembok tempat tiga orang sahabat itu berkumpul. Di tembok itu masing-masing dari tiga orang ini menuliskan sesuatu lalu berdoa setelahnya di depan tembok—mengingatkan saya pada Tembok Ratapan di Yerussalem, meski tak persis.

Sebagai imbalannya, Huda membantu Dona Satelit membuat video casting yang akan dikirimkan ke agency-agency model. Dona bercita-cita menjadi model. Demi menemukan Sang Ibu, Huda meminjam handycam Ryan men-shoot Dona sambil menahan tawa. Hehe..Dian Sastro berhasil tampil norak banget di sini. Goyangannya pun mendekati 'kehebatan' Dewi Persik (buat para fans cowok, jangan ilfil ya...;p). Dengan handycam itu pula Syahid merekam kegiatan sekelompok orang berlatih beladiri dengan kostum hitam-hitam berkupluk dengan hanya mata mengintip—yang menarik perhatiannya. Sementara Ryan sibuk menimba ilmu dari pemutar proyektor di pasar malam, dimana dia menemukan sosok Ayah. Huda menemukan kenyataan pahit setelah ke Jakarta mencari Ibu. Ayah Syahid meninggal.
Lalu peristiwa Bom Bali II meletus. Beritanya mereka lihat di televisi. Pesantren mereka pun digrebek reserse. Romo Kyai ditangkap dan handycam turut menjadi barang bukti. Beberapa santri turut digiring dan ditahan. Si pemutar proyektor kehilangan Ryan yang tidak nongol malam itu. Pada akhirnya Syahid yang harus mendekam di penjara. Dia sempat membuat semacam video rekaman perpisahan seperti yang dilakukan tersangka teror yang kita lihat di televisi. Padahal di malam sebelum pesantren digrebek, dia sempat mengundurkan diri dari janji menjadi ‘syuhada’. Lalu kita melihat Huda menuliskan ‘Farokah’ di “tembok ratapan”.
Selanjutnya kita disuguhi kisah beberapa tahun kemudian, yang lebih enak kamu cari tahu saja di bioskop. Oke?!
No comments:
Post a Comment