Sudah masuk 19 Februari. Hmm..tanggal ini sepertinya tanggal yang berarti buat saya. Seingat saya, 19 Februari itu hari ulang tahun Mbah Raka-ku, atau hari saat kami kehilangan dia untuk selamanya ya? Tanggal ini tepat 32 tahun seseorang dari masa sekolah dulu. Bener nggak ya, ingatanku? Atau..., sebenarnya 19 Februari yang biasa saja dan tiba-tiba jadi melankolis sebab saya baru selesai menghayati sebuah bacaan?
Bagaimanapun, saya berdoa untuk kehidupan keduanya di alam masing-masing.
Lalu?
Iya, lalu apa? Mungkin ini.
Beberapa minggu lalu saya berhasil menyelesaikan menonton beberapa film dan terkesan. Ingin sekali membuat catatan. Ya, akhirnya sudah saya muat di sebuah situs social networking, demi kepraktisan saja. Inilah catatan itu:
Slumdog Millionaire
Directed by Danny Boyle, 2008.
Film ini bercerita tentang nasib seorang anak miskin, yang menjadi yatim sejak usia kanak-kanak (orangtuanya mati dalam suatu kerusuhan SARA di Mumbai di tahun 90-an). Suatu hari ia beruntung dapat ambil bagian dalam kuis “Who Wants to be Millionaire” dan tinggal satu langkah lagi menuju pertanyaan terakhir. Itu berarti selangkah lagi untuk menjadi milyuner —memenangkan 20 juta rupees. Melihat latar belakangnya, ia dinilai tidak mungkin tahu jawaban-jawaban kuis, ia dicurigai telah berlaku curang dengan melakukan konspirasi atau entah apa sehingga bisa melalui pertanyaan-pertanyaan kuis tersebut sampai sejauh ini. Maka, disela break syuting menuju pertanyaan akhir, ia digelandang (mungkin lebih tepatnya diculik) ke kantor polisi dengan kepala dibungkus karung. Lalu penyiksaan berupa pukulan-pukulan mulai menerpa tubuhnya, bahkan sengatan listrik! Saya menutup mata.
Film dimulai dengan narasi teks berikut:
Mumbai, 2006.
Jamal Malik is one away from winning 20 million Rupees. How did he do it?
A. He cheated
B. He’s lucky
C. He’s genius
D. It is written
Selama menonton film ini, menanti jawaban pertanyaan di atas, kita disuguhi cerita masa sekarang—saat kuis tayang di televisi— paralel dengan cerita masa lalu si Jamal dan kita menemukan bagaimana seorang slumdog bisa menjawab dengan benar pertanyaan demi pertanyaan kuis yang dianggap sulit oleh kebanyakan orang, tapi toh mereka mengikutinya dengan antusias. Dan Anda pun menerka-nerka jawaban pertanyaan yang diajukan narasi teks di awal film.
Film ini mengingatkan saya pada film garapan Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal (cerita tentang kaum marjinal, yang sering kita lihat tapi tak tahu bagaimana mereka hidup) dan juga Constant Gardener (dalam hal sinematografi). Keindahan lanskap Mumbai sesekali hadir lewat angle-angle kamera yang menawan. Taj Mahal yang terkenal itu pun hadir di film ini.
Walau bercerita kehidupan di India, film ini tidak serta merta menjadi “tipikal” film India. Tetap ada scene menari bersama oleh pendukung film. Tari-tarian ini hadir di akhir film, bersamaan dengan berjalannya credit tittle.
Ada satu film lagi. Awalnya jelaslah karena sang pemeran Tyler Durden maka saya mengintai film ini sejak membaca judulnya saat mengecek profil beliau di IMDb (sekedar melihat apa yang terbaru). Lalu posternya yang menarik, yang memperlihatkan dua wajah dari film Babel, wow... Setidaknya sudah dua kali film ini saya tonton, dan ya, menyisakan rasa yang muram. Saya tidak ingin menceritakannya. Ide cerita yang absurd. Tetapi absurditas bukan inti yang ingin dikedepankan. Lebih pada sebuah tema yang tidak akan pernah lawas: cinta yang tak memungkinkan untuk terus bersama. Pada tema-tema seperti ini kita bisa dengan mudah mencibir atau mengumpat pada kecengengan tokohnya atau menangis tersedu karena ikut-ikutan cengeng. Air mata saya tak jatuh, walaupun saya menonton sendirian, tak ada orang di kiri-kanan-depan-belakang (itu berarti tak perlu jaim), tapi setelah menontonnya ada beberapa saat yang hening di dalam sini. Dan kemarin baca di RS edisi Indonesia, demikian pendapat Brad tentang The Curious Case of Benjamin Button: "Benjamin menurut saya adalah hal-hal universal yang kita semua alami: cinta, harapan, juga rasa kehilangan yang terus berada dalam diri kita, yang kita sembunyikan dengan sangat terampil. Benjamin membuat saya merasa sia-sia jika bertengkar dengan orang-orang yang saya cintai."
Lalu saya mendapati majalah RS itu basah. Ada yang menetes di sana.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment