Enam puluh empat tahun lalu, tiga hari sebelum proklamasi kemerdekaan, ramai berkumpul para pemuda di sebuah rumah di daerah Menteng. Mereka membicarakan tentang proklamasi. Sukarno dan Hatta masih berpikir kita akan merdeka dengan "campur tangan" Jepang, ya, melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan para pemuda ingin kita merdeka sendiri, tanpa "bantuan" siapa pun.
Seorang pemuda, waktu itu 48 tahun, seorang yang mengaku sebagai utusan pemuda dari Bayah, memperkenalkan diri sebagai Ilyas Hussein. Sejak Juni tahun itu, 1945, ia telah turut serta dalam diskusi-diskusi para pemuda tentang kemungkinan kekalahan Jepang dalam perang dunia dan peluang kita untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Dan tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Padahal tulisan-tulisannya telah banyak dibaca orang. Massa Aksi. Naar de Republiek Indonesia. Mereka semua pernah mendiskusikannya (tulisan). Kini, mereka terpukau pada analisisnya. Mereka pun dibuat bertanya-tanya: Siapa sebenarnya orang ini?
Celana pendek selutut, kemeja, ia terlalu hati-hati dalam penyamaran. Identitasnya dibiarkan kabur. Lama dalam pembuangan, pelarian, selalu berada dalam bayang-bayang penangkapan, membuatnya berlebihan: tak memberitahu kawan seperjuangan siapa dia, hanya Ilyas Hussein. Dan lama kelamaan orang-orang berpikir kemungkinan ia mata-mata Jepang. Mereka menjaga jarak saat berada bersamanya.
Pada tiga hari menjelang proklamasi waktu itu, ia muncul di Jakarta. Orang-orang sibuk. Mereka menculik Sukarno dan Hatta membawanya ke Rengasdengklok.
Ilyas, sendiri. Tak tahu apa-apa. Pergi ke sana-sini tak bertemu siapa-siapa. Proklamasi pun dibacakan di Pegangsaan Timur 56. Semua berlangsung dalam sunyi. Tak ada pemberitaan, koran maupun radio.
Dan Ilyas Hussein mengetahui ini setelah orang-orang ramai membicarakannya di jalan-jalan.
"Rupanya sejarah proklamasi 17 Agustus tidak mengizinkan saya campur tangan, hanya campur jiwa saja.", demikian Tan Malaka berbisik dingin. Jelas ia kecewa. Ya, Ilyas Hussein adalah Tan Malaka. Yang tulisannya mereka baca, ide-idenya mereka diskusikan, kehadirannya mereka maklumi, tapi dibiarkannya 'pergi jalan kaki lepas dari pandangan mata'. "Kepedihan riwayat", Adam Malik menamakannya. "Bapak Republik yang Dilupakan", kata majalah Tempo.
Tidakkah mereka tahu? Tidak? Kenapa tak ada seseorang yang "diutus" Tuhan untuk tersadar dan berseloroh, "There goes Tan Malaka!"
Ah, sedih.
>>>Menceritakan ulang "Jalan Sunyi Tamu dari Bayah", Tempo Edisi Khusus Kemerdekaan, Agustus 2008. Sekaligus mengisi long weekend waktu itu, 15-17 Agustus, tapi baru sempat post sekarang ;-)
Sunday, August 30, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment