Di Sabtu siang seperti ini, yang tidak terlalu panas dan tidak pula hujan, cuaca yang sebenarnya sangat baik untuk tidur, saya malah luntang-lantung di rumah. Sedang tidak ingin memasak makanan, atau membuat kopi untuk nanti berbuka. Sudah kelar download film, tapi males nonton. Laptopnya belum istirahat. Pengen bakar CD musikuping, tapi playlist belum berubah terlalu banyak. Jadilah hanya pindah dari kamar sendiri ke kamar Mama lalu ngobrol bertiga. Cuma soal-soal kecil seperti: apakah kita perlu membeli karpet atau tidak, pengen bongkar atap supaya gak bocor melulu, akan ada anggota baru di rumah kakak di tahun depan, bagaimana kalau kita berbuka di rumah tapi makannya di luar sebab agak repot solat Magrib di tempat umum, juga bahwa Kelok Sembilan akan sangat bagus kalau sudah jadi dan apakah kita akan jalan-jalan ke sana lagi, dan sebagainya dan sebagainya.
Gak berubah sampai sekarang, hal yang menyenangkan buat saya adalah ngobrol gak penting begitu sama orangtua, dulu juga dengan kakak. Weekend gak selalu pergi keluar. Saya selalu suka rumah. Mungkin karena dari kecil sudah menjadi kebiasaan, seingat saya sih, kami memang jarang ke tempat-tempat yang sekarang disebut dengan mal. Dulu memang belum ada sih…cuma ada Aldiron dan Hoya di Blok M. Dan kami amat sangat jarang pergi ke sana. Sampai sekarang pun saya gak suka pergi ke mal cuma untuk jalan-jalan cuci mata. Pergi ke mal paling sebulan sekali untuk ketemu teman atau mencari sesuatu. Makanya saya suka agak heran mendengar keluhan ibu-ibu zaman sekarang bahwa setiap akhir pekan harus membawa anak-anaknya ke tempat hiburan. Keluhannya kalau tidak betapa besar jumlah uang yang harus mereka keluarkan, adalah kebingungan mereka minggu ini mau kemana. Fyuhh… Kadang saya suka mikir, apakah itu memang harus bagi anak-anak, atau karena hasil didikan orangtua mereka sendiri bahwa akhir pekan adalah jadwal mereka pergi ke mal atau taman bermain atau kemana-saja-yang-penting-keluar-rumah. Seakan weekend itu berarti ‘harus keluar rumah’. Dan waktu saya tanyakan hal ini ke seorang teman yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak kecil, dia bilang bahwa salah dia juga memang, membiasakan anak-anaknya sejak kecil seperti itu, makanya setiap Minggu mereka selalu menuntut untuk pergi keluar. “Kadang-kadang capek juga, tapi gue kasian sama mereka udah ditinggal ke kantor tiap hari, kalo weekend gak nyenengin mereka, rasanya kok kayak berdosa gitu. Paling deket dan gampang ya pergi ke mal. Lo nanti juga ngalamin deh.” Hmm…gitu ya? Kasian juga anak gue nanti, mamanya gak suka ngajak mereka ke mal. “Papanya?” Gak tau deh, semoga sama. :D
Menghabiskan waktu di rumah saja saat weekend memang bukan hal yg terlalu menarik. Apalagi kalau kita gak punya ide mau ngapain. Saya sih gak pernah terlalu menentang prinsip orang yang tiap weekend mesti keluar rumah, tapi juga gak pernah terlalu suka keluar rumah. Mungkin berbeda halnya jika saya tinggal di kota yang tidak terlalu padat, dimana jika saya keluar rumah tidak disergap oleh kemacetan lalu lintas yang panjang. Tidak mendengar bising suara klakson disertai sumpah-serapah supir-supir angkot dan tidak menghabiskan hampir setengah hari di perjalanan. Bekerja dan berangkat ke kantor setiap hari dan pulang setelah senja berlalu di kotamu saja sudah cukup melelahkan. Apalagi jika ditambah harus keluar rumah lagi di akhir pekan, rasanya kepenatan seminggu dibayar lagi dengan kepenatan lain demi sebuah ‘refreshing’. Bah. Membayangkannya saja sudah capek. Prinsip saya, jika hari Sabtu saya masih harus keluar rumah, maka hari Minggu harus penuh dibayar dengan tidur. Haha. Kalau penat secara fisik tapi kemudian hati senang, ya gak papa juga sih. Karena terkadang, dan mungkin banyak juga yang setuju, yang membuat kita capek itu hati, perasaan kita sendiri. Jika kita melakukan sesuatu karena terpaksa, capeknya terasa jadi berlipat-lipat. Tapi jika hatimu suka, capeknya justru lenyap dengan segera. Yah…semoga.
Have a nice weekend, everyone!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment