Di sela-sela waktu menunggu nonton Si Mamad di kompleks TIM, saya melihat apa yang saya potret di atas. Semacam diskografi Teater Koma sejak berdiri sampai sekarang—saat mereka kembali mementaskan Sie Jin Kwie. Terpampang sebagai wall of fame pementasan lakon Sie Jin Kwie. Tertulis drama Karina di sana ! Segera saya sadar bahwa memori kita ‘memilih’ sendiri mana yang tetap tinggal, mana yang hilang, terlupa. Waktu Karina ditayangkan di TVRI, saya masih di SD—berarti ia bagian yang tetap tinggal dalam memori otak. Dan kalau lihat tanggalnya, hmm..mungkin sepulang sekolah, siang itu di gerbang sekolah saya dengan malu-malu ( akhirnya menerima juga) ucapan selamat ultah dari seorang anak SD lain. Katakanlah, seorang teman favorit. Hehe.
Menonton drama Karina di TVRI termasuk salah satu dari beberapa cuplikan-cuplikan fragmen masa kecil yang masih saya ingat. Jika masing-masing kita ditugaskan membuat dokumenter tentang hidup keseharian kita sejak kecil hingga kini, kenangan ini ibarat footage yang terpilih untuk masuk dalam film dokumenter saya. Bapak saya sering bilang, “Nenek Papa dulu juga seneng cerita-cerita, sandiwara radio, juga siaran berita..” Menurut beliau, kebiasaan Nenek itu agak berbeda dengan nenek-nenek atau ibu-ibu yang lain di keluarga kami dalam satu rumah besar. Karena itulah bapak saya sering mengacu ke sana jika dia mendapati saya menyukai suatu drama atau film dan suka pula menceritakannya kembali dengan antusias di waktu lain jika kami sedang mengobrol-ngobrol. Mungkin dipikirnya ‘kesukaan’ itu diturunkan dari Nenek.
Kembali ke drama Karina . Hari dan tanggal tayangnya tentu saya tak ingat. Yang saya ingat, drama itu ditayangkan malam hari, mungkin jam 9 atau jam 9.30 malam. Waktu itu di RW sebelah ada layar tancep. Dan selepas Isya, saya bersama teman-teman ada di sana mau nonton layar tancep. Oh, mungkin saya cuma berdua saja dengan Yayi (mungkin ya, karena saya nggak punya banyak teman akrab). Filmnya apa, saya sudah tidak ingat. Zaman saya kecil, layar tancep masih sering ada. Biasanya layar tancep digelar sebagai bagian dari acara kawinan, mungkin juga sunatan. Layarnya dipasang di lapangan dan penonton berdatangan juga dari RW sebelah. Ramainya mirip pasar malam kecil, karena di sana hadir juga tukang-tukang dagang.
Saya sudah duduk di lapangan itu, beralas koran, dan filmnya baru mulai sewaktu bapak saya menepuk bahu saya dan menyuruh saya pulang. “Hei udah malam, anak perempuan masih keliaran, ayo pulang yok!”, kira-kira seperti itulah. Tapi saya menolak, kenapa juga saya menolak, saya tak ingat lagi. Mungkin juga karena senang sama film di layar tancep itu, atau lagi seneng bertemu kawan sambil nonton dan makan kacang rebus? Entahlah (dasar anak SD!). Yang jelas akhirnya saya mau pulang karena bapak saya bilang di TV sebentar lagi akan ada film drama bagus. Uhm, dulu itu sepertinya istilah ‘sinetron’ yang populer, sampai-sampai kalau TVRI ulang tahun di bulan Agustus, ada acara spesial yang namanya Sepekan Sinetron TVRI. Yang berarti dalam seminggu kita akan disuguhi sinema elektronik (kalau sekarang mungkin FTV) produksi seniman-seniman mumpuni semisal Asrul Sani bersama Sanggar Pelakon, Nano Riantiarno bersama Teater Koma, Arifin C. Noer, Teguh Karya, dan lain-lain.
Sampai di rumah, setelah cuci-kaki-cuci-muka saya duduk manis di depan televisi. Mulailah drama Karina. Saya menonton sampai selesai, benar-benar menyimak, dan sangat terkesan. Kalau ditanya ceritanya bagaimana, saya nggak ingat persisnya. Yang jelas bukan cerita anak-anak, tapi toh waktu itu saya betah juga mengikuti ceritanya. Tentang rumah tangga. Tentang seorang perempuan yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, teman-teman. Mengacuhkan keberadaan suaminya, menelantarkan keluarganya. Dilihat dari garis besar cerita, Karina tidak terlalu istimewa. Hanya saja, dialog-dialognya saya yakin sangat menarik, meski saya tak mengingatnya secara utuh. Ada percakapan menarik antara tokoh Karina dengan pembantu rumah tangganya sebagai gambaran kecemburuan. Ada adegan lari-lari-di-hujan-lebat segala di akhir cerita, yang ternyata di kemudian hari adegan semacam ini menjadi klise. Tapi saya sangat yakin bahwa tidak ada adegan bicara-dalam-hati-yang-rasanya-lama-betul, tidak ada adegan mata-melotot-dengan-backsound-menggelegar. O ya, sebagian besar setting-nya di studio, tak ada mobil mewah, rumah mewah dengan kolam renang di dalamnya. Kekuatannya tentu pada cerita dan dialog.
Toko utama Karina diperankan oleh Ratna Riantiarno, primadona Teater Koma. Saya mengagumi akting beliau, kecantikannya dalam kesederhanaan, juga vokalnya. Sangat khas dia. Bermain di layar lebar atau layar kaca belakangan ini pun masih sangat baik. Saya dan bapak saya memang nge-fans sama Ibu Ratna. Kami nggak akan melewatkan sepekan sinetron TVRI, apalagi produksi Teater Koma. Mungkin sejak Karina, mungkin juga sebelum itu. J
Kadang-kadang suka mikir, dulu itu pas saya ngefans Ibu Ratna, teman-teman SD saya ngefans siapa ya?

No comments:
Post a Comment