Sepanjang perjalanan di kereta tadi pagi, saya memutar hanya dua lagu. Nggak ada alasan khusus kenapa cuma dua lagu, alasannya murni karena nggak sempat bikin playlist. Jadi asal comot saja sebelum kereta benar-benar jalan—dan saya perlu berpegangan pada tiang atau apapun. Lagu itu Love Me Two Times dan People Are Strange. Segera saja saya inget kamu, ma bro. Ingat beberapa tahun lalu waktu saya bawa keping bajakan semacam best of The Doors dan memberikannya ke kamu karena kamu ingin mencari sebuah lagu, yang kamu bilang dulu sering diputar seorang teman dan kamu nggak tahu judulnya, lupa liriknya, tapi lagunya masih nempel. Dan ternyata lagu itu adalah People Are Strange ya? Oh, oh, temanmu itu juga yang bikin band dengan nama The Windows? Seingat saya, cerita temanmu itu berakhir sedih.
Dua lagu itu baru beberapa hari lalu saya download, setelah sebelumnya saya kosongkan folder musik di HP—music player sudah raib dan nggak berniat beli lagi lah kecuali gen teledor bisa dihapus dari darah saya. Dan kenapa folder musik perlu dikosongkan, karena saya mau download video-video. Nonton live performance di layar 3,5 inchi itu lumayan juga lho, banyak orang berbaik hati upload video dengan resolusi bagus, jadi saya pengen nyimpen dan kalo sound-nya bagus suka saya convert juga ke MP3. Jadi ceritanya punya versi live dari beberapa lagu kesayangan, hehe.
Beberapa orang mungkin nggak suka denger lagu versi live karena tepuk tangannya mengganggu, tapi sebaliknya, saya malah suka. Apalagi kalo ada celetuk-celetuk yang manis dari si musisi atau penonton. “How many of you have got drunk tonight?”/ *suara gaduh*/ “Oh, how soooon..” Haha. Eh tapi ada yang ‘nggak banget’ juga sih, cenderung nyebelin, seperti di album KLAkustik, di lagu apa gitu, pas Katon bilang ke penonton “…untuk yang pegal-pegal badannya...” Oh man, mau pijat refleksi?
Hari-hari belakangan ini saya rajin download video live beberapa kolektif musisi. Seperti, video gig yang intim, mirip-mirip karaoke massal karena penontonnya nyanyi sepanjang lagu seperti gig The Sigit @Nanonine. Atau live performance White Shoes and the Couples Company di Jaya Pub yang ramai dengan celetuk penonton dan canda yang terlontar dari "panggung" di depan sana. Juga serunya ngikutin WSATCC jalan-jalan bareng kamera Vincent Moon, masuk gang-gang sambil bawain lagu-lagu mereka, berhenti di depan anak-anak kecil yang cakep-cakep abis mandi (“siap boy?”), terus lewat di depan barber shop, diliatin sama orang-orang yang kebingungan di depan rumah mereka dan ada juga yang manggut-manggut ngikutin beat lagu, dan oh, lagu Matahari live at warteg! Lengkap dengan adukan teh manis di awal dan ting-tang-ting sendok, garpu, mangkok, dan gelas sebagai bunyi perkusi dari John Navid. Gokil! Saya menontonnya di kereta, senyum-senyum sendiri, kadang terperangah kagum, dan tau-tau sudah waktunya turun. Sudah sampai. Perjalanan pulang terasa singkat dan menyenangkan. Ya ya ya, mungkin benar, bahagia itu sederhana.
Semalam sesampai di rumah, saya setel radio. Lagi seneng juga sama radio ini beberapa hari terakhir. Karena topik siarannya sering kali mengejutkan. Semalam doi nyiarin re-run bincang-bincang bersama salah satu penulis kesukaan, Eka Kurniawan. Eka cerita tentang awal karir kepenulisan, tentang novel Cantik Itu Luka, nostalgia gitu lah. Nggak terlalu istimewa, karena sebagian udah pernah dengar atau baca di manaa gitu. Setelah re-run bincang-bincang selesai berkumandanglah sebuah lagu yang akrab. Bukan karena sering dengar, sudah lama nggak dengar malah. Beberapa detik intro lagu mengalun, saya langsung ingat ini lagu apa. Nurlela. Entah siapa yang mendendangkan. Saya juga nggak ingat tau lagu ini pertama kali dari mana. Yang jelas lagu ini mengalun juga di rumah Gie, dalam film garapan Riri Riza.
radiobuku.
ReplyDelete