Thursday, July 24, 2008

Sebuah Tangga Menuju Surga

Itu bukan judul sebuah buku. Itu bukan judul buku yang saya maksud, buku yang akan saya ceritakan di sini.

Saya masih ingat saat-saat saya mulai punya buku. Buku yang bukan buku Dongeng Grimm hadiah ulang tahun dari Papa. Bukan pula buku cerita wayang bergambar bertitel “Selamat Tidur Sayang”, seri Petruk Ingin Jadi Raja yang juga hadiah ulang tahun buat saya. Saat kedua buku itu saya miliki, saya belumlah bisa baca, mungkin bisa tapi belum lancar. Kedua buku itu properti ayah saya untuk membacakan cerita sebelum tidur. Ternyata saya pernah romantis juga ya? (Seperti di film-film, minta dibacakan dongeng pengantar tidur sampai benar-benar terlelap).

Buku itu hadiah dari paman saya. Beliau senang memberi buku pada kami. Ya, dia selalu membelikan masing-masing satu --untuk saya dan kakak saya-- setiap kali memberikan oleh-oleh. Kali ini buku, kali lain bisa apa saja. Judul buku pemberian beliau yang saya masih ingat, Rengga Kuning untuk kakak saya, dan Gadis Ranti untuk saya. Keduanya cerita rakyat dari Sumatra Barat. Salah satunya ditulis oleh Darto Singo, yang nantinya saya tahu ia adalah ayah dari rocker perempuan Indonesia, Anggun C. Sasmi.

Namun bukan kedua buku itu pula yang saya maksud. Adalah sebuah buku cerita ‘serius’ untuk anak-anak. Buku berukuran sebesar buku tulis kita waktu di SD, dengan cover warna putih. Di dalamnya tidak ada gambar berwarna, tapi masih ada sketsa-sketsa hitam putih. Buku ini bercerita tentang beberapa orang anak (entah dua atau tiga, saya lupa) yang tinggal di sebuah desa yang di sana terdapat sebuah tangga menuju surga. Mereka adalah anak-anak yatim-piatu yang tinggal hanya dengan seorang nenek yang sudah renta. Mereka bukan anak-anak penurut, maka neneknya harus lebih banyak bersabar menghadapi mereka.

Suatu hari mereka mendatangi tangga-menuju-surga itu, yang sebelumnya mereka belum pernah meyentuhnya. Mereka gemar bermain dan bertualang. Ingat bocah-bocah petualang di Trans TV? Ya, Si Bolang, keponakan saya suka sekali nonton acara itu. Jadilah bolang-bolang ini menaiki tangga-menuju-surga. Tidak terbayang jauhnya ya? Seperti sulur kacang ajaib si Jack, tangga ini mengantarkan mereka sampai di surga. Mereka senang sekali. Surga memberi apa yang tidak mereka dapatkan ‘di bawah sana’. Pemandangannya indah, pohon-pohon rindang yang membuat mereka nyaman berteduh sampai tertidur, buah-buahan yang segar dalam jangkauan ‘tangan anak-anak’ mereka. Dan masih banyak lagi. Selain memuaskan perut, mereka juga memuaskan diri dengan bermain, berlarian, berteriak, tertawa-tawa, pokoknya surga menjadi gaduh dengan kedatangan mereka. Lalu mereka pulang sebelum senja. Tangga itu akan menghilang saat senja datang dan muncul kembali esok hari.

Sampai di rumah, mereka menceritakan semua kepada nenek dengan berapi-api. Semuanya bercerita, satu per satu, bergantian. Dan nenek, rela menahan kantuk sampai jauh malam untuk mendengarkan cucu-cucunya. Walaupun seharian sudah lelah bekerja di ladang nenek tidak ingin pergi tidur sebelum mereka puas bercerita dan jatuh tertidur. Dulu saya pernah dekat sekali dengan nenek saya. Nenek tinggal bersama keluarga kami sejak Papa-Mama menikah. Kami suka liburan berdua saja ke rumah nenek-nenek saya yang lain. Pernah, waktu liburan di rumah nenek-saya-yang-lain, saya menangis, tidak mau tidur kalau tidak dengan -Mba(h) ‘Yi-nenek saya itu.

Sejak menginjakkan kaki pertama kali di surga mereka berjanji untuk selalu mengunjungi surga setiap hari. Mereka menyampaikan soal ini kepada nenek. Nenek menyetujuinya, dan berpesan untuk “jangan lupa pulang sebelum senja, dan jangan pergi ke sana di hari Sabtu”. Kenapa? Saya jadi ingat teman saya yang suatu hari mengutip kitab suci agamanya dalam suatu obrolan, (kurang lebih dia bilang) bahwa Tuhan menciptakan alam semesta selama 6 hari, pada hari ketujuh Ia beristirahat (Apakah Tuhan lelah?). Karena itulah umatnya cukup bekerja selama 6 hari dan hari ketujuh hanya untuk Tuhan. Entah ada hubungannya atau tidak. Di buku itu si nenek mewanti-wanti cucunya untuk tidak ke surga tiap Sabtu, karna pada hari Sabtu para dewa mengadakan rapat lalu siangnya mereka beristirahat. Jika mereka datang ke sana mereka akan mengganggu para dewa. “Jangan sampai para dewa murka.”
Dan mereka pun berjanji akan menurut nasehat nenek.

Tapi pada suatu Sabtu mereka melanggar janji. Mereka pergi ke surga dan membuat gaduh di sana. Para dewa merasa terganggu. Ini terjadi beberapa kali. Dan yang lebih parah lagi, Dewa menjadi benar-benar murka. Salah satu dari para dewa menemui nenek dan memberitahu bahwa cucu nenek telah bersalah. “Semua orang sudah tahu tentang ‘larangan sabtu’, tapi kenapa cucu nenek melanggarnya”. Nenek memohon-mohon pengampunan pada Dewa. Namun Dewa menolaknya. Tragis ya?

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Yang saya ingat, di bagian akhir buku digambarkan tangga-menuju-surga itu karam ke laut dan nenek memandang ke arahnya dari pantai. Mungkin menyesali bahwa ia tak akan lagi bertemu cucu-cucunya itu untuk selamanya.

Saya kangen buku cerita itu. Ingin membacanya lagi. Ingin tahu apakah cerita itu persis seperti yang saya ingat sekarang. Tapi, apakah itu penting? Saya lupa bagaimana reaksi saya yang masih kanak-kanak setelah membacanya pertama kali. Apakah saya bersedih? Apakah saya lalu menceritakannya pada orang-orang? Mungkin. Mungkin juga tidak. Tapi saya masih mengenangnya sampai saat ini, setelah dua puluhan tahun.

**Ditulis 26 Juni 2008, diketik ulang dan diedit sana-sini 12 Juli 2008.

No comments: