Penyelenggaraan Jiffest 2006 terasa lebih baik. Entah karena baru tahun ini gue nonton lebih banyak film dari tahun2 sebelumnya, entah karena memang sistem membership, --yg dipandang skeptis oleh dua orang temen gue (the only potential people I go to jiffest with)--, ternyata membuat lo lebih mudah dan lebih terencana dalam mengikuti festival film ini, nonton maksudnya.
Sebenernya sih, kalau bisa cuti, gue rela banget untuk bikin gold card. I miss Black Book--the clossing film--, Breaking And Entering –-pasti tau kan Anthony Minghela? dan ada Jude Law pula--, Leila Khaled The Hijacker—film Iran, Sabah (Coldwater)—gambaran keturunan muslim di Kanada--, masih ada lagi nggak ya… udah kali. Lost City, Match Point, yang ternyata film2 bagus dan udah gue tonton dvdnya di bulan2 sebelumnya.
Jadi, di Jiffest kemaren itu gue nonton 5 film berikut: Little Miss Sunshine, Stranger of Mind, Russian Doll, Babel, After the Wedding. Dua film pertama yang gue tonton adalah film2 pertama yang menyenangkan dalam “sejarah gue nonton di jiffest”. Bukan apa2, kenangan yg paling nempel bagi gue nonton jiffest adalah saat nonton film Nobody Knows bareng Maya dan Ade. Film Jepang atau Korea (gue lupa) yang ceritanya sendu, miskin dialog, dan alurnya lambat banget. Kita bertiga sampe gantian tidur dan saling up date begitu melek hahaha.. mungkin juga karna kita nonton setelah seharian keluyuran trus nonton film model begitu yang mulainya aja jam setengah 10 malem.
Little Miss Sunshine
Film komedi tentang sebuah keluarga Amerika yang “nggak normal”. Si kakek orang yang out of control dalam bicara, fantasi seks masih tinggi dan ngedrugs pula, kasarnya nggak-inget-umur. Sang ayah gila kerja, sang paman yang patah hati dengan pasangan gay-nya dan baru aja terselamatkan dari usaha bunuh diri, sang kakak laki2 yang ngambek nggak diizinin sekolah penerbang trus mutusin untuk tidak berbicara, dan memilih berkomunikasi dengan kertas dan pensil, dan si adik perempuan usia 8 tahun yang terobsesi dengan kontes ratu2an. Mungkin cuma ibunya yang “agak normal”.
Film ini termasuk genre road movie, yaitu film yang tokoh2nya melakukan perjalanan. Perjalanan dimulai dengan kesepakatan keluarga ini untuk mewujudkan impian si kecil untuk ikut kontes Little Miss Sunshine di California. Berkendaralah mereka dengan VW kombi atau VW bread dari D’albuquerque ke Los Angeles. Selama perjalanan inilah banyak kejadian2 kocak dan juga mengharukan. Si paman yang ketemu ama mantan cowoknya, si kakek yang pengen majalah porno, si vw yang ngadat dan cuma bisa jalan setelah di dorong dan nggak bisa ngurangin kecepatan kecuali mesinnya bakal mati, si kecil yang anteng dgn headphone, si ayah yang dapet kabar kehilangan peluang bisnis, si kakak, Dwayne yang ngedapetin dirinya buta warna (sumpah! ini Adegan paling mengharukan di film ini), sampe si kakek yg mati overdosis di penginapan. Lengkap deh… lucu, sedih, tegang, terharu.
Secara garis besar sih ini film komedi, jadi ya… emang ada2 aja kejadian2 yang bikin kita bilang “ya ampuun..” tapi jadi terasa mungkin karna ini adalah film komedi. Perasaan setelah nonton ni film: puas ketawa tapi juga mirisss...
Stranger of Mind
Film komedi Jepang. Istimewanya film ini adalah alurnya yang ibarat kotak2 puzzle yang disusun acak. Seperti ada beberapa roll film yang menceritakan tentang masing2 tokoh, terus roll2 itu digunting dan disambung2 lagi dengan Adegan yang paralel. Jadi ditengah2 film kita jadi sering bergumam “oh… jadi yang tadi itu bla..bla..bla..”. Alurnya mengingatkan gue ama film Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino. Fokus cerita ada di seorang cowok yang namanya Miyamoto (bener nggak ya?) Dia tipe2 cowok kaku, lugu, tapi baik hati.
Awal cerita, miyamoto ditinggal pacarnya yang katanya mau nikah. Dia jadi nggak bergairah hidup karna dia cinta banget ama mantannya itu. Lalu teman baiknya di sma menyuruh dia kenalan dengan seorang Gadis yang mereka liat begitu aja di sebuah restoran, sambil temannya berpesan jangan lupa minta nomer telponnya. Kebetulan si Gadis baru putus cinta dan meninggalkan apartemen si cowok. Sebenernya Miyamoto enggan, tapi dia dipaksa oleh si teman. Malam itu si Gadis diajak nginep di apartemen Miyamoto, ini juga karna terpaksa sebab dia iba si Gadis nggak ada tempat tujuan, lagi pula Miyamoto masih cinta ama Ceweknya yang dulu. Ndilalahnya (bahasa indonesianya=ternyata…), Ceweknya ini dateng malem2. Si Gadis nggak enak hati (kita sangka begitu) langsung pamit, jadilah Miyamoto bingung bukan main tapi akhirnya mutusin untuk ngejar si Gadis dan berhasil minta nomer telponnya.
Di tengah2 film akhirnya kita tahu bahwa si Cewek ninggalin Miyamoto karna ngarep jadi istri ketua gank mafia, jadi nggak worthed untuk dipertahankan (kasian Miyamoto). Ternyata temannya ngajak ke restoran dan nyuruh dia kenalan sama si Gadis karna dia mau ngoprek apartemen Miyamoto untuk mencari sesuatu yang diperintahkan si mafia, dan si Cewek dateng ke apartemennya dengan tujuan yang sama. Kejutannya adalah, ternyata yang mengambil ‘sesuatu’ yang dicari2 itu adalah si Gadis, makanya dia cepet2 pamit. Dan lelucon terbesarnya adalah ‘sesuatu’ yang dicari2 itu ternyata beberapa gepok uang palsu yang dipake oleh si mafia untuk tujuan impresif dan berhasil memikat si Cewek untuk mau jadi pasangannya.
Di akhir Adegan, Miyamoto yang justru terlihat paling lega dan dengan penasaran berusaha menghubungi nomer si Gadis dan berkali-kali gagal. Si teman memandang dia dengan putus asa. Ah, merana sekali jadi Miyamoto.
Pulang dari nonton dua film ini gue dan Maya sepakat bahwa kita nggak salah pilih film di jiffest kali ini. Menghibur dan mengisi (mengisi ruang rasa maksudnya, hehehe..).
**Bingung nggak sama cerita gue? Yah…maklum catatan untuk pribadi…ya cuma gue yang ngerti. ;p
Sebenernya sih, kalau bisa cuti, gue rela banget untuk bikin gold card. I miss Black Book--the clossing film--, Breaking And Entering –-pasti tau kan Anthony Minghela? dan ada Jude Law pula--, Leila Khaled The Hijacker—film Iran, Sabah (Coldwater)—gambaran keturunan muslim di Kanada--, masih ada lagi nggak ya… udah kali. Lost City, Match Point, yang ternyata film2 bagus dan udah gue tonton dvdnya di bulan2 sebelumnya.
Jadi, di Jiffest kemaren itu gue nonton 5 film berikut: Little Miss Sunshine, Stranger of Mind, Russian Doll, Babel, After the Wedding. Dua film pertama yang gue tonton adalah film2 pertama yang menyenangkan dalam “sejarah gue nonton di jiffest”. Bukan apa2, kenangan yg paling nempel bagi gue nonton jiffest adalah saat nonton film Nobody Knows bareng Maya dan Ade. Film Jepang atau Korea (gue lupa) yang ceritanya sendu, miskin dialog, dan alurnya lambat banget. Kita bertiga sampe gantian tidur dan saling up date begitu melek hahaha.. mungkin juga karna kita nonton setelah seharian keluyuran trus nonton film model begitu yang mulainya aja jam setengah 10 malem.
Little Miss Sunshine
Film komedi tentang sebuah keluarga Amerika yang “nggak normal”. Si kakek orang yang out of control dalam bicara, fantasi seks masih tinggi dan ngedrugs pula, kasarnya nggak-inget-umur. Sang ayah gila kerja, sang paman yang patah hati dengan pasangan gay-nya dan baru aja terselamatkan dari usaha bunuh diri, sang kakak laki2 yang ngambek nggak diizinin sekolah penerbang trus mutusin untuk tidak berbicara, dan memilih berkomunikasi dengan kertas dan pensil, dan si adik perempuan usia 8 tahun yang terobsesi dengan kontes ratu2an. Mungkin cuma ibunya yang “agak normal”.
Film ini termasuk genre road movie, yaitu film yang tokoh2nya melakukan perjalanan. Perjalanan dimulai dengan kesepakatan keluarga ini untuk mewujudkan impian si kecil untuk ikut kontes Little Miss Sunshine di California. Berkendaralah mereka dengan VW kombi atau VW bread dari D’albuquerque ke Los Angeles. Selama perjalanan inilah banyak kejadian2 kocak dan juga mengharukan. Si paman yang ketemu ama mantan cowoknya, si kakek yang pengen majalah porno, si vw yang ngadat dan cuma bisa jalan setelah di dorong dan nggak bisa ngurangin kecepatan kecuali mesinnya bakal mati, si kecil yang anteng dgn headphone, si ayah yang dapet kabar kehilangan peluang bisnis, si kakak, Dwayne yang ngedapetin dirinya buta warna (sumpah! ini Adegan paling mengharukan di film ini), sampe si kakek yg mati overdosis di penginapan. Lengkap deh… lucu, sedih, tegang, terharu.
Secara garis besar sih ini film komedi, jadi ya… emang ada2 aja kejadian2 yang bikin kita bilang “ya ampuun..” tapi jadi terasa mungkin karna ini adalah film komedi. Perasaan setelah nonton ni film: puas ketawa tapi juga mirisss...
Stranger of Mind
Film komedi Jepang. Istimewanya film ini adalah alurnya yang ibarat kotak2 puzzle yang disusun acak. Seperti ada beberapa roll film yang menceritakan tentang masing2 tokoh, terus roll2 itu digunting dan disambung2 lagi dengan Adegan yang paralel. Jadi ditengah2 film kita jadi sering bergumam “oh… jadi yang tadi itu bla..bla..bla..”. Alurnya mengingatkan gue ama film Pulp Fiction-nya Quentin Tarantino. Fokus cerita ada di seorang cowok yang namanya Miyamoto (bener nggak ya?) Dia tipe2 cowok kaku, lugu, tapi baik hati.
Awal cerita, miyamoto ditinggal pacarnya yang katanya mau nikah. Dia jadi nggak bergairah hidup karna dia cinta banget ama mantannya itu. Lalu teman baiknya di sma menyuruh dia kenalan dengan seorang Gadis yang mereka liat begitu aja di sebuah restoran, sambil temannya berpesan jangan lupa minta nomer telponnya. Kebetulan si Gadis baru putus cinta dan meninggalkan apartemen si cowok. Sebenernya Miyamoto enggan, tapi dia dipaksa oleh si teman. Malam itu si Gadis diajak nginep di apartemen Miyamoto, ini juga karna terpaksa sebab dia iba si Gadis nggak ada tempat tujuan, lagi pula Miyamoto masih cinta ama Ceweknya yang dulu. Ndilalahnya (bahasa indonesianya=ternyata…), Ceweknya ini dateng malem2. Si Gadis nggak enak hati (kita sangka begitu) langsung pamit, jadilah Miyamoto bingung bukan main tapi akhirnya mutusin untuk ngejar si Gadis dan berhasil minta nomer telponnya.
Di tengah2 film akhirnya kita tahu bahwa si Cewek ninggalin Miyamoto karna ngarep jadi istri ketua gank mafia, jadi nggak worthed untuk dipertahankan (kasian Miyamoto). Ternyata temannya ngajak ke restoran dan nyuruh dia kenalan sama si Gadis karna dia mau ngoprek apartemen Miyamoto untuk mencari sesuatu yang diperintahkan si mafia, dan si Cewek dateng ke apartemennya dengan tujuan yang sama. Kejutannya adalah, ternyata yang mengambil ‘sesuatu’ yang dicari2 itu adalah si Gadis, makanya dia cepet2 pamit. Dan lelucon terbesarnya adalah ‘sesuatu’ yang dicari2 itu ternyata beberapa gepok uang palsu yang dipake oleh si mafia untuk tujuan impresif dan berhasil memikat si Cewek untuk mau jadi pasangannya.
Di akhir Adegan, Miyamoto yang justru terlihat paling lega dan dengan penasaran berusaha menghubungi nomer si Gadis dan berkali-kali gagal. Si teman memandang dia dengan putus asa. Ah, merana sekali jadi Miyamoto.
Pulang dari nonton dua film ini gue dan Maya sepakat bahwa kita nggak salah pilih film di jiffest kali ini. Menghibur dan mengisi (mengisi ruang rasa maksudnya, hehehe..).
**Bingung nggak sama cerita gue? Yah…maklum catatan untuk pribadi…ya cuma gue yang ngerti. ;p
No comments:
Post a Comment