Monday, October 17, 2005

Norwegian Wood: Haruki Murakami Pertamaku

Tidak ada orang yg suka kesendirian. Hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapat teman. Kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan.
--Watanabe, Norwegian Wood.

Novel Jepang terjemahan belum banyak. Dan sepertinya ini novel Jepang pertama saya. Pertamakali tertarik sama buku ini ya karna judulnya. Norwegian Wood. Yang terbersit di kepala ya.. Beatles. Lagu ini ada di album Rubber Soul, satu2nya Album Beatles yang saya punya.

Toru Watanabe sedang berada dalam penerbangan pesawat yang akan landing di bandara Hamburg ketika tiba2 saja dari pengeras suara terdengar instrumental Norwegian Wood, serta merta ia merasa gundah dan kepala seperti mau pecah. Ya..Norwegian Wood selalu membawanya pada satu kenangan pahit masa remajanya, 18 tahun yang lalu. Kenangan akan seorang gadis bernama Naoko.

Naoko bukan gadis yang cantik. Dia juga bukan teman ngobrol yang mudah. Saat Watanabe berkencan dengannya, Naoko lebih banyak diam. Watanabe pun bicara sekenanya saja. Naoko lebih banyak mendengarkan, walau kadang tertawa juga. Membosankan? Mungkin. Namun semakin lama Watanabe menaruh perasaan sayang padanya. Watanabe juga bukan orang yang ”normal”. Ia cenderung penyendiri. Buku lebih banyak menemani kesendiriannya di asrama, di kampus, di mana saja, sampai2 temen2nya di asrama menganggap ia ingin jadi pengarang.

Sebelum Naoko ada perempuan2 dalam hidup Watanabe. Tapi mereka tidak tinggal di hatinya. Mengenai hal ini Watanabe berujar, bahwa “mungkin di dalam hatiku ada cangkang yang keras. Yang bisa membelah dan masuk ke dalamnya sangat terbatas.” Hingga jatuh cinta pada seseorang adalah hal yang sulit terjadi. Lalu Naoko bertanya, “sampai saat ini kau tidak pernah mencintai sesorang?”. “belum”, jawab Watanabe.

Naoko menghilang. Lalu Watanabe bertemu dengan seorang gadis bernama Midori. Gadis bernama Midori menegurnya di kantin kampus:

“Kamu menyukai kesendirian ya? Kamu suka bepergian sendiri, makan sendiri, lalu dalam kuliah kamu duduk terpisah sendiri. Kamu memang menyukainya ya?

“Tidak ada orang yg suka kesendirian. Hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapat teman. Kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan.”

“Kalau kamu menulis otobiografi, kamu bisa menggunakan kata2 itu.”

***

“Apa kamu suka warna hijau?”

“Kenapa?”

“Karena kamu sedang memakai poloshirt warna hijau.”
“Jadi aku tanya apa kamu suka warna hijau?”

“Tidak menyukainya secara khusus.”
“Warna apapun tidak jadi masalah.”

“Aku betul2 suka cara bicaramu. Seperti mengecat tembok secara merata.”

***

Dialog-dialog seperti inilah yang menarik dari Norwegian Wood. Khas Jepang, garing, to the point, mengingatkan saya pada serial Jepang Tokyo Love Story atau Just the Way We Are. Tapi penggalan di atas adalah bagian yang paling saya suka.

Secara umum, setting novel ini dingin. Seandainya ada adegan ceria, maka itu dibarengi perasaan, “mereka aneh ya..”.

Watanabe mencintai Midori. “ Ya, aku mencintai Midori. Dan mungkin hal itu sudah kuketahui sejak lama. Aku hanya menghindari kesimpulan itu dalam waktu yang cukup lama”. Masalahnya adalah, bagaimana menjelaskan ini pada Naoko. Dia tidak ingin melukai perasaan Naoko. “Sampai saat ini aku mencintai Naoko, dan sampai sekarangpun aku masih mencintainya”. “cinta yang kurasakan terhadap Naoko begitu tenang, lembut, dan murni, sedang terhadap Midori sama sekali berbeda. Cinta itu seperti hidup; berdiri, berjalan, dan bernafas.” Rumit. Yang ada dibayangan saya mungkin Watanabe ingin sekali berteriak, “Bisakah, bisakah seseorang mencintai dua orang sekaligus?” seperti tokoh perempuan dalam Ave Maria karangan Idrus.

Novel ini tidak menyelesaikan Watanabe pilih siapa. Dan saya tidak ingin menjadi spoiler bagi yang belum membaca. Hanya gumam Watanabe yang saya ingat, “Kematian adalah kematian, dan Naoko tetap Naoko.” Dan Ia memiliki teorinya sendiri tentang kematian, “Kematian bukanlah lawan Kehidupan, tetapi ada sebagai bagian darinya.”

Saya rasa kalian akan jatuh cinta pada Norwegian Wood, kecuali mungkin bagi mereka yang cuma suka chicklit.


(dilanjutkan dan diselesaikan 13 Juni 2006)


**Meyesal sekali sudah melewatkan kesempatan membeli Norwegian Wood setengah harga di Pameran Buku Depdiknas

No comments: