Nggak terasa sudah sampai hari ke delapan bulan Agustus. Sebentar lagi Indonesia ulang tahun. Tadi lewat depan gedung arsip, ada pameran arsip nasional memperingati 6 dasawarsa bangsa Indonesia. Ingin menyempatkan diri melihat.
Hari Sabtu yang lalu akhirnya sempat juga nonton film Gie. Setelah minggu-minggu sebelumnya saya menyelesaikan baca Catatan Harian Seorang Demonstran. Sebagian orang, termasuk saya, mungkin baru baca CHSD menjelang rilis film Gie. Bukan apa-apa, waktu saya kuliah dulu konon buku ini tidak dijual bebas seperti sekarang. Teman saya bilang, "gue aja takut-takut dulu minjem buku itu dari temen". Nah, jadilah saya punya CHSD ini yang covernya Nicholas Saputra. Tapi sumpah, alasan beli buku ini bukan karna covernya. ;p
Dan akhirnya saya tahu lebih banyak tentang Gie, lebih banyak dari yang pernah saya baca di Intisari, dan jaauuhh lebih mengerti siapa dia sebenarnya. Bahwa Soe Hok Gie lebih dari sekedar salah satu orang cool yang mati di umur 27, ya Dia salah satu dari mitos itu. You know, Janis Joplin, Jimi Hendrix, James Dean, Jim Morrison, Chairil Anwar, mereka semua 'orang besar' di zamannya dan mati di angka keramat, 27, 2 ditambah 7 sama dengan 9, angka tertinggi. Mereka semua mati di puncak karir, berada di titik kulminasi, saat orang2 masih memuja mereka maka kematiannya membuat orang tak pernah melupakannya. Jika mereka hidup lebih lama, hidup sampai tua, mungkin mereka akan tenggelam dalam hiruk pikuk zaman, menjadi tidak produktif atau tidak berkarya sama sekali dan lama kelamaan dilupakan orang. Benarkah?
Balik lagi ke Gie, sebuah film oleh sutradara muda Riri Riza. Dialah Soe Hok Gie, seorang yang turut berdemontrasi menjatuhkan rezim Sukarno bersama gerakan mahasiswa tahun 1966, dan menuntut pembubaran PKI. Setelah rezim Sukarno jatuh dan militer berkuasa, dan banyak penindasan terhadap aktivis2 PKI, dia kembali mengkritik pemerintah soal ketidakadilan hukum atas mereka. Dia yang pernah menggalang aliansi mahasiswa-ABRI dalam gerakan massa menggulingkan rezim sukarno, merasa bertanggung jawab atas berkuasanya militer di negri ini yang mulai terlihat sewenang-wenang. Dia aktif mengkritik dengan tulisan2nya, sementara sebagian kawan-kawan seperjuangannya tengah menikmati empuknya kursi parlemen, karna kritik2nya itulah dia dibenci.
Terkadang dia bertanya2 pada dirinya, untuk apa semua ini, toh tulisan2 tidak mengubah apa pun. Tapi dia sendiri tak dapat membayangkan dirinya akan menjadi apatis terhadap ketidakadilan di negri ini. Dan akhirnya ia menyimpulkan, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Film garapan Riri Riza dan produser Mira Lesmana, mempercayakan tokoh Gie pada Nicholas Saputra, yang sebelumnya telah 2 kali membintangi film Miles production: Ada Apa dengan Cinta? dan Biola Tak Berdawai. Nico yang lebih bertampang bule daripada oriental ini, di-bonding dan dipotong cepak untuk memerankan Gie yang Cina. Sepintas tokoh Gie yang diperankan Nico mirip dengan tokoh Rangga: cerdas, suka baca buku, cool, dan penyendiri.
Mira pernah bilang dalam suatu wawancara dengan majalah, bahwa ide membuat Gie sudah ada sebelum dia berniat membuat AADC, tapi karna menggarap Gie adalah sebuah proyek besar yang butuh riset yang panjang terhadap tokohnya sendiri dan juga sejarah yang melatarbelakanginya, maka kerinduan akan sosok Gie dalam film ia adopsi untuk tokoh Rangga di AADC. Dan waktu itu Mira sukses membuat generasi muda kita (baca anak2 abg) menjadi suka puisi, ingin tahu tentang Chairil Anwar, tentang sastra.
Secara keseluruhan menurut saya Gie oke, setting tahun 60an terbangun dengan baik. Dari ilustrasi musiknya (antara lain lagu Nurlela-nya Bing Slamet), rumah, radio, koran, mobil-mobil, gedung-gedung tua, dan suasana jakarta tahun 60-an yang berhasil diangkat dengan mengambil lokasi di kota tua Semarang, yang katanya jauh lebih luas daripada kawasan kota tua Jakarta. Namun secara teknis, yang mengganggu dari film ini adalah: ilustrasi musik terkadang lebih keras dari narasi.
Skenario film ini digarap oleh Riri sendiri, hasil adaptasinya dari Catatan Harian Seorang Demonstran. Namanya sebuah adaptasi tentu tidak akan sama persis dengan bukunya. Di film, Riri memperlihatkan bagaimana Gie direkrut oleh Soemitro Djoyohadikusumo untuk memperkuat PSI, rapat2 dengan agen rahasia PSI, ulang tahun PKI yang besar2an, juga menciptakan tokoh baru --teman akrab Gie kecil yang masuk PKI.
Sosok Gie dalam film juga terkesan kaku pembawaannya, di samping pacarnya selalu kelihatan nervous, padahal kalau kita baca catatan hariannya dia justru terkesan sangat romantis dan peka. Apakah kecerdasan seseorang selalu berbanding lurus dengan ketidakromantisan dan ketidakluwesan?
Jadi, bagi mereka yang belum membaca catatan harian sang tokoh mungkin menonton Gie bisa jadi membosankan. Gie di film lebih dikedepankan sosok pemberontak, aktivis, penulis yang sangat aktif mengkritik ini-itu. Sedang sisi kehidupan sosialnya bersama teman2 perempuannya yang ditampilkan sedikit sekali terasa kurang mewakili sosok Gie, tidak utuh. Tapi, saya tetap merekomendasikan film ini, wajib bagi mereka yang suka sejarah, bagi yang kurang atau tidak suka, paling tidak nonton aktingnya Nico atau sekedar lihat tampangnya cukup menghibur kok...
**Gie memenuhi kriteria cowok yang gue banget: cerdas, baik, suka film, dan romantis ;p
Hari Sabtu yang lalu akhirnya sempat juga nonton film Gie. Setelah minggu-minggu sebelumnya saya menyelesaikan baca Catatan Harian Seorang Demonstran. Sebagian orang, termasuk saya, mungkin baru baca CHSD menjelang rilis film Gie. Bukan apa-apa, waktu saya kuliah dulu konon buku ini tidak dijual bebas seperti sekarang. Teman saya bilang, "gue aja takut-takut dulu minjem buku itu dari temen". Nah, jadilah saya punya CHSD ini yang covernya Nicholas Saputra. Tapi sumpah, alasan beli buku ini bukan karna covernya. ;p
Dan akhirnya saya tahu lebih banyak tentang Gie, lebih banyak dari yang pernah saya baca di Intisari, dan jaauuhh lebih mengerti siapa dia sebenarnya. Bahwa Soe Hok Gie lebih dari sekedar salah satu orang cool yang mati di umur 27, ya Dia salah satu dari mitos itu. You know, Janis Joplin, Jimi Hendrix, James Dean, Jim Morrison, Chairil Anwar, mereka semua 'orang besar' di zamannya dan mati di angka keramat, 27, 2 ditambah 7 sama dengan 9, angka tertinggi. Mereka semua mati di puncak karir, berada di titik kulminasi, saat orang2 masih memuja mereka maka kematiannya membuat orang tak pernah melupakannya. Jika mereka hidup lebih lama, hidup sampai tua, mungkin mereka akan tenggelam dalam hiruk pikuk zaman, menjadi tidak produktif atau tidak berkarya sama sekali dan lama kelamaan dilupakan orang. Benarkah?
Balik lagi ke Gie, sebuah film oleh sutradara muda Riri Riza. Dialah Soe Hok Gie, seorang yang turut berdemontrasi menjatuhkan rezim Sukarno bersama gerakan mahasiswa tahun 1966, dan menuntut pembubaran PKI. Setelah rezim Sukarno jatuh dan militer berkuasa, dan banyak penindasan terhadap aktivis2 PKI, dia kembali mengkritik pemerintah soal ketidakadilan hukum atas mereka. Dia yang pernah menggalang aliansi mahasiswa-ABRI dalam gerakan massa menggulingkan rezim sukarno, merasa bertanggung jawab atas berkuasanya militer di negri ini yang mulai terlihat sewenang-wenang. Dia aktif mengkritik dengan tulisan2nya, sementara sebagian kawan-kawan seperjuangannya tengah menikmati empuknya kursi parlemen, karna kritik2nya itulah dia dibenci.
Terkadang dia bertanya2 pada dirinya, untuk apa semua ini, toh tulisan2 tidak mengubah apa pun. Tapi dia sendiri tak dapat membayangkan dirinya akan menjadi apatis terhadap ketidakadilan di negri ini. Dan akhirnya ia menyimpulkan, “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”
Film garapan Riri Riza dan produser Mira Lesmana, mempercayakan tokoh Gie pada Nicholas Saputra, yang sebelumnya telah 2 kali membintangi film Miles production: Ada Apa dengan Cinta? dan Biola Tak Berdawai. Nico yang lebih bertampang bule daripada oriental ini, di-bonding dan dipotong cepak untuk memerankan Gie yang Cina. Sepintas tokoh Gie yang diperankan Nico mirip dengan tokoh Rangga: cerdas, suka baca buku, cool, dan penyendiri.
Mira pernah bilang dalam suatu wawancara dengan majalah, bahwa ide membuat Gie sudah ada sebelum dia berniat membuat AADC, tapi karna menggarap Gie adalah sebuah proyek besar yang butuh riset yang panjang terhadap tokohnya sendiri dan juga sejarah yang melatarbelakanginya, maka kerinduan akan sosok Gie dalam film ia adopsi untuk tokoh Rangga di AADC. Dan waktu itu Mira sukses membuat generasi muda kita (baca anak2 abg) menjadi suka puisi, ingin tahu tentang Chairil Anwar, tentang sastra.
Secara keseluruhan menurut saya Gie oke, setting tahun 60an terbangun dengan baik. Dari ilustrasi musiknya (antara lain lagu Nurlela-nya Bing Slamet), rumah, radio, koran, mobil-mobil, gedung-gedung tua, dan suasana jakarta tahun 60-an yang berhasil diangkat dengan mengambil lokasi di kota tua Semarang, yang katanya jauh lebih luas daripada kawasan kota tua Jakarta. Namun secara teknis, yang mengganggu dari film ini adalah: ilustrasi musik terkadang lebih keras dari narasi.
Skenario film ini digarap oleh Riri sendiri, hasil adaptasinya dari Catatan Harian Seorang Demonstran. Namanya sebuah adaptasi tentu tidak akan sama persis dengan bukunya. Di film, Riri memperlihatkan bagaimana Gie direkrut oleh Soemitro Djoyohadikusumo untuk memperkuat PSI, rapat2 dengan agen rahasia PSI, ulang tahun PKI yang besar2an, juga menciptakan tokoh baru --teman akrab Gie kecil yang masuk PKI.
Sosok Gie dalam film juga terkesan kaku pembawaannya, di samping pacarnya selalu kelihatan nervous, padahal kalau kita baca catatan hariannya dia justru terkesan sangat romantis dan peka. Apakah kecerdasan seseorang selalu berbanding lurus dengan ketidakromantisan dan ketidakluwesan?
Jadi, bagi mereka yang belum membaca catatan harian sang tokoh mungkin menonton Gie bisa jadi membosankan. Gie di film lebih dikedepankan sosok pemberontak, aktivis, penulis yang sangat aktif mengkritik ini-itu. Sedang sisi kehidupan sosialnya bersama teman2 perempuannya yang ditampilkan sedikit sekali terasa kurang mewakili sosok Gie, tidak utuh. Tapi, saya tetap merekomendasikan film ini, wajib bagi mereka yang suka sejarah, bagi yang kurang atau tidak suka, paling tidak nonton aktingnya Nico atau sekedar lihat tampangnya cukup menghibur kok...
**Gie memenuhi kriteria cowok yang gue banget: cerdas, baik, suka film, dan romantis ;p
No comments:
Post a Comment