Sunday, March 20, 2005

Tentang Hari Minggu yang Santai, Tentang Film Banyu Biru

Senang sekali menikmati minggu pagi dengan roti bakar isi telur dadar+sambal belibis, nonton gosip pagi-pagi, sambil sesekali genjrang-genjreng gitar . Hal lain yang saya nikmati ialah mencuci baju. Entah sudah berapa lama aktivitas itu tak pernah saya lakukan lagi karena cuma hari sabtu dan minggulah kesempatan untuk itu ada. Dan kesempatan yang sudah lama saya tunggu-tunggu adalah nonton Ceriwis. ;p
Pokoknya asik. Sarapan, main gitar, gosip, nyuci, nonton tv. Selebihnya pengen tidur................

Hari-hariku memang sangat padat dua bulan terakhir. Tidak ada hari sabtu-minggu yang terlewat tanpa ngantor. Tapi saya beruntung masih bersemangat untuk nonton Teater Koma awal maret lalu. Juga masih sempat nonton film terbarunya Tora Sudiro, Banyu Biru, yang katanya disebut bergaya surealis. Temen saya bilang, “endingnya kok gitu doang, maksudnya apa, nggak jelas. Moral of the story-nya apa, nggak nyampe”. Bodo ah, yang penting kan yang maen Tora Sudiro. Dan lagi saya suka kok liat pernak-pernik yang ditampilin di film (di rumah bapaknya si Banyu), genta anginnya itu lho... pengen deh. Kalo di Petualangan Sherina pengen lampu tidurnya, di Cinta Dalam Sepotong Roti pengen kitiran anginnya, di Daun Di Atas Bantal pengen kotak jangkriknya. Ah sayangnya kotak jangkrik yang saya dapet dari temem saya udah nggak bunyi lagi dan nggak tahu kemana perginya.

Ngomong-ngomong soal film Banyu Biru, saya suka dengan gambar filmnya, terang benderang, visualisasinya indah, gaya ceritanya menggunakan narasi. Gaya cerita seperti ini saya suka, seperti dalam Legend of the Fall, atau The Prince of Tide. Rasanya seperti membaca novel. Saya juga suka dialog antara Banyu dengan Sula.

“Kamu kenal saya?”

“Kamu Banyu kan?”
“Kamu punya adik namanya Biru”
"Adik kamu meninggal"
"lalu ibu kamu meninggal"
"kamu pergi"
"ayah kamu pergi, tapi saya tidak tahu kemana"

“Apa lagi yang kamu tau?”

Penggalan tadi itu bagian dari adegan yang menurut saya adalah adegan paling romantis sepanjang film. Sayang saya tidak cukup pandai untuk mengingat kata-kata, detil dialognya. Tapi kira-kira begitulah dialognya. Tapi saya masih ingat jelas suasananya, bagaimana manisnya dialog itu, bagaimana bahasa tubuh Tora, Dian Sastro, juga gambarnya yang bagus.

Banyu kecil punya keluarga yang bahagia: ayah, ibu, dan juga adik yang disayanginya. Sampai suatu hari adiknya, Biru, meninggal karena tenggelam di kolam renang rumahnya sendiri. Sejak itu ibunya sering melamun dan bertengkar dengan ayahnya. Ibunya meninggal dalam perasaan bersalah. Sejak itu Banyu benci Ayah, ia menganggap ayahlah penyebab ibunya meninggal, ayahlah yang tidak peka akan kesedihan sang ibu atas kematian Biru. Ayahlah sumber kemalangan keluarga mereka. Karna itu Banyu lari dari Ayah dan membawa serta dendam yang mengganjal di hati. Sampai sepuluh tahun kemudian ia ingin membebaskan dirinya dari itu semua. “Kalau punya masalah itu jangan dipendam, tetapi harus dipecahkan” begitu orang-orang menasehatinya.

Ternyata Sula adalah “secret admirer’-nya Banyu. Mereka mengenang kembali masa kecil, tentu menurut yang Sula tahu tentang Banyu, sambil melihat pemandangan indah entah dimana. Saat Banyu bilang ia akan pergi untuk menemui ayahnya, dia melihat wajah Sula. Lalu dia mengatakan bahwa ia akan kembali.

“10 tahun lagi?” tanya Sula.

“Kayaknya, nggak selama itu deh..”


Singkatnya, Banyu berhasil bertemu sang Ayah dan bicara dari hati. Banyu bilang, yang dia ingat ayah berubah jadi semakin pendiam setelah Biru meninggal, lebih sering pulang malam, marah-marah sama ibu, keluarga mereka jadi tidak ceria lagi. Lalu Ayah bilang, pikiran kanak-kanak Banyu tidak menangkap yang sebenarnya, bahwa ayahnya sangat mencintai ibunya, bahwa ayahnya mencintai keluarganya, bahwa ayahnya juga menyesali kematian adiknya, bahwa ayahnya ingin ibunya memahami kematian Biru sebagai takdir. Tetapi ibu justru berkubang pada rasa bersalah yang tidak hanya membuat dirinya sendiri hancur, tapi juga membuat hancur perasaan ayah dan Banyu. “APA YG KAMU INGAT BELUM TENTU ITU YANG TERJADI, Banyu.” kira-kira itu yang diungkap Ayah pada Banyu saat mereka bicara di rumah di tepi pantai. Ternyata Banyu salah. Ayah mungkin juga salah tidak membereskan sangkaan Banyu dari dulu. Dan di rumah di tepi pantai itu keduanya menyamakan persepsi dan saling memaafkan.

Ini film nggak melulu bikin alis nyureng. Ada adegan-adegan kecil yang bisa bikin kita ketawa. Kita juga bisa lihat aktingnya Tora yang lain. Selama ini kan kita sudah sering liat tampang banyolnya Tora di Extravaganza, tapi di film ini kita puas lihat wajah close up-nya, dia bisa jutek, bisa serius banget, juga bisa bertampang manis yang bukan ngelucu.

**Mulai suka Tora pas main di sinetron Malam Pertama.

No comments: