Wednesday, October 22, 2008

Ini Gosip Bukan?

“If it’s very painful for you to criticize your friends—you’re safe in doing it. But if you take the slightest pleasure in it, that’s the time to hold your tonge.”
—Alice D. Miller



Tidak biasanya suatu sore minggu lalu seorang teman-saya negor di YM. Kami ngobrol sedikit. Agak menyebalkan, karna tiba-tiba gayanya persis encik-encik mangga dua. Ber-saya dengan 'ai', ber-kamu dengan 'yu'. Tapi akhirnya kami pulang bareng, bertiga—satu orang lagi teman-kami ketemu di stasiun. Di kereta—akhirnya kami putuskan naik yang ekonomi AC—kami duduk berjejer, teman-saya berbuka dengan martabak dan juga bakpau, kami pun ngobrol. Ngobrol macem-macem, ke utara ke selatan, bahasa Jawa-nya 'ngalor ngidul'. Asyik. Mungkin karena sudah lama tak melakukannya.

Saya tidak begitu ingat kami ngobrol apa saja. Beli susu nggak? "Besok gue libur. Bos gue mau tunangan." Capek banget nih udah 8 hari kerja berturut-turut pulang malem melulu. Apa lagi ya? Bunga tabungan makin kecil ya. Mungkin juga soal dampak runtuhnya Lehman Brothers yang sampai ke Indonesia. Wuihh..Atau sudah saatnya berinvestasi dalam bentuk emas? Mungkin itu obrolan makan siang saya tadi di kantin. Eh, tapi bukannya kita sempet terpikir untuk lihat-lihat Goldmart di Margocity? Oh iya, Syafii Antonio bilang (di acara Apa Kabar Indonesia Malam?) “Sudah saatnya kita negara-negara di Asia memikirkan satu currency Asia seperti yang dilakukan oleh Eropa demi mengimbangi hegemoni USD”. “Siapa yang menguasai currency akan menguasai ekonomi, siapa yang menguasai ekonomi, akan menguasai dunia.”, begitu beliau menambahkan. “Kita tidak bicara ingin menguasai. Tapi kita tidak ingin di-zholimi”. Saya setuju banget Pak Anthonio. Hei, saya pernah ketemu beliau di Gramedia Matraman, belanja setumpuk buku. Wah...wah…itu novel bukan, Pak? "Eh, gue belum nonton Laskar Pelangi, abis kata si Fitri bagusan novelnya". Lha…emangnya dia baca. Haha…jangan percaya dia! Terus ngobrol…ngobrol…dan ngobrol…

Ada pendapat, "Tipikal ngobrol dengan sesama perempuan, kalo udah kelamaan, ujung-ujungnya pasti bergosip." Saya agak sebel juga ada pendapat begitu. Tapi lebih sebel lagi karena ini beneran terjadi sore itu. ;p Untung yang jadi topik gosip bukan temen sendiri, tapi selebritis. Lho kok untung? Iya, mengutip kata temen-saya-yang-lain, "kalo ngegosipin orang itu dosa, tapi ngegosipin seleb nggak..". Waktu itu saya protes, "selebritis juga manusia lagi…" (Seriues jadi inspirasi. Kalimat itu bahkan sempet jadi judul serial sinetron), eh dia malah ngomong, "siapa bilang? mereka itu komoditi tau..". Astaga, teganya! Tapi toh lama-lama, secara diam-diam saya menyetujui yang dia bilang. Haha…Temen-saya-yang-lain-lagi pernah bilang, “cewek demen banget ya ama infotainment, gosip arteiss”. "ihh…enak aja, gak sekedar gosip lagi…di sana juga ada peristiwa kehidupan yang bisa lo maknai. “huahaha…mencoba me-mutu-kan infotainment lo?”. Hehehe…begitu ya? Muak juga sih kalo keseringan;p


Di depan kami bertiga berdiri seorang mbak-mbak, yang sepertinya sama dengan kami: pulang kerja, kelihatan capek. Bedanya, kami sibuk ngobrol-diselingi-tawa-sesekali sedangkan si Mbak sibuk baca koran lokal ibukota—yang di halaman belakang ada rubrik khusus gosip selebritis. Kami mengintip koran si Mbak. Di halaman belakang koran itu ada foto Andara Early. Beritanya soal perceraiannya yang kedua. Nah..dari sinilah obrolan berbelok ke gosip. "Emang suami yang kedua ini kenapa siy..", kata teman-saya prihatin. "Masalah ekonomi kali. Liat aja, si Andara ngemsi terus...terlalu ngoyo untuk acara tivi yang 'kurang bergengsi' lah menurut gue". Wow, teman kami memang tajam kalau beropini, sok tau pula (saya manggut-manggut hehe…). Andara habis dianalisis, lalu topik bergeser ke putusnya hubungan Riyanti dan Banyu Biru. "apa? pacaran 9 tahun berakhir cuma gara2 kesibukan? Klise.", saya nimbrung. "Sayang banget ya.." /"bela-belain safari ramadhan, stripping sinetron meranin tokoh yang mirip ama di film dia sebelumnya. Pengulangan yang gak penting sama sekali"/"Gak penting buat elo, buat dia berarti banget kalee.."/"yah…nggak tau juga sih, mungkin produser ngasih tawaran yang nggak bisa dia tolak."/”kayak tawarannya the Godfather dong. Hehe…”/"iya, dia gak sadar baru aja melewatkan kesempatan memiliki anak bernama belakang DJAROT"/"haha.."/"iya, gak maen-maen tuh, nama keramat di Perfilman Indonesia”/. “Siapa coba yang gak tau film Tjoet Nya' Dhien(1988)?”/ “Iya, siapa yang bisa lupa ama ost Badai Pasti Berlalu (1977)?"/"eh, ada satu lagi"/"apaan?"/"hidung mancung nan legendaris"/"huahaha..gak penting"

Kami bertiga tertawa geli. Dan tiba-tiba teman-saya nyeletuk, "orang-orang pada nggak bersyukur ya..". Ups… Bersyukur. Wah serius nih, kami bicara tentang ‘bersyukur’ jangan-jangan kami (lebih tepatnya: saya) sendiri yang tidak melakukannya.

Dua orang teman tadi masih bicara-bicara. Tapi saya teringat sesuatu. "hei, kalian turun mana? Gue di sini aja ya, pondok cina"/"ngapain?"/"beli earphone. duluan ya…dadah.."

*Ini Untuk lo Ris!

No comments: