
“Shall we go to a restaurant or something? Shall we get a bite before we go home?” John said, “No, I want to see Sean before he goes to sleep.” And he never saw Sean.
[Yoko Ono, Interview, Newsweek July 19, 1999 ]
Saya teringat John Lennon sewaktu menulis ‘8 Desember’ di catatan harian saya. Saya ingat di tanggal itu Sang Legenda meninggal tertembak mati di pinggir jalan di depan Dakota building, Manhattan New York, tahun 1980. Seseorang yang mengaku sebagai fansnya mengarahkan sepucuk pistol sambil menggumamkan kalimat-kalimat Holden Caulfield, tokoh dalam The Cathcer in The Rye karya J.D. Salinger, 1951. Setidaknya demikian, seingat saya, yang dilakukan Mark David Chapman dalam film Chapter 27 (2007).
Saat itu umur Lennon barulah 40 tahun. “They say life begins at 40, and if that is true, I am ready...”, kata John. Dia memang telah memulainya. Setelah lama vakum—menggantung gitar dan beralih mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memanggang roti, berjalan-jalan dengan Sean, si buah hati—akhirnya John merilis album Double Fantasy pada November tahun itu. “..I suddenly could do it again with ease. All the songs that are on Double Fantasy all came within a period of 3 weeks.”, klaim John dalam sebuah wawancara.
Saya masih tergolong bayi waktu ini semua terjadi. John Lennon pun hanya saya dengar dari komentar-komentar orang di sekeliling kalau melihat ada orang berkaca mata bundar. “hmm.. kaca mata John Lennon”. Setelah saya agak besar dan mulai membaca majalah Hai, barulah ada pengetahuan lebih tentangnya. Setelah itu, entah di tahun berapa, saat Beatles kembali menggejala di Indonesia, di rumah ada 2 kaset baru Beatles. Kaset yang satu, entah album yang mana, tiba-tiba dikantongi begitu saja oleh salah satu oom saya saat arisan keluarga di rumah. Yang sebuah—Rubber Soul—menjadi menu saya setiap hari. Dan saya jadi hafal seluruh lagu di Rubber Soul dan lalu saya jadi merasa 'berhak' berpredikat sebagai 'Penggemar Beatles' waktu itu. Hehehe.
Waktu saya kuliah, tidak sengaja saya nemu sebuah cerpen Putu Wijaya tentang orang yang membunuh John, Mark David Chapman, di sebuah antologi cerpennya yang berjudul Gres, Balai Pustaka, cetakan 1987. Kertas bukunya sudah kuning, jilidannya pun sudah mau lepas, tapi saya memutuskan tetap membelinya. Dan ternyata Putu menceritakan sesuatu pandangan yang lain, dan baru untuk saya waktu itu. Belakangan J.P. Schaefer mengisahkan dari sudut yang sama dalam Chapter 27 (2007). Putu menuturkan pleidoi dari Mark David Chapman di cerpen itu. Saya tidak tahu apakah cerpen ini dibuat berdasarkan pleidoi aslinya atau ini hanya hasil kontemplasi seorang Putu, seorang sastrawan, yang melihat segala sesuatu tidak hitam-putih, tapi juga melihat sisi lain yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya oleh khalayak umum. Putu brilian. Dia melakukan yang lebih baik dari pembuat film Chapter 27 (2007), menurut saya. Saya sama sekali tidak dapat ‘masuk’ atau berempati sedikit pun pada David Chapman selama menonton film itu. Tidak ada emosi yang timbul.
Sebaliknya, membaca cerpen Putu, saya seperti benar-benar berada di sebuah ruang sidang dan menatap ke wajah terdakwa dengan rasa benci, gregetan, mungkin juga ingin menampar, ketika pertama kali membaca baris-baris berikut ini:

“Saya tidak membunuh John, saya hanya menembaknya beberapa kali. Saya memuntahkan peluru-peluru baja itu ke dalam tubuhnya yang saya cintai. Di dalam tubuh itu tersimpan juga spirit perdamaian, kasih sayang serta simpati kepada pergerakan kaum wanita, sebagaimana yang menyala dalam tubuh saya sendiri. Bagaimana mungkin saya merusakkan sesuatu yang persis sama dengan diri saya?”
“Saya hanya menyapanya. Dengan cara yang menyakitkan banyak orang barangkali. Tetapi kini saya dapat bukti yang jelas sekali, bahwa manusia masih bisa mencintai manusia lain. Bahwa seorang yang hidup di abad yang sudah dirobek-robek oleh konsep, pandangan politik, kemajuan teknologi dan sebagainya ini masih bisa memberikan perhatian pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang tiba-tiba meninggal di pinggir jalan di New York.”
“Barangkali saya menembak karena sudah kena hipnotis. Barangkali karena saya iri bukan sayalah John lennon,…Barangkali karena inspirasi konyol untuk dicatat dalam sejarah. Barangkali karena sukma saya gelisah mengingat ucapan-ucapannya yang mengecilkan Kristus di masa lalu. Barangkali karena saya melihat dengan sedih kesia-siaanya untuk memprotes sesuatu dalam demostrasi maupun lirik-lirik lagunya.”
“Saya tidak membunuh siapa-siapa. Saya justru melahirkan John Lennon menjadi jutaan dalam sekejap. Saya memecahkan kaca yang mengurungnya dan mendistribusikan perjuangannya menjadi nyata. Dan itu membuat banyak orang menangis, marah dan mengutuk. Ini adalah bagian terburuk dari usaha ini.”
“Kalau saya dihukum sekarang, segalanya ini akan sia-sia. Segalanya akan berlangsung kembali seperti dulu. Dan John yang baru saja lahir dalam diri setiap orang perlahan-lahan akan mati. Lalu kematiannya akan sama saja dengan kematian jutaan orang…karena segera akan dilupakan.” **
How DARE you Chapman!!! Mungkin itu yang bergemuruh di hati saya waktu itu, ketika membaca cerpen Putu. Tapi di sisi lain saya seperti ingin percaya, bahwa mungkin lebih baik John mati (waduh, kualat nggak nih?), lalu akan selalu ada momen untuk mengenangnya, menghayati karyanya. Tapi jika John masih hidup, bukan tak mungkin masih banyak karya yang akan beliau buat bukan? Mana yang lebih baik buat dunia?
Yang jelas fans John Lennon merespons negatif film yang dibintangi Jared Leto dan Lindsay Lohan, “Why Don’t Those “Chapter 27” People Make a Film About John Lennon Instead of Mark David Chapman?”, gugat mereka. Dan memang filmnya jelek menurut saya. Datar, tidak menggugah. Mungkin kurang panjang, kurang menggali hubungan Chapman dengan bukunya Mr. Salinger, bagaimana dia terpengaruh, dan sebagainya. Padahal judul Chapter 27, kalau tidak salah, dibuat seolah itu adalah chapter lanjutan dari The Catcher in The Rye yang berakhir di chapter 26. Ah saya juga sudah lupa, nontonnya pun cuma sekali. Tapi Cerpen Putu itu justru masih nempel di pikiran saya dan langsung terngiang-ngiang begitu saya ingat kematian Lennon saat menuliskan tanggal 8 desember di catatan harian saya, tempo hari.
**kutipan dari cerpen berjudul 1981 karya Putu Wijaya
No comments:
Post a Comment