Mark David Chapman, 25 tahun, lelaki yang membunuh John Lennon itu melangkah dengan tenang ke dalam gedung sidang. Ia mengangkat sumpah dengan suara yang jelas, sehingga seluruh hadirin yang penuh sesak dalam ruangan dapat mendengar suaranya. Kemudian ia memandang kepada hakim dan para juri dengan pandangan hormat. Setelah itu ia mengucapkan pengakuannya.
"Saya tidak membunuh John," ujarnya, "saya hanya menembaknya beberapa kali. Saya memuntahkan peluru-peluru baja itu ke dalam tubuhnya yang saya cintai. Di dalam tubuh itu tersimpan juga spirit perdamaian, kasih sayang serta simpati kepada pergerakan kaum wanita, sebagaimana yang menyala dalam tubuh saya sendiri. Bagaimana mungkin saya merusakkan sesuatu yang persis sama dengan diri saya?"
"Saya hanya menyapanya. Dengan cara yang menyakitkan banyak orang barangkali. Tetapi kini saya dapat bukti yang jelas sekali, bahwa manusia masih bisa mencintai manusia lain. Bahwa seorang yang hidup di dalam abad yang sudah dirobek-robek oleh konsep, pandangan politik, kemajuan teknologi dan sebagainya ini masih bisa memberikan perhatian pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang tiba-tiba meninggal di pinggir jalan di New York. Bahwa manusia ternyata masih memiliki air mata, memiliki rasa simpati, memiliki rongga kasih sayang yang terbuka, walaupun peperangan, permusuhan, kesimpangsiuran telah menyebabkan dunia seakan-akan sudah bebal menghadapi kematian di Vietnam, Bangladesh, El Salvador, Iran, Indonesia, Polandia, Afrika Selatan, Cuba, dan sebagainya."
"Barangkali saya menembak karena sudah kena hipnotis. Barangkali karena saya iri karena bukan sayalah John Lennon, tapi John Lennon sendiri. Barangkali karena inspirasi konyol untuk dicatat dalam sejarah. Barangkali karena sukma saya gelisah mengingat ucapan-ucapannya yang mengecilkan Kristus di masa lalu. Barangkali karena saya melihat dengan sedih kesia-siaannya untuk memprotes sesuatu dalam demonstrasi maupun lirik lagu-lagunya. Apa gunanya itu kalau tidak mengubah apa-apa, hanya membuat seorang menjadi terkenal, makin terkenal, jadi pahlawan dan kaya? Sementara apa yang ingin kita ubah tetap kukuh dan makin menenggelamkan dunia ini?"
"Saya tidak membunuh siapa-siapa. Saya justru melahirkan John Lennon menjadi jutaan dalam sekejap. Saya memecahkan kaca yang mengurungnya dan mendistribusikan perjuangannya menjadi nyata. Dan itu membuat banyak orang menangis, marah, dan mengutuk. Ini adalah bagian terburuk dari usaha ini. Bahwa sekarang, misalnya, saya dihadapkan kepada sebuah sidang yang dihuni oleh orang-orang yang terpilih di negeri ini. Yang akan menentukan saya salah atau benar. Sementara saya telah mencoba berbuat kebajikan, untuk membuka sebuah tahun baru dan meninggalkan tahun yang penuh dengan kemelut politik serta kemerosotan ekonomi."
"Kalau saya akan dihukum sekarang, segalanya ini akan sia-sia. Segalanya akan berlangsung seperti dulu. Dan John yang baru saja lahir dalam diri setiap orang perlahan-lahan akan mati. Lalu kematiannya akan sama saja dengan kematian jutaan orang. Cukup menyedihkan, tapi tak ada gunanya karena segera akan dilupakan. Hal ini sudah berkali-kali kita alami sehingga kita curiga apakah kita benar-benar menginginkan perubahan atau tidak. Apakah kita hanya ingin tampak sebagai orang gelisah yang ingin dunia ini lebih damai, manusia saling cinta mencintai, seluruh umat hidup berdampingan dan bersaudara, padahal, padahal jauh di dalam hati kita, kita sebenarnya lebih suka segalanya berjalan seperti sekarang. Bergolak, perang, kesia-siaan, penderitaan, kepura-puraan, kepalsuan, kekerasan, perubahan-perubahan yang drastis dan mendadak, serta bencana yang sambung-menyambung."
"Saya tidak tahu. Saya segera akan tahu, sesudah nanti para juri memberikan keputusannya dan sesudah Hakim Yang Mulia mengetukkan palunya untuk mengakhiri proses yang sangat penting ini. Tapi saya kira, setiap orang kini sedang menimang John Lennon di dalam dirinya. Dan tinggal beberapa detik lagi untuk memasuki sebuah tahun baru yang disebut oleh orang Cina sebagai tahun ayam jantan. Tahun yang mestinya sudah dimulai dengan perubahan yang radikal terhadap segala kekejaman dan kesia-siaan yang selama ini diam-diam kita pelihara. Untuk itu tak ada jalan lain yang lebih dekat selain membebaskan saya dengan sebuah keputusan yang revolusioner, kontroversial, menyakitkan nilai-nilai lama tetapi sekaligus mengukuhkan John dalam hati setiap orang."
"Ketahuilah, saya tidak membunuh John, saya melawan sebuah sistem dan menghendaki adanya perubahan dan tidak ingin disebut sebagai pahlawan, tetapi juga bukan seorang penjahat."
"Saya tidak lebih baik, tapi juga tidak lebih buruk dari setiap yang hadir di sini. Kita pada akhirnya rata-rata sama. Seorang yang memerlukan kebahagiaan dan menginginkan dunia ini lebih menjamin perdamaian dan persaudaraan. Dan barangkali saya sekarang bukan semata-mata milik saya sendiri. Saya hanyalah wakil, saya bukan lagi Chapman, tetapi adalah bagian dari lubuk hati Saudara-saudara semua yang tidak berhasil Saudara ekspresikan sendiri. Dan pengadilan ini, bukan lagi sebuah badan formal yang dibentuk oleh negara, tetapi hanya proses batin yang terjadi pada diri setiap orang."
"Jadi Saudara-saudara, Hakim Yang Mulia serta para juri yang saya hormati, tak ada jalan untuk keluar dari peristiwa kecil ini sebagai pemenang dan orang besar, selain bertindak selangkah lebih maju. Tidak berarti saya tidak berani mendapat hukuman. Juga tidak berarti bahwa saya mengingkari tanggung jawab saya telah membuat beberapa orang pencinta John sedih atau mungkin bunuh diri. Saya cuma ingin menjelaskan bahwa lebih baik, lebih berguna, lebih dekat kepada target, apabila Chapman, dalam hal ini saya, dibebaskan. Kalau perlu diberi ganti rugi atas ketelanjuran mengikuti proses yang panjang, menghabiskan tenaga, dan sia-sia ini. Sekian. Terima kasih."
Chapman kemudian mengatupkan mulutnya. Meskipun mulut itu sendiri agaknya masih kepingin bergerak lebih banyak. Ia memandang ke sekitarnya, seakan-akan meyakinkan, apakah semua sudah mendengar benar apa yang diucapkannya. Kemudian ia melangkah. Melangkah keluar dari sidang itu. Ia keluar melalui pintu depan dan langsung masuk ke dalam lop pistolku.
Dengan pistol itu kemudian aku turun ke jalan raya. Siap untuk membunuh seseorang di Jalan Thamrin. Seorang yang aku cintai yang ingin aku lahirkan dalam diri setiap orang. Karena aku tidak hanya merindukan perubahan-perubahan, tapi ingin tahun yang baru ini diisi oleh hal-hal yang menjamin bahagia lebih banyak, lebih panjang serta lebih nyata untuk setiap orang. Tanpa melahirkan pahlawan-pahlawan baru.
"Saya tidak membunuh John," ujarnya, "saya hanya menembaknya beberapa kali. Saya memuntahkan peluru-peluru baja itu ke dalam tubuhnya yang saya cintai. Di dalam tubuh itu tersimpan juga spirit perdamaian, kasih sayang serta simpati kepada pergerakan kaum wanita, sebagaimana yang menyala dalam tubuh saya sendiri. Bagaimana mungkin saya merusakkan sesuatu yang persis sama dengan diri saya?"
"Saya hanya menyapanya. Dengan cara yang menyakitkan banyak orang barangkali. Tetapi kini saya dapat bukti yang jelas sekali, bahwa manusia masih bisa mencintai manusia lain. Bahwa seorang yang hidup di dalam abad yang sudah dirobek-robek oleh konsep, pandangan politik, kemajuan teknologi dan sebagainya ini masih bisa memberikan perhatian pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang tiba-tiba meninggal di pinggir jalan di New York. Bahwa manusia ternyata masih memiliki air mata, memiliki rasa simpati, memiliki rongga kasih sayang yang terbuka, walaupun peperangan, permusuhan, kesimpangsiuran telah menyebabkan dunia seakan-akan sudah bebal menghadapi kematian di Vietnam, Bangladesh, El Salvador, Iran, Indonesia, Polandia, Afrika Selatan, Cuba, dan sebagainya."
"Barangkali saya menembak karena sudah kena hipnotis. Barangkali karena saya iri karena bukan sayalah John Lennon, tapi John Lennon sendiri. Barangkali karena inspirasi konyol untuk dicatat dalam sejarah. Barangkali karena sukma saya gelisah mengingat ucapan-ucapannya yang mengecilkan Kristus di masa lalu. Barangkali karena saya melihat dengan sedih kesia-siaannya untuk memprotes sesuatu dalam demonstrasi maupun lirik lagu-lagunya. Apa gunanya itu kalau tidak mengubah apa-apa, hanya membuat seorang menjadi terkenal, makin terkenal, jadi pahlawan dan kaya? Sementara apa yang ingin kita ubah tetap kukuh dan makin menenggelamkan dunia ini?"
"Saya tidak membunuh siapa-siapa. Saya justru melahirkan John Lennon menjadi jutaan dalam sekejap. Saya memecahkan kaca yang mengurungnya dan mendistribusikan perjuangannya menjadi nyata. Dan itu membuat banyak orang menangis, marah, dan mengutuk. Ini adalah bagian terburuk dari usaha ini. Bahwa sekarang, misalnya, saya dihadapkan kepada sebuah sidang yang dihuni oleh orang-orang yang terpilih di negeri ini. Yang akan menentukan saya salah atau benar. Sementara saya telah mencoba berbuat kebajikan, untuk membuka sebuah tahun baru dan meninggalkan tahun yang penuh dengan kemelut politik serta kemerosotan ekonomi."
"Kalau saya akan dihukum sekarang, segalanya ini akan sia-sia. Segalanya akan berlangsung seperti dulu. Dan John yang baru saja lahir dalam diri setiap orang perlahan-lahan akan mati. Lalu kematiannya akan sama saja dengan kematian jutaan orang. Cukup menyedihkan, tapi tak ada gunanya karena segera akan dilupakan. Hal ini sudah berkali-kali kita alami sehingga kita curiga apakah kita benar-benar menginginkan perubahan atau tidak. Apakah kita hanya ingin tampak sebagai orang gelisah yang ingin dunia ini lebih damai, manusia saling cinta mencintai, seluruh umat hidup berdampingan dan bersaudara, padahal, padahal jauh di dalam hati kita, kita sebenarnya lebih suka segalanya berjalan seperti sekarang. Bergolak, perang, kesia-siaan, penderitaan, kepura-puraan, kepalsuan, kekerasan, perubahan-perubahan yang drastis dan mendadak, serta bencana yang sambung-menyambung."
"Saya tidak tahu. Saya segera akan tahu, sesudah nanti para juri memberikan keputusannya dan sesudah Hakim Yang Mulia mengetukkan palunya untuk mengakhiri proses yang sangat penting ini. Tapi saya kira, setiap orang kini sedang menimang John Lennon di dalam dirinya. Dan tinggal beberapa detik lagi untuk memasuki sebuah tahun baru yang disebut oleh orang Cina sebagai tahun ayam jantan. Tahun yang mestinya sudah dimulai dengan perubahan yang radikal terhadap segala kekejaman dan kesia-siaan yang selama ini diam-diam kita pelihara. Untuk itu tak ada jalan lain yang lebih dekat selain membebaskan saya dengan sebuah keputusan yang revolusioner, kontroversial, menyakitkan nilai-nilai lama tetapi sekaligus mengukuhkan John dalam hati setiap orang."
"Ketahuilah, saya tidak membunuh John, saya melawan sebuah sistem dan menghendaki adanya perubahan dan tidak ingin disebut sebagai pahlawan, tetapi juga bukan seorang penjahat."
"Saya tidak lebih baik, tapi juga tidak lebih buruk dari setiap yang hadir di sini. Kita pada akhirnya rata-rata sama. Seorang yang memerlukan kebahagiaan dan menginginkan dunia ini lebih menjamin perdamaian dan persaudaraan. Dan barangkali saya sekarang bukan semata-mata milik saya sendiri. Saya hanyalah wakil, saya bukan lagi Chapman, tetapi adalah bagian dari lubuk hati Saudara-saudara semua yang tidak berhasil Saudara ekspresikan sendiri. Dan pengadilan ini, bukan lagi sebuah badan formal yang dibentuk oleh negara, tetapi hanya proses batin yang terjadi pada diri setiap orang."
"Jadi Saudara-saudara, Hakim Yang Mulia serta para juri yang saya hormati, tak ada jalan untuk keluar dari peristiwa kecil ini sebagai pemenang dan orang besar, selain bertindak selangkah lebih maju. Tidak berarti saya tidak berani mendapat hukuman. Juga tidak berarti bahwa saya mengingkari tanggung jawab saya telah membuat beberapa orang pencinta John sedih atau mungkin bunuh diri. Saya cuma ingin menjelaskan bahwa lebih baik, lebih berguna, lebih dekat kepada target, apabila Chapman, dalam hal ini saya, dibebaskan. Kalau perlu diberi ganti rugi atas ketelanjuran mengikuti proses yang panjang, menghabiskan tenaga, dan sia-sia ini. Sekian. Terima kasih."
Chapman kemudian mengatupkan mulutnya. Meskipun mulut itu sendiri agaknya masih kepingin bergerak lebih banyak. Ia memandang ke sekitarnya, seakan-akan meyakinkan, apakah semua sudah mendengar benar apa yang diucapkannya. Kemudian ia melangkah. Melangkah keluar dari sidang itu. Ia keluar melalui pintu depan dan langsung masuk ke dalam lop pistolku.
Dengan pistol itu kemudian aku turun ke jalan raya. Siap untuk membunuh seseorang di Jalan Thamrin. Seorang yang aku cintai yang ingin aku lahirkan dalam diri setiap orang. Karena aku tidak hanya merindukan perubahan-perubahan, tapi ingin tahun yang baru ini diisi oleh hal-hal yang menjamin bahagia lebih banyak, lebih panjang serta lebih nyata untuk setiap orang. Tanpa melahirkan pahlawan-pahlawan baru.
Jakarta, 16 Desember 1980
No comments:
Post a Comment