Seorang teman baik saya mengabarkan, "Si A mau umroh. Kamu mau titip doa?" Saya jawab, "Bagaimana kalau kamu bilang ke si A supaya jangan lupa doain saya. Hehe".
Ini kedua kalinya teman baik saya ini mengabarkan teman umroh dan menawarkan, eh bukan, menganjurkan saya untuk "titip doa". Dan jawaban saya masih sama seperti dulu. Intinya saya berterima kasih dan memilih tidak "menitip" apa-apa.
Saya sempat berpikir, jangan-jangan teman saya ini kecewa. Bahwa saya tak mengikuti sarannya, bahwa saya terlalu sombong, bahwa saya tidak cukup rendah hati untuk percaya kekuatan doa, yang dipanjatkan di tanah suci, dan sebagainya.
Saya tahu teman saya melakukan ini karna sayang, karna peduli pada saya. Saya bersyukur untuk itu. Makasih ya, saya tahu kamu tidak baca ini. Dan saya mohon maaf, saya tidak bisa ikuti saran, anjuran, atau apalah namanya, untuk menulis kalimat-kalimat pribadi saya pada Tuhan di secarik kertas yang akan dibacakan oleh mereka yang berumroh di tanah suci. Maaf. Saya tidak bisa.
Saya percaya Tuhan. Saya percaya suratan takdir. Saya juga percaya Tuhan menghargai usaha, keinginan, juga impian manusia, karena itu saya percaya kekuatan doa. Dalam doa kamu berdialog, berbicara langsung, mengutarakan keinginan, impian, cita-cita, rencana, sambil dengan sadar bahwa mungkin Tuhan sudah menyiapkan suratan takdir untukmu, yang mungkin berbeda (atau SERING KALI berbeda?) dengan keinginan kamu, rencana kamu.
Sejak lama saya percaya, Tuhan tidak memberi harga mati pada manusia. Ada hal-hal yang bisa 'ditawar'. Setidaknya pemikiran seperti ini menjawab kenapa ada sesuatu yang kita sebut Mujizat. Sesuatu yang jauh dari 'mungkin', tapi bisa terjadi.
Kalau kamu bisa langsung berbicara pada-Nya, kenapa tak langsung saja? Kenapa harus meminjam mulut orang lain untuk membacanya, merapalkannya? Mungkin kamu akan bilang begini: Hei! Ini bukan soal langsung atau tidak. Ini soal 'dimana' doa dipanjatkan.
Hati saya ragu.
Benarkah tempat menjadi soal bagi Tuhan? Bukankah Dia yang berucap, "..sesungguhnya AKU ini DEKAT, lebih dekat dari urat lehermu"? Itu artinya dimana saja kamu berada dan berdoa, Tuhan pasti dengar, bukan?
Ada yang berbisik: Lalu apa yang menyebabkan Dia "mendengarkan"doa yang satu dan "mengabaikan" yang lain?
Saya sendiri tak yakin soal "mengabaikan".
Karena Tuhan yang saya bayangkan bukanlah si Bruce Almighty yang kewalahan dengan doa-doa manusia. Saya ingat cerita seorang teman, "Adik gue sering minta izin sesuatu ke bokap, tapi sering nggak diizinin. Terus gue nanya ke beliau 'kenapa' nggak diizinin." Saya nyambung, "..karna adik lo cewek bukan?". Teman saya itu bilang, "Bukaann..!! Bokap gue bilang, 'Adik kamu tuh nggak sungguh-sungguh. Cuma pengen-pengen doang. Tekadnya nggak kuat. Buktinya nggak nyiapin apa-apa. Dan lagi, dia juga nggak maksa tuh' Nah..., mungkin gitu juga pemikiran bokap lo.." Dan saya cuma bereaksi "Hah?!"
Mungkin tebakan teman saya waktu itu benar. Tapi sayang, saya pun tak punya keberanian untuk mencari tahu benar tidaknya "hipotesis" dia terhadap sikap ayah saya yang saya ceritakan ke dia. Dan sekarang saya malah berpikir, jangan-jangan "hipotesis" ini berlaku juga pada sikap Tuhan atas doa-doa saya...
Mungkin dibutuhkan tekad yang menggumpal, gairah yang membuncah, persiapan yang bukan ala kadarnya, dan usaha yang berimbang dengan doa. Mungkin Tuhan butuh penegasan apa maunya kamu. What, "butuh"?! Tuhan gitu loh, Dia tak kenal terminologi 'butuh', saya kira. Mungkin Dia menilai siapa yang layak Dia beri, apa yang pantas kamu terima. Tapi itu semua hanya sangkaan saya saja. Semoga Gusti Allah sendiri yang akan menuntun saya, jika tersesat, di dunia, pun, dalam doa.
Tiba-tiba ada yang bisik-bisik, "..memangnya doa-doa kamu tentang apa?" Dalam hati saya cuma, "..ihh..mau tau aja deh.." ;-)
Thursday, May 21, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment