Sunday, September 20, 2009

Lilin-lilin Malam Lebaran dan Segelas Kopi


Ada lima batang lilin yang menyala di pagar rumah kami. Apinya menari-nari kesana kemari tertiup angin dingin sehabis hujan yang cukup lebat sore tadi. Lampu-lampu di beranda dimatikan. Juga lampu jalan di depan rumah. Itu semua dilakukan demi menikmati kesyahduan malam dalam temaram nyala lilin yang hanya lima batang itu. Ayah saya yang membelinya di warung sepulang dari mesjid.

"Ini lampu-lampu dimatiin apa nggak dimarahin Pak RT?", tanya saya.
"Nggak papa, Pak RT kan sudah berangkat mudik. Biar kita nikmati malam takbir dengan lilin-lilin ini."
"Kayak di Padang?"
"Iya, di rumah kami di Padang, dulu pasang lilin-lilin begini. Tapi malam 27.""
Oh, menyambut Lailatul Qadar ya?"
"Mungkin.."

Ya, kami berdua yang menyalakannya dengan gembira, ditingkahi celoteh anak-anak kecil, yang salah satunya dulu sering kugendong. Mereka sudah besar-besar sekarang. Bermain bergerombol, tak terpisahkan, mampir di depan pagar bercengkrama bersama kami. Ibu saya masih di dalam, mungkin mencuci piring, atau toples.

Saya dan ayah saya kembali ke living room yang juga temaram cahaya lilin dari luar. Masih ada juga pendar cahaya televisi. Sambil mengobrol, ayah saya bercerita, segelas kopi daerah (kali ini Kok Tong dari Siantar) menemani kami menonton televisi. Metro TV menampilkan Taufiq Ismail. Buya ini sudah tua juga ya. Saya mengenalnya dari buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah (masa SMA?). Mungkin dari baris sajak yang ini:

"Tiga anak kecil
dalam langkah malu-malu
datang ke Salemba sore itu.

Ini dari kami bertiga
pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami turut berduka
bagi Kakak yang ditembak mati
Siang tadi."


Iya, yang ini saya hafal.

Dari dulu saya tak pernah bisa tidak menoleh dan terdiam di depan televisi yang memuat dirinya. Sajaknya hampir selalu prosa. Dia selalu bercerita. Dulu soal Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya, soal Sebuah Jaket Berlumur Darah, dan tadi dia bercerita tentang Seorang Anak Yatim di Sebuah Pesta Ulang Tahun Tetangganya. Saya membayangkan sedang diceritakan oleh Kakek, yang saya temui mungkin hanya sekali di usia 7 tahun waktu itu. Kenangan masa-masa bersamanya tak banyak. Lebih banyak dari cerita ayah saya.

**

Dalam waktu enam jam dari sekarang kami akan ke mesjid. Bersama orang-orang lain merayakan Hari Raya. "Orang sini nyebutnya Lebaran. Kalo kami menyebutnya'Hari Rayo'", kata ayah saya tadi, masih saja menyelipkan beberapa kenangan masa kecilnya. Karena semasa SMA-nya sudah di Jakarta. Yah, Pa, apapun yang Papa pernah ceritain, aku nggak bakal lupa.

Lilin-lilinnya sudah mati dari tadi. Sumbunya sudah habis terbakar. Lampu-lampu jalan mungkin sudah dari tadi dinyalakan kembali oleh ibu saya. Ayah saya sudah tidur sejak tadi. Ibu saya masih bicara di telepon, mungkin dengan kakaknya. Di tape, Zeke masih berteriak "the sun is shining when rainbow crush tonite..". Mata saya masih terbuka lebar. Saya curiga, kopi-kopi dari daerah ini ternyata berpengaruh sekarang. Andai saya punya berbagai kopi seperti ini zaman kuliah dulu, saya bisa membaca sampai pagi. Pasti saya bisa dapat A untuk Sosiologi, atau mungkin nggak perlu ngulang Pengantar Antropologi. Hehe..;-) Sudahlah. Besok lebaran. Pesan-pesan singkat masih saja datang. Saya sendiri belum ada ide untuk mengetiknya. Mungkin besok. Mungkin besok bakal lupa.

Maafkan saya, Teman.:-)

No comments: