Dulu seorang teman pernah bertanya pada saya, “…jadi, apa yang lo dengerin waktu kecil?” My Bro, album inilah salah satunya. Kamu mungkin tidak pernah tahu album ini. Tapi saya rasa kamu kenal nama Franky dan Jane. Ya, Franky Sahilatua. Berita tentang beliau beberapa kali muncul di media akhir-akhir ini. Franky dan Jane dengan albumnya Siti Julaika, sedikit banyak punya andil dalam masa tumbuh saya. Terakhir diputar waktu player kaset masih berjalan dengan baik, sudah bertahun-tahun lalu. Sekarang player kaset yang ada di rumah sudah rusak.
Album itu, orang tua saya yang beli, sekitar awal dekade 80-an. Untuk konsumsi mereka sebenarnya, eh malah saya yang sering minta diputarkan waktu itu. Kenapa? Karena saya suka lagu Anak-anak Negeri. Di lagu itu ada percakapan dua anak kecil yang salah satunya bernama sama dengan saya. “Baby, kenapa sih orang-orang yang minum Coca-cola di televisi itu kok tepuk-tepuk tangan terus?” Lalu mereka menyebut ‘Hoya’, sebuah kata yang cukup populer di mata kami sebagai anak-anak waktu itu. “Hei! Lihaat! Hoya, Hoya, Hoya Ya! Mainannya bagus-bagus ya?” Dan juga, ada kalimat yang berulang-ulang di sana yang membuat lagu itu menempel di kepala si kecil ‘saya’, “…belikan dong…belikan dong…” Duh, mungkin saya waktu itu belum terlalu paham dengan isi lagunya, tapi malah ketagihan minta diputarkan, “Pa, setelin kaset ‘belikandong’!”, padahal lagu itu ceritanya sedih. Sekaligus menyentil kenangan di sana sini. Saya hampir menangis barusan saat mendengarkan lagi lagu itu.
Tahun lahir anak-anak itu masing-masing cuma beda setahun dengan tahun lahir Kakak dan saya. Hanya saja, kakak saya laki-laki. Dan mungkin taraf hidup sosial-ekonomi orang tua mereka tak jauh beda dengan orang tua saya. Mau tak mau memang jadi sentimentil. :) Waktu kecil mungkin saya cuma tertarik Anak-anak Negeri. Lalu, setelah bertahun-tahun kasetnya tak tersentuh di tumpukan koleksi kaset ayah saya yang sebagian besar adalah musik Melayu Deli, Melayu Minang, Gamad, Talempong dan lain-lainnya itu, saya kembali memutarnya sesekali dalam rentang waktu yang cukup lama. Mungkin saat SMP sampai SMA dan masa kuliah, cukup intense juga menyerap musik dan lirik-liriknya yang bertema balada dan sarat dengan kritik dan narasi kehidupan sosial masyarakat kita. Hampir semua lagu pernah jadi favorit saya, di samping lagu-lagu seperti (ehm!) Don’t Cry, You’re All I need, Creep, Fixing a Broken Heart, Kirana, dan sebagainya.“Baby, kenapa sih, orang-orang yang minum Coca-Cola di televisi itu tepuk-tepuk tangan terus?
“Iya dong, minum Coca-Cola kan enak, senang.
“Baby pernah minum?
“Pernah”
“Kasih mau deh minum”
“Baby juga mau. Tapi kan harus beli. Kasih punya uang?”
“Nggak. Minta saja sama Ibu.”
“Huuh..nggak akan diberi. Bisa-bisa malah dimarahi.”
“Kenapa?”
“Uang Ibu kan sedikit”
“Kalau uang Ibu sedikit, kenapa kemarin beli televisi?”
“Nggak tahu deh, tanya saja sendiri”
Mereka lahir ’72 dan ‘76
Baby dan Kasih gadis yang manis
Keduanya merupakah masa depan
Anak negeri, anak-anak kita
“Nanti filmnya apa sih?”
“Bionic Woman”
“Kok nggak Tom and Jerry? Kasih kasihan deh sama Tom. Habisnya masa kucing kalah terus sama tikus.”
“Hei, lihat! Hoya, Hoya, Hoyaya! Mainannya bagus-bagus ya? Kapan kita ke sana?"
Lagu Siti Julaika di album itu bercerita tentang pasangan muda pekerja pabrik gula, Siti Julaika dan Durakim, yang kemudian menikah. Dengan gaji yang sama-sama kecil, mereka menabung bersama untuk membeli sebuah rumah. Akhir cerita, mereka di-PHK justru saat anak pertama lahir. “Mereka menikah bulan berikutnya/ dengan upacara sederhana saja/ dengan upah kerja sedikit saja.// Setiap bulan menabung bersama/untuk sebuah rumah cinta./ Ketika lahir anak pertama/ mereka sudah tidak bekerja.//Pabrik gula kurangi tenaga kerja/ mesin-mesin telah tiba.”
Ada lagu yang judulnya Hari Ini Telah Terbaca yang menyiratkan kelelahan kita pada berita media yang mau tak mau mengisi keseharian kita, yang bisa jadi, berperan mengikis keriangan kita . “Hari ini telah terbaca/ Tentang banjir dan gajah mati/ Gempa bumi dan para pencuri/ Harga-harga tinggi.//Berita-berita selalu berpihak pada bencana./ Dimanakah kegembiraan? Ungkapkan padaku/ Halaman pertama penderitaan dan perang saudara./Mana halaman kita?// Buang saja semua koran/ Kuncikan pintu-pintu/ Bukalah catatan diri sendiri/Di sanalah hati nurani.” Perhatikan, semua berita itu masih kita baca akhir-akhir ini: gajah mati, gempa bumi, perang saudara. Liriknya masih relevan sampai saat ini.
Penulis liriknya adalah Yudhistira Massardi, penulis novel Arjuna Mencari Cinta dan ayah dari gitaris Iga Massardi. Yudhis yang menulis semua lirik di album ini, entah di album Franky &Jane lainnya. Di lagu Percakapan Akhir Pekan, Franky dan Yudhis mengajak kita sejenak untuk melupakan masalah-masalah hidup dan menyimak percakapan pasangan yang sedang berkelakar menghibur diri mereka sendiri.
+Lihat, Adik!Ada satu lagu yang juga jenaka dan cukup monumental, yaitu Balada Joni dan Nani. Ceritanya tentang pertemuan muda-mudi bernama Joni dan Nani di buah terminal bis. Joni pun melancarkan rayuan mautnya. “Halo Manis, aku Joni mau menemanimu/ Tanpa si Joni segala kecantikan sia-sia/ Tanpa si Joni untuk apa dandan tiap hari?” Nani yang letih akhirnya berterus terang. “Dengarlah Joni, aku kehilangan Toni/ Kawini aku Joni, jadilah papi si jabang bayi.” Joni diceritakan memilih menelan kembali rayuan yang sudah telanjur dimuntahkannya. “Dengan hati gundah Joni keluar restoran/ Celana blue jeans, sepatu karet, oblong putih/ Sepanjang jalan Joni gerundelan/ Sepanjang jalan Joni bilang ‘sialan’.” Haha.
-Buah pikiranmu?
+Poster iklan mobil baru.
-Jangan pedulikan itu bukan untuk kita
+Kalau saja ada uang
-Cari kerja dulu
+Impian akhir pekan. Hehe..
Bertahun-tahun begitu
selalu Menghibur diri agar tak putus asa
+Sabar, Adik!
-Jangan menggurui
+Kutulis lamaran lagi
-Kalau gagal juga, pergi saja ke dalam hutan
+Mau apa di sana?
-Mencari ilham
+Tunggulah akhir pekan. Hehe..
Menyenangkan lho, bisa mendengarkan lagi lagu-lagu dari masa kecilmu. Walaupun tidak semua lagu di album itu ada di internet dan bisa kamu unduh, tetapi yang saya temukan sudah lumayan. Dan kasetnya pun masih tersimpan baik dalam satu kotak kardus di bawah meja ini. Barusan saya menemukannya.





Bung Franky saat ini sedang terbaring sakit. Semoga pengobatannya berhasil dan Tuhan memberikan yang terbaik. Dia telah memberi sesuatu yang berharga bagi banyak orang. Termasuk saya.
p.s.
Hoya itu sebuah tempat bermain anak-anak sekaligus toko mainan yang—mungkin kami perlu merengek-rengek dulu untuk diajak Mama-Papa pergi ke sana. Saya sendiri tak terlalu ingat ada apa saja di sana dan apa yang jadi favorit kami kalau pergi ke sana. Sekelumit ingatan, saya pernah naik kuda-kudaan putih yang dimasukkan koin di punggungnya. Selebihnya tak ingat lagi. Bahkan setelah melihat dan membaca halaman ini.
2 comments:
Saya juga penggemar berat Franky & Jane... Terima kasih telah melepaskan kerinduan saya terhadap almarhum Franky Sahilatua...
suka banget dengan tulisannya...saya salah seorang penggemar lagu2 Franky & Jane yg sederhana liriknya tapi menyentuh (yg sulit ditemukan di lagu masa kini)...kini ketika membuka kembali file lagu2nya, lirik2 mereka masih terasa relevan dengan kondisi masa kini yg relatif tidak berubah meski telah puluhan tahun lagu2 ini mengarungi masa...
Post a Comment