Seorang wanita, pernah sekali Papa baca, seyogyanya mencintai musik. Wanita yang tidak menyukainya, kata bacaan itu selanjutnya, akan menyebabkan hidup tidak tertahankan apabila ia dilanda duka cita.
—Pramoedya Ananta Toer
Pramoedya sukses bikin saya senyum-senyum sendiri sore-sore hari Sabtu kemarin. Karena waktu baca teks di atas itu pikiran saya tiba-tiba mengubah kata 'duka cita' menjadi kata 'galau'. Haduh, banjir kata yang satu itu bikin otak overrated gini. Jadi sore itu, teksnya kebaca begini: Seorang wanita... seyogyanya mencintai musik. Wanita yang tidak menyukainya... akan menyebabkan hidup tidak tertahankan apabila ia dilanda
Mana lebih dulu, dengerin lagu-lagu sedih kemudian kita menjadi galau atau sebaliknya? Seperti Rob Gordon bilang, "What came first, the music or the misery?". Kalau mengacu kutipan di atas, berarti kesedihan garis miring kegalauan (atau apapun itu namanya) datang lebih dulu. Lalu bersama musik, hidup ditahan-tahankan untuk tetap berjalan—dan dinikmati saja. Dan dengerin musik menjadi kegiatan untuk konfirmasi kesedihan. Lagu-lagu tertentu dipilih untuk memperkuat asumsi bahwa kamu tidak sendiri. Apalagi, kalau liriknya mewakili perasaanmu saat itu. Banyak kok yang bersaksi hal-hal semacam itu, dan bertebaran juga di blog-blog. Hehe.
Tapi bisa juga terjadi sebaliknya lho. Karena sering mendengarkan atau memainkan lagu sedih, lantas jalan hidup seolah mengikuti cerita di lagu-lagu sedih favoritmu.Yakin? Yah nggak perlu keyakinanlah untuk ngomongin beginian, ya nggak? Bebas aja mau percaya atau nggak, lagian dunia kan hanya dua sisi mata uang, sisi yang satu lagi bisa saja muncul di lemparan-lemparan keping yang berikutnya. Maka waspadalah! Haha.
Mungkin awalnya, mungkin, dari musiklah kamu mengenal kesedihan. Bahkan sebelum kata ‘sedih’ ada dalam perbendaharaan kosa katamu. Kejadian berikut bisa jadi cermin bagi saya untuk menduga-duga hal ini. Suatu saat, saya menyaksikan perempuan kecil umur 2 tahun, tercenung di depan TV yang memutar VCD lagu bersedih: musik Gamad. Setelah lagu berkumandang sekitar 2-3 menit, dia menghampiri kakeknya yang sedang baca koran di dekatnya dan berujar “Lagunya nangis ya, Yah.”—dia panggil kakeknya ‘Ayah’. Si kakek tertawa, menyingkirkan korannya, merangkulnya dan mengguncang-guncang cucunya itu. Lalu bilang, “Iya sayang, ini namanya sedih.” Mungkin diguncang-guncang itu untuk menghilangkan rasa yang sedang berlangsung di hati anak itu, sebentuk rasa, yang namanya pun baru dia tahu saat itu, saat menyimak musik Gamad. :)
Kembali ke kata-kata Rob Gordon, "What came first, the music or the misery?". Bagaimana menurutmu?

Saya mulai mengenal satu perasaan yg susah dijelaskan dengan kata-kata, ketika pertama kali mendengar lagu 'Damai Tapi Gersang' tak sengaja dari kaset yg diputer lamat-lamat oleh tetangga sebelah rumah. Saya masih kelas 3 SD (atau kelas 4, saya lupa tepatnya) saat itu, entah ada apa dengan lagunya. Mungkin progresi nadanya, seperti gabungan antara pasrah tapi juga sekaligus jaga-jaga. Ketika beberapa tahun kemudian penyanyinya dikabarkan meninggal dalam usia relatif muda, saya membaca berita dukanya di koran lokal, perasaan itu kian susah dijelaskan. "...hidupmu sebentar saja..." demikian salah satu kalimat di lagu itu. Seolah ada yg telah terbaca sebelumnya, semacam rasa waspada, pada sesuatu entah apa?
ReplyDeletewah, pengalaman spiritual! eh
ReplyDeletesedih ya, Bud, kisah Adjie Bandi ini, kayak bisa meramalkan hidupnya.
pertama kali denger 'Damai Tapi Gersang' (sekitar awal 2004, krn ada yg puter di kantor) saya mikirny
a itu lagu gospel, bagus banget. megah dan syahdu dan bikin penasaran, nempel di kepala berhari-hari.