JiFFest kemarin mungkin akan hambar seandainya saya gak nonton Three Monkeys. Drama Turki sepanjang 109 menit yang membuat kami, penontonnya, menebak-nebak lalu bergumam "oh" ketika satu adegan menjawab pertanyaan di adegan sebelumnya. Tak ada bahasa "langsung" yang menyatakan scene ini tentang apa, sehingga kita bisa abai sejenak terhadap satu adegan di film--dan beralih konsentrasi ke popcorn, misalnya. Sebab dari sanalah kita merangkai cerita. Adegan sepele pun bisa berarti sesuatu: apakah itu sebuah jawaban dari adegan sebelumnya atau sebuah teka-teki baru.
Dibuka dengan scene malam hari, larut dan sepi, sepasang suami istri berkendara di sebuah jalan. Tiba-tiba mereka melihat beberapa meter di depan sana tergeletak seorang manusia di jalan. Di dekatnya ada sebuah mobil. Kosong. Tak
ada pengemudi. Lalu mereka turun dan mendapati orang yg terkapar itu sudah mati, yang berarti 'tak butuh dilarikan ke rumah sakit segera'. Mereka memilih tak mau berpayah-payah lalu pergi sambil bilang "kita catat nomor mobilnya aja". Tak lama setelah mobil pasangan itu menjauh, sesosok laki-laki muncul dari persembunyian dengan keringat bercucuran dan wajah panik, tergesa-gesa masuk mobil, mengelap keringat dingin di wajah dan telapak tangan, lantas tancap gas. Dia meninggalkan korbannya yang basah oleh gerimis. Kami mencatat: "oh, ada tabrak lari". Di adegan selanjutnya ada gambar-gambar si pengemudi tabrak lari tadi sebagai politisi partai. "oh, pantesan dia sembunyi. dia takut karirnya hancur bukan?". Lalu kita melihat si pengemudi--politisi itu--menemui seorang bapak dan mengatakan sesuatu dan kita menangkap sepotong kalimatnya "kau akan dapat imbalan yang lumayan". Kita mencatat: "oh, si politisi menyuruh bapak ini mengaku sebagai pengemudi mobilnya? bukankah tadi dia menyebut kata imbalan?". Setiap dugaanmu di satu adegan akan mendapatkan jawabannya di adegan berikutnya atau beberapa adegan setelahnya. Santai saja. Tidak membuat kening berkerut kebingungan. Tidak menuntut konsentrasi berlebihan juga kok.
Kamu bahkan akan sempat tertawa pada adegan-adegan tanpa dialog sekalipun. Ada satu scene: Seorang perempuan terlihat baru mulai membuka mulut mau bicara kepada laki-laki di seberang meja ketika telepon di meja berdering lagi. Dia sudah lama diam sejak tadi menunggu si laki-laki menyelesaikan pembicaraan di telepon. Kesempatan bicara tertunda, lagi. Lama juga. Mata perempuan itu bergerak-gerak melihat ke sekeliling ruangan dengan tenang seolah jauh dari kebisingan suara laki-laki itu. Pembicaraan telepon akhirnya selesai dan laki-laki itu memberi ekspresi "what's up" pada wajahnya. Pada saat yang sama, dering handphone berbunyi, lagunya berirama padang pasir dengan lirik norak cinta-cintaan. Si perempuan gugup mencari-cari handphone-nya di dalam tas. Lama. Merogoh-rogoh, meraba-raba, lama baru ketemu. Dan setelah dapat, deringnya berhenti. Makasih. Depressing! Tapi kami malah tertawa puas sambil mengunyah cheese burger (yang gak tau kenapa terasa enak sekali malam itu) untuk menawar rasa lapar dan dinginnya AC.
Akhirnya, inilah drama tentang pengorbanan, kesetiaan, dan pengkhianatan. Ada seorang politisi yang melarikan diri dari Hukum. Ada seorang bapak yang berkorban demi nama baik majikan yg politisi, juga demi perbaikan ekonomi keluarga. Ada seorang istri yang tidak menghargai pengorbanan dan kepercayaan suami sebagai sesuatu yang berharga dan karena itu harus dijaga. Ada seorang anak yang tak bersemangat tapi pada akhirnya sangat ekspresif dan tau kepada siapa dia harus berpihak dan membela. Ada pembunuhan yang membebaskan beban. Ada kondisi konflik tokoh-tokohnya yang rumit dan emosional. Ditambah kejutan di akhir film yang membuat kita bersimpati pada si bapak yang menempuh sebuah penyelesaian brilian. Kita tak tau akan berhasil atau tidak, apakah ia akan baik-baik saja setelahnya, mengingat kepercayaan yang sudah terkoyak sedemikian rupa. Hanya ada deras hujan dan petir yang menjawab.
Tiket film ini adalah tiket JiFFest terakhir yang saya punya. Rasanya sudah cukup. Pulang dengan berjalan santai sajalah karena untuk mengejar kereta terakhir masih banyak waktu.
Batur, 22 Desember 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment