“...have you ever seen that little one-page 'Note to Reader' in the front of Look Homeward, Angel? Anyway, he says that we are the sum of all the moments of our lives and that, uh, anybody who sits down to write is gonna use the clay of their own life - that you can't avoid that.”
[Jesse Wallace--Before Sunset, 2004]
Mungkin inilah sebabnya mengapa hal-hal berbau curcol kadang susah untuk dihindari saat kita menulis. NH Dini adalah salah satu penulis yang banyak menulis tentang kehidupan pribadi di novelnya. Tokoh-tokoh di novelnya bukanlah rekaan semata. Bicara soal menulis di blog, bukannya saya tak ingat bahwa seseorang pernah memperingatkan, “hati-hati, blog itu rawan intip, situ exibisionist, di sini voyeur”. Nasehat yang berharga (tapi..., emh..., apa sih yang mau diintipin dari blog ini?) Walau demikian, saya sendiri merasa setidaknya harus baca ulang apa yang saya tulis dan menyamarkan seperlunya (oh, plis deh), barulah post dan publish. Dan tentu saja saya tak akan ceroboh dengan membabi buta menyampah di blog tentang semua yang sedang berlangsung in my daily life, apalagi yang menyangkut hal pribadi.
Well, menurut saya sih sah saja jika kamu bisa menuliskannya dengan bagus. Eh, harus bagus ya? Itu lebih untuk ke diri saya sendiri sih sebenernya, maksudnya ngapain sih nulis hal pribadi gitu aja? Buatlah hal itu menjadi yang layak dibaca, walaupun sebenarnya belum tentu ada yang baca blog ini juga sih ;p Yah, yang detail soal "dimana-saya-menaruh-obat-sakit-kepala" kan ada tempatnya: di buku harian, di telepon-telepon panjang malam hari, di email, misalnya, atau di suatu pertemuan yang diatur sedemikian rupa menjadi obrolan panjang di sudut sebuah tempat makan ditemani beberapa cangkir kopi dan sepotong donat di piring masing-masing, beberapa butir air mata, desah kekecewaan, keluh ketidakpastian, tawa sinis sesekali, dan tak menutup kemungkinan muncul teori-teori baru tentang cinta, mencintai, dan ketahanan hidup manusia tanpa pasangan. Haha.
Dulu itu saya ingin menulis, yang bukan di buku harian. Sudah lama juga. Menulis sedikit di Word, dan dari yang sedikit itu beberapa seringkali tidak selesai, nongkrong beberapa waktu di harddisk untuk kemudian dihapus. Dasar gak bisa nulis! Setelah ngeblog, saya mulai menulis lagi hal-hal yang gak penting: yang saya tonton, yang saya dengar, yang saya baca, yang terjadi tadi pagi, yang kamu bilang ke saya, yang saya dengar dari kamu, cerita kamu dengan si dia, dan lain-lain. ‘Kamu’ di sini bisa jadi memang Kamu, bisa juga siapa saja dan ‘dia’ bisa jadi orang yang saya kenal bisa juga tidak. Bahkan mungkin tidak ada ‘kamu’, ‘dia’, atau ‘mereka’ yang sebenarnya. Semuanya bisa jadi adalah saya sendiri, atau bukan siapa-siapa, yang kebetulan melintas di kepala saya. Dan tidak penting untuk ditulis. Lantas, apa sih yang penting itu? The 'penting' is out there, somewhere. Saya kira yang penting adalah mencoba untuk menulis. (hmm..sok bijak nih)
Menulis buat saya penting untuk sarana berpikir, belajar berbahasa dengan tulisan, belajar untuk mengingat, melihat kembali, sekaligus memastikan bahwa saya belum terlalu pikun. Bukankah kita selalu menolak untuk lupa? Saya pernah bilang bahwa saya ngeblog itu cuma 'latah yang terlambat'. Ah, itu cuma becanda aja kok. Yang sebenarnya sih gak gitu. Saya ingin bisa menulis, bukan menulis seperti penulis. Bukan. Saya sadar banget saya tidak berbakat. Saya ingat dulu waktu sekolah, saya paling benci kalau disuruh mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia, karena saya akan butuh waktu lama sekali hanya untuk menemukan kalimat pertama (!). Sangat-sangat tersiksa. Sementara itu, pada saat yang sama, saya terkagum-kagum membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Pada Sebuah Kapal, Robohnya Surau Kami, dan juga Ave Maria karangan Idrus. Dan, setelah era ngeblog di internet saya jadi ingin membunuh 'rasa benci dan tersiksa' saat disuruh menulis pada waktu sekolah dulu itu lewat ngeblog gini. Dan rasa ingin itu baru muncul 2-3 tahun belakangan, makanya saya bilang latah yang terlambat. Berlebihan? Memang saya kadang begini anaknya, hiperbola! ;p
Blogging sudah dimulai bertahun-tahun lalu. Saya ingat di tahun 2000 seorang teman pernah memperlihatkan blognya (waktu itu dia bilangnya apa ya, homepage pribadi? lupa.) yang masih beralamat di Geocities. Menurut ingatan saya isinya hampir sama dengan blog-blog sekarang pada umumnya, ada tulisan-tulisan, foto-foto dirinya. Yah sedikit narsis gitulah. Saya gak tertarik. Dan juga saya beranggapan bikinnya pasti susah. Hehe...Teman saya itu kan suka desain web, jadi saya pikir kita musti belajar desain web serepot dia dulu untuk bisa bikin site pribadi seperti itu. Saat itu belum ada istilah 'blog', 'blogging', 'blogger' deh ya. Lalu ada Blogspot, Multiply, dan lain-lain, yang saya tak mengikuti perkembangannya. Beberapa blogger bahkan menjadi terkenal karena blognya. Dan bahkan ada pertemuan para blogger! Haha.
Beberapa blog memang jadi sering saya kunjungi karena tulisannya yang asyik, ngasih pencerahan, informatif, dan menghibur karena lucu ataupun karena sinismenya. Blog-blog yang pernah saya baca gak sedikit juga yang isinya curhatan. Melulu curhatan bahkan. Hehe..gak papa sih kadang ada yang menarik juga, tentu saja karena dia pandai menulis. Banyak juga yang menjadikan blognya berkonsep. Paling enak memang membaca blog orang yang berbakat nulis dan memang penulis atau jurnalis. Karena menulis apa pun dia akan tetap enak dibaca apalagi kalau temanya kita suka. Eksplorasi bahasa, ide-ide, gaya menulis, dan informasi gabung jadi satu menjadi sesuatu yang inspiratif. Tak heran banyak pembaca setianya.
Pembaca setia seperti saya, menjadikan beberapa blog semacam novel. Saya baca dari awal sampai akhir. Kalau masih aktif di-update, seperti menunggu novel bersambung, beberapa waktu pasti menengoknya kembali apakah sudah ada update terbaru. Hehe. Dan ada sebuah yang jadi favorit, meski waktu saya menemukannya (taun 2007), blog itu sudah tidak di-update. Saya menemukan banyak referensi tentang film di sana, selain juga bahasa yang sangat apik, cerdas, lucu, menyentuh di sana-sini, dan seperti melalui editing yang tanpa cela. Setelah membacanya kadang jadi bikin saya browsing atau berburu DVD ke Ambasador. Beberapa kalimatnya bisa saya ingat berhari-hari. Ajaib. Keren. Ya, penulis blognya tak lama kemudian menjadi penulis favorit saya.
Seandainya saya tau dia menulis novel atau membuat film, saya pagi-pagi sekali sudah akan ada di toko buku untuk membeli satu copy-nya atau menonton filmnya di hari pertama di bioskop (one day ya, Bud?). Meminjam istilah si Bung untuk berbagai hal yang istimewa, menemukan blog ini "kayak nemuin surga!". Saya jadi pengen ngeblog, tapi gak tau gimana caranya dan mau diisi apa nanti. Dan akhirnya memulainya juga sekitar satu setengah tahun atau dua tahun lalu (?). Yah, apalagi kalau bukan karena saya ini gaptek dan kuper, plus agak malas. Dorongan kuat juga disumbang oleh rilisnya blog seorang teman yang waktu itu baru saja ninggalin kami untuk sebuah karir di tempat lain. Pesan pendek yang dia kirim untuk memberitahu alamat blognya seolah bilang ke saya, "yuk, nulis yuk!". Demikianlah akhirnya ada kotakotaimajiner ini.
Kota-Kota Imajiner atau Invisible Cities sejatinya adalah sebuah buku karangan Italo Calvino. Saya melihatnya di rak sebuah toko buku dan tertarik dengan cover bukunya yang berwarna merah marun dan judul yang menarik. Dan hei, Italo Calvino, saya pernah baca nama ini. Ya, di blog favorit saya itu! Langsung saya beli dengan mendapat diskon 25% karena 100 judul buku pertama yang terjual di toko buku itu berhak atas diskon istimewa. Lalu, sayangnya, buku ini mengalami nasib yang sama dengan beberapa buku lain yang tidak selesai saya baca. Mungkin saya tidak terlahir untuk membaca buku-buku seperti ini, seperti buku Mimpi-mimpi Einstein dan beberapa yang lain. Ada rasa berdosa setiap kali ini terjadi. Pengennya sih ada yang baca duluan dan cerita dengan sangat menarik dan membuat saya pengen kembali menyentuhnya dan berhasil menamatkannya. Hehe...apa mungkin? Mungkin sekali. Sedikit cerita, ini pernah terjadi dengan novel Haruki Murakami yang judulnya Dengarlah Nyanyian Angin, saya sudah membelinya berbulan lalu dan tidak pernah beranjak dari halaman kedua setiap kali menyentuhnya. Sampai suatu kali saya membaca reviewnya di sini dan akhirnya buku itu selesai saya baca. Oh saya berterima kasih sekali pada reviewernya. Review yang dia tulis spoiler, tapi membuat saya tertarik untuk baca ulang. Untunglah saya lupa semua yang dia tulis waktu saya mulai membaca lagi novel itu. :)
Oya, tadinya saya sign in ke sini mau nulis tentang hal lain, tapi jadinya malah nerusin postingan yang sudah ada di draft. Sulit ternyata untuk konsisten setiap minggu meluangkan waktu untuk duduk, mengingat, lalu menulis. Sulit. But. "Well, I try", seperti kata Celine. ^_^
No comments:
Post a Comment