hampir setiap tahun, saat menjelang lebaran, saya selalu berandai-andai alangkah senangnya jika setelah habis ramadhan tidak usah ada lebaran. sejak saya kecil sampai usia dewasa sekarang, acara di hari lebaran selalu sama. berkunjung ke rumah-rumah kerabat yang dituakan dalam keluarga kami. dulu, waktu kami masih muat naik motor berempat, kami berangkat pagi jam 9 dan sampai lagi di rumah jam 9 atau jam 10 malam. kunjungan pertama ke pulo raya, kunjungan terakhir ke kompleks arafat. benar-benar seharian penuh. waktu kecil dulu, saya sempat mikir, apakah ritual ini akan terus berlangsung sampai aku dewasa nanti, sampai papaku tua?
dan ternyata memang terus berlangsung. walaupun tidak sepadat dulu. kami meniadakan kunjungan ke makam saat lebaran. mendoakan cukup dari rumah. dan menengok makam bisa di hari lain. dalam sepuluh tahun terakhir, seiring dengan meninggalnya para tetua satu per satu, maka jumlah rumah yang harus kami kunjungi pun berkurang. sampai tahun lalu, hanya tinggal dua rumah saja yang kami kunjungi saat lebaran. dan tahun ini tinggal satu rumah. dan syukur--atau petaka?--belum ada mertua yang harus dikunjungi. :)
sebenarnya saya senang dengan ramai orang. ramai celotehan dan cengkrama. karena kita bisa diam dan menikmati suasana. mendengarkan orang tua bercerita, mengamati anak-anak bermain, bertengkar, menangis. atau menyuruh mereka nyanyi, atau membiarkan jari-jari mereka yang kecil menggandeng tangan saya dan menunjukkan sesuatu, memangkunya, menyuapi, saya menikmati semua itu. meski bapak atau ibu mereka kadang kurang menyenangkan. :p berkumpul dengan banyak orang memang selalu ada dua hal, yang menyenangkan dan yang tidak. tapi ritual berkumpul saat lebaran memang tak bisa dihindari.
dulu, membuat kue kering menjelang lebaran juga sempat menjadi ritual lebaran bagi saya bersama tetangga yang juga teman saya di sd. rumahnya di sebelah rumah kami. biasanya kami belanja bahan berdua. lalu di satu hari yang tepat, kami akan memulai semuanya sejak jam 7 pagi. mengocok telur, mencampur bahan-bahan, mencetak adonan, adalah pekerjaan saya. teman saya itu (ari namanya) mengerjakan lanjutannya: mengoleskan kuning telur dan menaburi keju parut lalu memanggangnya di oven. membuat kue itu makan waktu seharian. menjelang maghrib baru selesai. lalu ibu saya pulang dari kantor. beliaulah yang bertugas membagi kue itu menjadi dua bagian yang sama banyak (untuk kami dan untuk ari), lalu memasukkannya ke dalam toples, sehingga ari bisa langsung membawa kuenya pulang. sayangnya, ritual itu terhenti setelah saya bekerja, pergi-pagi-pulang-malam, dan hari sabtu pun tidak libur. dan seingat saya, sejak itu pula saya tak pernah lagi tarawih di mesjid. yah biasa aja sih, saya sadar kok, setiap waktu berlalu selalu saja ada yang tanggal dari hidup kita.
saya dan bapak pernah berkelakar, "seandainya ada fatwa yang mewajibkan muslim untuk berlebaran di rumah masing-masing asik banget ya!" nggak perlu terburu-buru makan ketupat karena mau pergi, nggak perlu kena macet di jalan, kesusahan cari taksi, dan lain-lain. kita tinggal membeli setumpuk dvd sebelum libur lebaran dan menontonnya sepulang sholat id. hehe. atau menonton acara tv kalau memang mau. dulu waktu bagito masih hits, saya pengen banget nonton edisi lebarannya, tapi nggak pernah kesampaian. sampai di jaman extravaganza atau sekarang mungkin ovj, nggak pernah juga nonton.
oh pernah kejadiannya seperti ini: hari pertama lebaran hujan lebat. kami memutuskan tidak jadi pergi. ibu-bapak saya hanya menelpon sana-sini. wah saya senang sekali. bisa berlebaran di rumah, nonton tv, bolak-balik makan, tidur siang. asik banget lah. tapi ternyata seorang nenek saya menelpon ibu, dia terdengar sedih karena sampai siang hari nggak ada yang datang di rumahnya. saya jadi ikut sedih dengernya. dan kami jadi menyesali hujan lebat hari itu. dan lebaran paling enak adalah tahun lalu. karena nenek saya berlebaran di mekah, maka kami berlebaran di rumah. hasilnya, kami sekeluarga malah nonton film 'sang pencerah' di bioskop! kalau filmnya bukan itu, mungkin bapak dan kakak saya belum tentu mau. momen yang jarang banget, dan mungkin sulit untuk terulang lagi. saya senang bukan main.
***
barusan seisi rumah ini (kesannya banyak ya, padahal cuma bertiga) cukup tegang mengikuti sidang penentuan 1 syawal. sidangnya berlangsung alot. mengikuti omongan bapak-bapak itu di tv cukup membuat saya uring-uringan. dan akhirnya setelah sidang di tv selesai, "sidang" di keluarga kami menetapkan kami berlebaran besok. yeay!
selamat lebaran, everyone!
1 comment:
"setiap waktu berlalu selalu saja ada yang tanggal dari hidup kita." --> alangkah betulnya! you gain something, you lose something. dan ritual membuat kue menjelang lebaran itu selalu 'seru', mirip-mirip ngulek bumbu utk bikin opor atau rendang. lama dan membosankan! :)
Post a Comment