Saya sedang berada di suatu tempat saat itu. Menunggu. Dan saya teringat ibu saya. Ibu baik-baik saja dan ada di rumah. Jika ditanyakan pada saya perihal Ibu, yang saya ingat adalah dua hal: doa sebelum tidur dan cerita wayang. Ibu mengajari saya doa mau tidur seperti ini: "niatingsun arep turu, badan turu ati tangi, roh madhep ing Allah, … ". Saya mau tidur, (semoga) raganya tidur tapi ruhnya tetap sadar dan menghadap Tuhan. Jadi kalau ada orang berniat jahat (mungkin maksudnya maling?), kita akan otomatis terbangun. Dibangunin Tuhan gitu, ceritanya. Dalam bayangan saya sekarang, maksud doa itu mungkin biar kita bisa punya kepekaan kayak Jason Bourne. :) Ibu sering bilang, "tidur jam berapa pun, Mama selalu kebangun jam 4 subuh, kayak ada yang bangunin".
Waktu kecil dan masih tidur bareng sama orang tua, layaknya semua anak, saya juga minta diceritain. Kadang tanpa diminta pun mereka cerita apa aja. Kebanyakan sih tentang masa kecil mereka dulu. Dan di antara itu ada juga cerita-cerita wayang, dari ibu saya. Ibu bilang, dulu dia baca komik Mahabharata "setebel bantal". Cerita dari mulai asal-usul Pandawa dan Kurawa, bahwa mereka sepupuan, mereka akhirnya berseteru, ada yang terusir, sampai akhirnya mereka harus berperang, padahal sodaraan. Iya, Bharatayudha: perang saudara sesama bangsa Bharata, itu sama aja kiamat buat mereka. Ibu semangat cerita sampai—mungkin seperti adegan di film atau novel—saya tertidur.
Setelah dewasa saya sudah tidak begitu ingat semua cerita wayang itu. Yang masih saya ingat palingan nama-nama pandawa itu siapa-siapa aja, dan beberapa nama-nama tokoh lainnya. Selebihnya ya dari bacaan yang tersebar di mana pun yang memuat metafor tokoh-tokoh wayang: Yudhistira untuk kejujuran, Bisma untuk kesetiaan pada janji, Arjuna untuk ketampanan, Sengkuni untuk kelicikan, dan lain-lain. Ceritanya sih lupa-lupa-inget. Ingetnya cuma sepenggal-sepenggal, banyakan lupanya. Pernah pengen baca komiknya yang diterbitkan Elex Media tapi ngerasa berjarak aja liat komik itu, udah gitu males nunggu tiap minggu untuk tau lanjutannya. Saya nyerah. Tapi dalam hati saya bilang, suatu saat mungkin ada novel Mahabharata yang bisa saya selesaikan untuk memperbaharui ingatan soal cerita-cerita wayang yang dulu diceritakan ibu saya. Novel yang mudah tentang Mahabharata bagi saya adalah Istana Khayalan (terjemahan dari
Divakaruni bercerita dari sudut pandang salah satu tokoh penting Mahabharata, yaitu Drupadi. Drupadi adalah permaisuri dan istri dari kelima pandawa. Saya ceritain yang saya baca ini ke ibu saya, dan Ibu malah heran waktu saya bilang Drupadi itu istri kelima-limanya pandawa. Sedangkan wayang Jawa menganggap Drupadi itu permaisuri Yudhistira seorang. Ini mungkin karena pengaruh Islam pada wayang Jawa? Pernah mendengar paparan soal ini, tapi gak ingat persisnya bagaimana bentuk-bentuk pengaruh itu diterapkan. Kapan-kapan kalo lagi mood, pengen baca-baca ini sih.
Yang saya suka dari buku ini, dia benar-benar menjadikan Drupadi itu manusia biasa. Walaupun gambaran awalnya Drupadi terlahir dari api, tapi sepanjang cerita, Drupadi itu manusia banget. Sejak kecil dia merasa tidak diinginkan. Ayahnya lebih menyukai anak laki-laki untuk penerus tahta. Dia kecewa tidak boleh ikut pendidikan seperti abangnya. Tapi dia sangat bersyukur bahwa kelak dia diberi hak khusus untuk memilih suami. Ini berarti keluar dari kebiasaan perempuan di zamannya, dimana perempuan itu dipilih, bukan memilih. Dia dipersilahkan melihat-lihat lukisan para ksatria untuk calon suaminya. Diceritakan juga bagaimana dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Karna, yang dia lihat pertama kali, ya dari lukisan! Tapi sayangnya, Karna tidak termasuk laki-laki yang diajukan keluarganya untuk dipilih sebagai suami di antara lukisan-lukisan para ksatria yang diperlihatkan padanya itu. Semua tau, Karna anak
Novel ini juga menjawab pertanyaan atau mungkin rasa penasaran bagi siapa yang merasa aneh dengan perempuan yang bersuamikan 5 orang sekaligus. Saya malah jadi menganggap ini jadi sisi hiburannya. Karena sebelumnya juga gak pernah mikirin gimana Drupadi bakal mengatasi
Drupadi digambarkan sangat cerdas (dia menjadi penasehat suaminya untuk urusan diplomatik), parasnya membuat perempuan lain merasa rendah diri, berkharisma, dan berkulit hitam. Ini saya suka, seperti ingin melawan kampanye iklan produk kosmetik bahwa “cantik itu…putih”. Saya gak tau Divakaruni sengaja atau tidak dengan paparannya tentang Drupadi yang bagaikan perempuan sangat ideal dengan selera yang tidak kebanyakan ini. Soal kulitnya yang berwarna hitam, beberapa versi memang menyebutnya demikian.
Dengan kualifikasi di atas angin, Drupadi toh tetap tidak bisa mendapatkan semua yang dia mau. Cintanya tidak kesampaian karena adat yang mengungkung soal kasta, juga keangkuhan. Selama hidupnya dia mencintai Karna dan Karna pun mencintai dia (kalau ragu, cek lagi ya, saya bukannya males, tapi bukunya lagi dibawa Nenek). Dan keangkuhan masing-masing membuat mereka semakin menderita. Bener-bener deh, ini cerita jadi kekinian banget di tangan Divakaruni. Jadi terasa deket sama kita (oke, saya!) yang terbiasa dengan sinetron dan FTV.
Karena buku ini pula lah saya jadi berempati pada Karna. Bukan, bukan disebabkan dia tokoh utama dari kisah cinta sejati (uhuk!) Drupadi-Karna, tapi—karena saya juga gak nonton serial Mahabharata di TPI—dari buku inilah saya menghayati kepedihan tokoh Karna dan tragedi Bharatayudha sebagaimana yang diungkapkan GM di Catatan Pinggir berjudul Kayon. Dulu baca Kayon di kereta bareng Risna dan sepanjang jalan sampai turun di Depok, Risna nyeritain Mahabharata dengan beberapa dialog yang rinci dan dia menjawab semua pertanyaan bodoh saya di sela-selanya. Saya terkesima.
——
Saya mikirin semua yang saya tulis di atas sambil berharap-harap cemas apakah bakal ada tiket yang batal supaya saya bisa menonton langsung Karna: Empat Monolog. Dan saya beruntung malam itu.
No comments:
Post a Comment